Langsung ke konten utama

Pabrik Batu di Dalam Jurang

Adrianus Kojongian berdiri di tepi Pinati, memandang ke bawah. Di sana, dua puluh waruga masih menunggu—sejak ratusan tahun lalu.

📖 DAFTAR ISI

    Tanah di Pinati basah sepanjang tahun.

    Bukan karena hujan semata. Ada mata air di sini—dingin, jernih, muncul dari sela-sela batu seperti napas bumi yang tak pernah berhenti. Warga Kamasi, dan warga Tomohon umumnya menyebutnya apela. Tanah domato. Tanah yang selalu lembab, selalu dingin di telapak kaki, selalu berbau humus tua yang pekat seperti kayu lapuk bercampur tanah merah.

    Di bawah tebing ini, tersembunyi dari jalan dan dari ingatan kebanyakan orang Tomohon, sekitar dua puluh waruga masih berdiri. Atau tepatnya—tertinggal. Mereka tidak berhasil naik.

    Waruga Supit setelah dipugar 1929. (Sumber foto: adrianuskojongian.blogspot.com)
    Waruga Supit setelah dipugar 1929. (Sumber foto: adrianuskojongian.blogspot.com)

    Adrianus Kojongian, sejarawan yang sudah puluhan tahun menapaki lembah-lembah dan kampung tua Sulawesi Utara, mengenal tempat ini seperti mengenal halaman rumahnya sendiri. Ia tinggal di Lingkungan 5 Kelurahan Kamasi, Kecamatan Tomohon Tengah—tak jauh dari sini. Tapi jarak fisik yang dekat itu tidak membuat Pinati mudah terjangkau. Untuk sampai ke dasar jurang, orang harus menuruni jalan licin, penuh akar dan lumut. Setiap langkah ke bawah terasa seperti langkah mundur ke zaman yang berbeda.

    "Sulit dibayangkan," kata Ads—begitu orang-orang memanggilnya—sambil menatap ke bawah, "bagaimana batu-batu sebesar itu bisa mereka bawa naik."

    Pabrik yang Tak Ada di Peta

    Waruga bukan sekadar batu nisan. Bukan juga sekadar kubur.

    Waruga adalah pernyataan. Kuburan batu berbentuk persegi dengan penutup berbentuk prisma segitiga ini dibuat dari batuan vulkanik—bahan yang melimpah di tanah Minahasa yang duduk di punggung gunung berapi. Ukurannya bervariasi, tapi selalu besar. Beratnya bisa mencapai beberapa ton. Di dalamnya, jenazah dikuburkan dalam posisi janin—lutut dilipat ke dada, tubuh meringkuk seperti sedang kembali ke awal.

    Tapi sebelum jadi kubur, waruga harus lahir dulu. Dan tempat kelahirannya bukan di desa, bukan di dekat rumah si pemesan, bukan di pinggir jalan yang mudah dijangkau gerobak.

    Tempat kelahiran waruga ada di dalam jurang.

    Di Tomohon, menurut Ads, setidaknya ada empat "pabrik" waruga yang diketahui lokasinya. Pinati, di Kelurahan Kamasi, untuk penduduk wilayah tengah. Kimoog, di selatan Kelurahan Wailan, Kecamatan Tomohon Utara, untuk wilayah Kakaskasen. Tatahaan, untuk penduduk Katinggolan—kampung tua yang kini dikenal sebagai Woloan, Kecamatan Tomohon Barat. Dan Apela, di bekas wilayah Sarongsong, kini masuk Kecamatan Tomohon Selatan.

    Keempatnya tersembunyi. Keempatnya berada di kedalaman. Dan keempatnya dekat dengan ibukota lama masing-masing wilayah—tidak jauh, tapi tidak mudah.

    "Lokasi-lokasi 'pabrik' waruga tidak berjauhan dengan bekas ibukota lama wilayah-wilayah itu," kata Ads.

    Kapak dari Batu, Otot dari Manusia

    Di Pinati, bayangkan suasananya ratusan tahun lalu.

    Bunyi pertama yang terdengar adalah besi—bukan, bukan besi. Batu. Pati. Kapak dari batu yang dalam bahasa Tombulu disebut pati atau tamako. Suaranya lebih tumpul dari besi, lebih dalam, seperti pukulan pada kayu keras yang bergema ke dinding jurang. Tok. Tok. Tok. Berulang. Tanpa henti. Seharian.

    Para pengrajin waruga—kita tidak tahu nama mereka, tidak ada yang mencatatnya—duduk di atas batu-batu besar yang belum berbentuk dan mulai memukul. Mereka mengikis, meratakan, membentuk. Tidak ada gurinda. Tidak ada alat ukur logam. Hanya kapak batu, tangan yang kuat, dan mata yang terlatih membaca proporsi lewat pengalaman yang diturunkan.

    Debu batu berterbangan. Menempel di kulit, masuk ke hidung, hinggap di bibir dengan rasa mineral yang pahit dan dingin. Keringat mengalir di punggung, bercampur debu abu-abu muda dari batuan vulkanik yang masih segar. Di bawah tebing, udara lembab terperangkap—sehingga keringat tidak cepat kering, dan bau tubuh manusia bercampur bau tanah basah menjadi satu aroma yang khas, aroma kerja keras yang tidak kenal jam.

    Waruga dibuat dalam dua bagian: badan dan penutup. Keduanya berat luar biasa.

    Dan keduanya harus naik.

    Naik dari Kedalaman

    Inilah bagian yang paling membuat Ads diam sejenak setiap kali menceritakannya.

    Dari dasar jurang Pinati, ke permukaan tanah tempat si mendiang akan dikuburkan, jaraknya bukan sekadar vertikal. Medannya terjal. Berbatu. Licin saat hujan. Di musim kering pun, akar-akar pohon melintang seperti jebakan di setiap tapak kaki.

    Dan waruga harus melewati semua itu.

    Tanpa katrol. Tanpa alat-alat canggih. Hanya tangan, punggung, dan lutut yang gemetar menahan beban. Ads menyebutnya dengan nada yang nyaris tidak percaya, padahal ia sendiri sudah puluhan tahun mempelajari ini. 

    "Ketika membawa waruga tersebut, rata-rata mereka tidak menggunakan alat bantu. Hanya menggunakan otot dan kekekaran tubuh semata." kisah Ads. 

    Bayangkan itu sejenak. Puluhan laki-laki—mungkin lebih—mencengkeram pinggiran batu yang kasar dengan telapak tangan yang sudah kapalan. Mereka mendongak ke atas, ke tangga batu yang licin. Seseorang memberi aba-aba. Dan mereka mulai bergerak—bersama, satu langkah, satu hembusan napas kolektif yang berat seperti geraman hewan besar.

    Batu itu tidak peduli usaha mereka. Ia hanya berat, selalu berat, setiap sentimeter ke atas adalah pertarungan antara kehendak manusia dan gravitasi bumi.

    Di bekas aktivitas purba yang pernah mereka gunakan, Ads menunjuk bekas-bekas yang masih terlihat di Pinati. Lekukan di batu. Tepian yang dipahat sedikit lebih landai. Sisa-sisa upaya yang tidak pernah dicatat dalam buku sejarah mana pun, tapi terukir dalam bentang alam itu sendiri.

    Yang Tertinggal

    Dua puluh waruga di Pinati tidak pernah sampai ke tujuan.

    Mereka masih di sini, di dalam jurang, tertutup lumut dan naungan pohon. Beberapa sudah miring. Beberapa terbenam sebagian ke dalam tanah yang terus bergerak perlahan selama berabad-abad. Tapi bentuk dasarnya masih ada—persegi, kokoh, membisu.

    Kenapa mereka ditinggalkan? Ads punya dua kemungkinan.

    Pertama: terlalu sulit. Mungkin waruga-waruga ini dipesan untuk "orang besar" Tomohon—para pemimpin, para tonaas—sehingga ukurannya lebih besar dari biasa. Lebih besar berarti lebih berat. Lebih berat berarti lebih banyak tenaga, lebih banyak waktu, lebih banyak biaya. Dan di titik tertentu, mungkin ada yang memutuskan: tidak sanggup.

    Kedua: sejarah sudah bergerak mendahului mereka.

    Pemerintah kolonial Belanda, di suatu masa, mulai menganjurkan—atau mewajibkan—penggunaan peti mati. Penguburan dengan waruga mulai ditinggalkan, satu per satu, desa per desa. Kepala Wilayah Tomohon terakhir yang menggunakan waruga adalah Mayor Ngantung Palar, meninggal tahun 1853. Penerusnya, Lukas Wenas, sudah dikuburkan dengan peti biasa. Demikian pula Kepala Balak Sarongsong, Mayoor Herman Carl Waworuntu, dan anaknya Zacharias Waworuntu.

    Tradisi itu padam dalam satu generasi. Dan waruga-waruga di Pinati—yang sudah dipahat, sudah selesai atau hampir selesai—tidak lagi ada yang menunggu.

    Nama yang Tersisa

    Dari semua waruga yang pernah ada di Tomohon, hanya dua yang masih mencatat nama si meninggal.

    Yang pertama ada di bekas Kota Tua Tombariri, Katinggolan, kini wilayah Kelurahan Woloan I Utara, Kecamatan Tomohon Barat. Yang kedua—dan ini yang paling tua—adalah waruga Pacat Supit Sahiri Macex, bekas Hoofd Hoecums Majoor Kepala dan Kepala Balak Tombariri. Waruganya dipindahkan pada tahun 1845 dan kini berdiri di depan gedung GMIM Eben Haezar Woloan II.

    Tulisannya masih bisa dibaca, meski sudah dipahat ratusan tahun lalu di batu yang sama kerasnya dengan waktu:

    Coubur:Der:HocomMajo:r:Soupit:Ter:D:B:M:S:1738

    "Tulisan di waruga Supit ini merupakan prasasti paling tua yang pernah ada di Tanah Minahasa saat ini," kata Ads.

    Tiga ratus tahun kurang sedikit. Saat itu Tomohon belum berbentuk seperti sekarang. Belum ada aspal, belum ada kendaraan bermotor, belum ada listrik. Tapi sudah ada seseorang yang cukup penting untuk diabadikan dalam batu. Seseorang yang namanya kini terukir dalam prasasti tertua Minahasa.

    Asal Nama, Asal Cerita

    Pinati. Nama itu bukan sembarang nama.

    Ads menawarkan beberapa versi, semuanya menarik, semuanya layak dipercaya dengan cara masing-masing.

    Versi pertama: dari kata pati, kapak batu dalam bahasa Tombulu. Tempat waruga dibuat dengan cara "pi na pati maan"—hanya menggunakan kapak. Pinati adalah tempat sang kapak bekerja.

    Versi kedua: pati berarti dingin seperti mata kapak. Mata air di Pinati memang dingin luar biasa—dingin yang menusuk jari begitu tangan dicelupkan, dingin yang membuat napas terkesiap di musim kemarau sekalipun.

    "Sebab mata air di tempat itu sangat dingin," kata Ads, tersenyum tipis.

    Versi ketiga, paling panjang dan paling puitis: Pinati terhubung dengan kisah berdirinya nama Kakaskasen. Seorang tonaas bernama Makiohloz sedang menebang pohon di hutan Kakaskasen yang masih lebat. Mata kapaknya lepas, jatuh, hilang. Ia mencari, menggaruk-garuk tanah—dan dari garukan itu muncul mata air. Tempat itu kemudian disebut Kinaskas, dari kata "digaruk". Dan mata kapak yang jatuh itu, kata dongeng, mendarat di tempat yang kemudian disebut Pinati—di Kamasi, sebelah selatan Kakaskasen.

    Sebuah kapak. Sebuah air. Sebuah nama.

    Dari sana, dari kedalaman jurang yang lembab dan dingin itu, lahirlah kuburan-kuburan batu yang kini kita sebut warisan budaya.

    Adrianus Kojongian pernah menulis di koran. Kini ia bertani. Di antara keduanya—dan mungkin justru karena keduanya—ia sedang merampungkan sebuah buku sejarah tentang tanah yang ia injak setiap hari.

    PENULIS

    Donny Turang

    Jurnalis Utama bersertifikat Dewan Pers/AJI Indonesia. Menulis cerita yang layak untuk diceritakan.

    Komentar

    POPULER

    Waspada El Niño 2026–2027

    Tomohon Berpotensi Alami Tahun Terpanas dan Kekeringan Ekstrem

    Jalan Makmur yang Tak Lagi Makmur

    Sore itu hujan mengguyur deras tiba-tiba—datang tanpa permisi. Saya memarkir motor buru-buru, lalu berlari ke emperan toko terdekat. Di sebelah saya sudah ada seekor anjing kampung yang tampaknya sudah lebih lama tinggal di sana daripada pemilik tokonya. Ia melirik saya sebentar—ekspresi mukanya seperti berkata, sudah lama, Bos?—lalu memejamkan mata lagi dengan tenang dan bermartabat, sebagaimana makhluk yang tidak punya cicilan motor dan tidak takut kena PHK. Yang Tertinggal di Jalan yang Tidak Lagi Ramai

    ‎Dinding Sunyi yang Menyimpan Cita-Cita

    ‎‎Kabut masih menggantung di lereng Lokon. Udara pagi Tomohon menggigit lembut. Ya, di bawah teduh Gunung Lokon, terdapat sebuah kompleks bangunan tua dengan dinding batu yang menyimpan ribuan kisah: Seminari Menengah St. Fransiskus Xaverius Kakaskasen. ‎Ini bukan sekadar sekolah, melainkan habitat tempat anak-anak muda perlahan diukir menjadi pribadi yang matang, siap menjadi gembala.

    Mimpi Menjadi Koruptor

    (sebuah novel)

    Orang-Orang yang Tak Terlihat

    (sebuah novel)

    Untuk Siapa Berita Ditulis?

    Sore itu kopi terasa sedikit lebih pahit dari biasanya. Mungkin karena gula yang lupa ditambahkan—memang tidak pakai gula. Atau mungkin karena topik yang kami pilih memang tidak pernah benar-benar manis. “ Berita ini sebenarnya penting untuk siapa ?” Kawan saya melontarkannya begitu saja, seperti orang yang bertanya, “ Wi-Fi di sini password-nya apa ?”—ringan, tanpa beban. Tapi saya tahu, itu bukan pertanyaan ringan. Itu seperti membuka pintu lemari lama yang penuh dengan hal-hal yang sengaja disimpan rapi supaya tidak perlu dipikirkan setiap hari. Percakapan soal berita, media digital, dan hal-hal yang membuat profesi wartawan kadang terasa seperti pekerjaan yang paling mulia sekaligus paling melelahkan. (gambar hanya ilustrasi yang dibuat AI)

    Redaksi Tanpa Awak

     Menjaga Nalar Jurnalistik di Era Algoritma Suatu waktu di sebuah portal berita lokal seorang jurnalis muda berkata santai. " Bos, beritanya sudah dibuat ChatGPT, tinggal kita edit ." Saat itulah pertanyaan besar muncul: siapa sebenarnya yang menulis berita ini? Siapa yang bertanggung jawab kalau ada fakta yang keliru? Di mana letak jiwa jurnalisme jika tangan manusia hanya berfungsi sebagai pemeriksa ejaan? Buku Redaksi Tanpa Awak, sudah tersedia di Google Play Books dan Draft2Digital

    Tomohon di Persimpangan

     Di Tomohon, bunga memang selalu tepat waktu mekar. Anggaran, sayangnya, punya kebiasaan sendiri: sering telat, kadang malah menyusut. Tahun 2026 jadi pelajaran berharga bagi Kota Bunga: keindahan sejati bukan lahir dari pesta gemerlap semata, melainkan dari ketepatan mengambil keputusan ketika dompet daerah sudah agak kurus.

    Tomohon: Dulu, Kini dan Nanti

      Usia 23 tahun biasanya seseorang mulai merasa dewasa, tapi masih suka galau saat ditanya: Tomohon pun begitu. Kota ini sejak berotonom berupaya untuk tampil rapih, berdandan bunga tersenyum di panggung festival—namun diam-diam sering bingung membedakan mana prioritas, dan mana sekadar hobi anggaran.