Langsung ke konten utama

Ketika Batu Nisan Menjadi Penjaga Ingatan

Di balik kesunyian Taman Pekuburan Tua Kamasi, tersimpan lapisan-lapisan sejarah yang lebih tua dari kota itu sendiri.

📖 DAFTAR ISI

    ‎‎Taman Pekuburan Tua Kamasi

    Pemandangan area pekuburan di lereng bukit dengan dinding batu besar di bagian depan yang menampilkan kutipan ayat Alkitab Roma 14:8 dalam tulisan merah besar berbunyi: "SEBAB JIKA KITA HIDUP, KITA HIDUP UNTUK TUHAN, DAN JIKA KITA MATI, KITA MATI UNTUK TUHAN. JADI BAIK HIDUP ATAU MATI, KITA ADALAH MILIK TUHAN." Di latar belakang tampak makam-makam bergaya rumah kecil, pepohonan hijau, dan tiang listrik.
    Menemukan makna hidup dan keabadian lewat untaian kalimat di dinding Pekuburan Kamasi. Sebuah pesan mendalam yang mengingatkan kita ke mana sejatinya tempat kita berserah, baik dalam kehidupan maupun setelahnya. (gambar ini telah dilakukan rekayasa berkolaborasi dengan AI)

    Ada tempat-tempat yang tampak biasa dari kejauhan, tetapi menyimpan dunia yang berbeda ketika kita mendekat. Taman Pekuburan Tua Kamasi adalah salah satunya. Terletak di jantung Kota Tomohon, kawasan sunyi ini menyimpan napas sejarah yang lebih panjang dari usia kota itu sendiri—sebuah paradoks yang hanya bisa dipahami ketika kita bersedia berdiri diam di antara batu-batu tua dan membiarkan tempat itu berbicara.

    Sejarah berbisik dari balik nisan. Di Kamasi, bisikan itu bukan sekadar cerita. Ia adalah jejak para leluhur yang membangun Tomohon dari tanah, keringat, dan doa.

    "Batu-batu nisan tua itu seperti halaman buku yang mengajarkan tentang kepemimpinan dalam keteduhan."

    Bukan sembarang pekuburan

    Dari namanya saja kita tahu ini bukan sembarang tanah perkuburan. Di sinilah para mantan Hukum Tua—pemimpin-pemimpin kampung yang dahulu memerintah dengan cara sederhana namun penuh wibawa—menemukan peristirahatan terakhir mereka. Selain tokoh-tokoh itu, warga biasa Kamasi generasi demi generasi juga dimakamkan di sini, menjadikan kompleks ini semacam buku besar komunitas: siapa yang pernah ada, siapa yang pernah memimpin, siapa yang pernah mewarnai kehidupan kampung.

    Menariknya, kompleks ini bukan milik satu kelurahan saja. Warga Paslaten pun turut dimakamkan di sini—sebuah petunjuk bahwa batas administratif tidak selalu mencerminkan batas komunitas yang sesungguhnya. Kamasi, dengan lahan pemakamannya yang luas, sejak dahulu berfungsi sebagai "rumah terakhir bersama" bagi beberapa lingkungan sekitarnya.

    Di sebelah barat terdapat pekuburan Kolongan. Dan pernah ada pula, di sudut yang kini mungkin telah terlupakan, sebuah pekuburan yang dikhususkan bagi mereka yang tidak dikenal—nisan-nisan tanpa nama, yang justru menyimpan pertanyaan terbesar: siapakah mereka?

    Jejak Tionghoa di Kamasi Lewet

    Sejak lama, di Kamasi terdapat Kubur Cina di kawasan yang kini dikenal sebagai Kamasi 1—atau yang dahulu disebut Kamasi Lewet. Keberadaan pemakaman komunitas Tionghoa ini bukan sekadar catatan pinggiran. Ia adalah bukti bahwa pertemuan budaya di Minahasa telah berlangsung jauh sebelum narasi multikulturalisme menjadi tren. Komunitas Tionghoa berakar, hidup, dan mewariskan jejaknya di Kamasi—dan kuburan itu adalah saksi diam yang paling jujur.

    Asal-usul Kamasi Lewet

    Kamasi Lewet—atau dahulu disebut Kampung Baru Lewet—pertama kali dihuni oleh seorang perempuan bernama Iyang Welan Pondaag. Dari satu rumah, menjadi perkampungan. Dari satu tokoh, menjadi komunitas. Dari satu jejak, menjadi sejarah. Kisah sederhana yang di baliknya menyimpan keberanian seorang perempuan membuka tanah baru—sebuah narasi yang sering luput dari catatan resmi.

    Waruga: GPS Leluhur yang Diam Namun Akurat

    Makam-makam kuno di Minahasa—termasuk di Kamasi—bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir. Bagi para arkeolog dan sejarawan lokal, waruga-waruga itu adalah "petunjuk arah": menjelaskan dari mana orang datang, ke mana mereka berpindah, dan bagaimana identitas budaya terbentuk di tengah perpindahan itu. Setiap waruga adalah kapsel waktu yang menyimpan informasi tentang posisi sosial, kepercayaan, dan jaringan komunitas pemiliknya.

    Kamasi sendiri adalah negeri tua yang sudah tercatat sejak era Distrik Tomohon. Menurut para sejarawan, pemukiman awalnya berada di Nimawanua—kini bagian dari Kelurahan Kolongan—di sebelah selatan RSU Gunung Maria. Di sanalah waruga-waruga leluhur Kamasi berdiri, seolah menunggu untuk diceritakan kembali kepada generasi yang terlalu sibuk untuk menoleh ke belakang.

    "Sejarah Kamasi bukan sejarah yang diam. Ia bergerak, berpindah, menyesuaikan diri—seperti sifat masyarakat Minahasa itu sendiri."

    Perpindahan yang bukan karena lelah

    Dari Nimawanua, masyarakat konon berpindah ke wilayah yang disebut Ranoperet—sebuah kawasan yang berbatasan dengan Istambak, Sungai Ranowangko, Pinati, hingga Pulutan di utara. Perjalanan itu mencerminkan karakter khas masyarakat Minahasa: berpindah bukan karena lelah atau terusir, melainkan karena menjaga kehidupan. Mencari tanah yang lebih subur, sumber air yang lebih dekat, atau posisi yang lebih aman—keputusan-keputusan kecil yang pada akhirnya membentuk peta permukiman yang kita warisi hari ini.

    Kisah perpindahan itu tidak berhenti di Ranoperet. Dari Nimawanua, pemukiman menyebar seperti dahan pohon yang mencari cahaya: sebagian ke Kamasi seperti yang kita kenal sekarang, sebagian mendirikan Walian, sebagian lagi membentuk Pangolombian. Bercabang, tapi tetap berakar pada tanah yang sama. Komunitas-komunitas ini tumbuh dengan identitas masing-masing, namun benang leluhurnya bermuara ke satu titik yang sama: Nimawanua, tempat waruga-waruga tua itu masih berdiri.

    Ruang Kontemplasi, Bukan Sekadar Tempat Sunyi

    Kini, Taman Pekuburan Tua Kamasi bukan sekadar tempat berduka atau berziarah. Bagi siapa saja yang datang dengan pikiran terbuka, ia adalah ruang kontemplasi—tempat di mana dua waktu bertemu: masa lalu yang terukir di batu, dan masa kini yang berdiri di atasnya.

    Setiap nisan adalah fragmen puzzle. Jika disatukan, mereka menceritakan bagaimana sebuah komunitas bertahan, tumbuh, dan berubah. Bagaimana seorang Hukum Tua memimpin dengan cara yang tidak perlu keras untuk berwibawa. Bagaimana seorang perempuan bernama Iyang Welan Pondaag membuka tanah baru sendirian. Bagaimana komunitas Tionghoa menemukan tempatnya di antara masyarakat Minahasa. Bagaimana orang-orang tanpa nama pun mendapat tempat istirahat.

    Kota yang kita tinggali hari ini dibentuk oleh keberanian, doa, dan keputusan-keputusan kecil yang diambil oleh mereka yang namanya—sebagian besar—sudah terukir di batu tua itu. Di sanalah kita belajar pelajaran yang paling sederhana sekaligus paling berat: sejarah bukan cerita yang lewat. Ia adalah warisan yang harus dijaga. ***

    PENULIS

    Foto Donny Turang

    Donny Turang

    Jurnalis Utama bersertifikat Dewan Pers/AJI Indonesia. Menulis cerita yang layak untuk diceritakan.

    Komentar