Langsung ke konten utama

Politik yang Dimengerti Rakyat Hanya Ada di Dapur

Politik bukan sekadar pidato dan angka di atas kertas. Bagi rakyat kecil, politik adalah harga kebutuhan, upah, pendidikan, dan harapan hidup yang lebih baik. MBG dan KDMP menjadi harapan jika benar-benar memberi manfaat.

Ilustrasi ibu memasak bersama anak di dapur sederhana dengan tema MBG dan KDMP
Politik baru berarti bagi rakyat ketika kebijakan seperti MBG dan KDMP benar-benar menghadirkan manfaat di dapur dan kehidupan sehari-hari. Gambar hanya ilustrasi yang dibuat berkolaborasi dengan AI.

📖 DAFTAR ISI

    Di sebuah rumah sederhana, seorang ibu, duduk di depan kompor. Apinya kadang menyala, kadang mengecil, kadang bahkan tidak menyala sama sekali. Bukan karena kompor rusak, melainkan karena isi tabung gas melon harus disesuaikan dengan isi dompet.

    Ia tidak pernah mendengar istilah geopolitik

    Hilirisasi bukan bagian dari kosakatanya sehari-hari. Transformasi ekonomi, pertumbuhan inklusif, investasi strategis, dan berbagai istilah keren yang sering menghiasi pidato pejabat mungkin terdengar hebat di ruang konferensi, tetapi terasa sangat jauh dari dapur tempat ia berdiri berjam-jam setiap hari.

    Di rumah lainnya, seorang bapak paruh baya duduk di teras. Ia buruh serabutan. Hari ini bekerja, besok belum tentu. Ia juga tidak tahu apa itu geopolitik. Tidak paham bagaimana perang dagang antarnegara bisa memengaruhi harga komoditas. Tidak mengerti bagaimana kebijakan moneter bekerja.

    Yang ia tahu jauh lebih sederhana.

    Apakah upah hari ini cukup untuk membeli beras besok?

    Apakah uang yang tersisa masih cukup untuk membeli minyak goreng, telur, ikan, dan membayar ongkos pergi bekerja?

    Apakah uang sekolah anak sudah harus dibayar?

    Dan kalau semuanya tidak cukup, kepada siapa ia harus berutang?

    Begitulah sesungguhnya sebagian besar rakyat mengenal politik.

    Bukan melalui istilah-istilah rumit. Bukan melalui pidato panjang. Bukan pula melalui tepuk tangan yang menggema di gedung-gedung pertemuan.

    Politik bagi mereka hadir dalam bentuk yang sangat konkret: harga beras, harga telur, harga minyak goreng, harga cabai, tarif angkutan, biaya sekolah, harga obat, tagihan listrik, ongkos kontrakan, harga bahan bakar, dan upah yang sering kali bergerak jauh lebih lambat daripada biaya hidup.

    Di situlah politik menjadi nyata.

    Di dapur.

    Politik Berawal dari Sepiring Nasi

    Bagi ibu itu, politik bukan sesuatu yang jauh. 

    Politik adalah ketika ia berdiri di depan kompor sambil menghitung berapa hari lagi uang belanja akan bertahan.

    Politik adalah ketika ia memilih antara membeli telur atau menyimpan uang untuk membayar kebutuhan sekolah anak.

    Politik adalah ketika harga kebutuhan pokok naik beberapa ribu rupiah. Bagi sebagian orang, selisih itu mungkin tidak berarti apa-apa. Tetapi bagi keluarga yang pendapatannya pas-pasan, kenaikan kecil yang terjadi berulang kali dapat berubah menjadi lubang besar dalam anggaran rumah tangga.

    Begitu pula bagi bapak paruh baya di teras.

    Ia mungkin tidak pernah membaca dokumen APBN. Ia tidak tahu berapa besar pertumbuhan ekonomi nasional. Ia tidak mengikuti perdebatan tentang defisit fiskal. Bahkan mungkin ia tidak tahu siapa yang merancang sebuah kebijakan ekonomi.

    Namun, ia tahu persis ketika pekerjaannya semakin sulit didapat.

    Ia tahu ketika upahnya tidak lagi mampu mengejar kebutuhan.

    Ia tahu ketika warung tempatnya biasa berutang mulai berkata, "Nanti dulu, Pak. Yang kemarin belum lunas."

    Itulah ukuran ekonomi yang sesungguhnya bagi rakyat kecil.

    Bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan kemampuan sebuah keluarga untuk melewati satu bulan tanpa harus mengurangi makan, menambah utang, atau menjual sesuatu yang sebenarnya masih mereka butuhkan.

    Karena itu, jangan terlalu cepat mengatakan bahwa ekonomi baik-baik saja hanya karena indikator makroekonomi terlihat baik.

    Angka penting. Tetapi manusia lebih penting.

    Sebab pada akhirnya, pertumbuhan ekonomi yang tidak terasa di meja makan hanya akan menjadi kabar baik yang dibaca orang lain.

    Rakyat Tidak Anti Kebijakan Besar

    Tentu saja rakyat tidak bodoh.

    Mereka tidak anti pembangunan. Tidak anti investasi. Tidak anti hilirisasi. Tidak anti proyek strategis. Mereka juga tidak keberatan mendengar tentang geopolitik jika memang penjelasannya masuk akal dan kebijakan itu pada akhirnya membawa kehidupan yang lebih baik.

    Yang mereka persoalkan adalah jarak. Jarak antara bahasa kebijakan dan kenyataan hidup.

    Di pusat pemerintahan, sebuah kebijakan mungkin dibicarakan sebagai strategi besar untuk memperkuat ekonomi nasional. Tetapi ketika kebijakan itu sampai ke daerah, pertanyaan rakyat bisa sangat sederhana:

    "Apa manfaatnya bagi kami?"

    Di atas kertas, sebuah program mungkin memiliki nama yang indah, indikator keberhasilan yang rapi, target yang terukur, dan anggaran yang besar.

    Tetapi di kampung, pertanyaan rakyat tetap sama:

    "Apakah hidup kami menjadi lebih mudah?"

    Inilah pertanyaan yang seharusnya tidak pernah dianggap remeh.

    Sebab pembangunan pada akhirnya bukan tentang seberapa banyak istilah baru yang berhasil diciptakan pemerintah, melainkan seberapa banyak kesulitan lama yang berhasil dikurangi.

    Dari Jakarta Turun ke Provinsi

    Masalahnya, politik tidak berhenti di pemerintah pusat.

    Kebijakan nasional memang menentukan arah besar. APBN membiayai berbagai program. Pemerintah pusat menetapkan banyak regulasi dan prioritas pembangunan.

    Tetapi ketika kebijakan itu turun ke daerah, ceritanya menjadi jauh lebih kompleks.

    Ada pemerintah provinsi.

    Ada pemerintah kabupaten.

    Ada pemerintah kota.

    Ada DPRD.

    Ada birokrasi.

    Ada dinas-dinas.

    Ada anggaran daerah.

    Dan ada berbagai kepentingan yang ikut bergerak di antara semuanya.

    Rakyat akhirnya tidak hidup di dalam APBN atau APBD. Mereka hidup di wilayah administratif yang memiliki jalan rusak, pasar, sekolah, puskesmas, transportasi, air bersih, jaringan internet, lapangan pekerjaan, dan berbagai persoalan lokal lainnya.

    Karena itu, politik nasional yang baik belum tentu otomatis menghasilkan pelayanan publik yang baik di daerah jika tata kelolanya buruk.

    Sebaliknya, pemerintah daerah yang serius bekerja dapat membuat kebijakan terasa lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.

    Di sinilah politik daerah seharusnya mendapatkan perhatian lebih besar.

    Sebab bagi seorang ibu di sebuah desa/kelurahan, pemerintah yang paling nyata bukanlah istilah "negara".

    Pemerintah adalah kantor yang mengurus administrasi kependudukan.

    Pemerintah adalah puskesmas tempat ia membawa anak ketika sakit.

    Pemerintah adalah sekolah yang didatangi anaknya.

    Pemerintah adalah jalan yang setiap hari dilewati.

    Pemerintah adalah pasar tempat ia membeli kebutuhan.

    Pemerintah adalah pelayanan yang ia dapatkan—atau tidak ia dapatkan—ketika berhadapan dengan birokrasi.

    Dengan kata lain, semakin jauh kita berbicara tentang politik, semakin penting kita kembali melihat wajah rakyat yang menjadi tujuan seluruh kebijakan itu.

    Provinsi, Kabupaten, dan Kota Juga Punya Dapur

    Ada kecenderungan aneh dalam politik kita: ketika berbicara tentang masalah rakyat, semua mata mudah diarahkan ke Jakarta. Padahal sebagian persoalan sehari-hari rakyat berada sangat dekat dengan pemerintah daerah.

    Harga dan distribusi pangan memiliki dimensi lokal. 

    Transportasi memiliki dimensi lokal. 

    Pasar rakyat memiliki dimensi lokal. 

    Pengelolaan sampah memiliki dimensi lokal. 

    Infrastruktur dasar memiliki dimensi lokal. 

    Pelayanan kesehatan memiliki dimensi lokal. Pendidikan memiliki dimensi lokal.

    Perizinan usaha kecil memiliki dimensi lokal.

    Bahkan ketika kebijakan berasal dari pusat, pelaksanaannya sering bersentuhan langsung dengan pemerintah daerah.

    Karena itu, gubernur, bupati, wali kota, anggota DPRD, hingga birokrasi daerah seharusnya tidak merasa bahwa politik rakyat adalah urusan pemerintah pusat semata.

    Rakyat memilih pemimpin daerah bukan untuk mendengarkan penjelasan tentang betapa hebatnya pemerintah.

    Mereka memilih untuk melihat perubahan.

    Jalan yang lebih baik.

    Pelayanan yang lebih cepat.

    Pasar yang lebih tertata.

    Harga yang lebih terkendali ketika pemerintah memang memiliki ruang untuk memengaruhinya.

    Lapangan pekerjaan yang lebih terbuka.

    UMKM yang tidak diperlakukan sekadar sebagai bahan pidato saat kampanye.

    Dan birokrasi yang tidak membuat rakyat merasa sedang meminta belas kasihan ketika mengurus haknya sendiri.

    Di tingkat daerah, ukuran keberhasilan pemerintahan sebenarnya sangat sederhana.

    Cobalah bertanya kepada rakyat.

    Bukan kepada pejabat.

    Bukan kepada tim sukses.

    Bukan kepada orang yang setiap hari duduk di ruang rapat pemerintahan.

    Tanyakan kepada pedagang pasar.

    Tanyakan kepada sopir angkutan.

    Tanyakan kepada buruh.

    Tanyakan kepada petani.

    Tanyakan kepada nelayan.

    Tanyakan kepada ibu rumah tangga.

    Tanyakan kepada anak muda yang sedang mencari pekerjaan.

    Mereka mungkin tidak menggunakan bahasa administrasi pemerintahan.

    Tetapi mereka tahu apakah hidup mereka semakin ringan atau semakin berat.

    MBG, KDMP, dan Harapan yang Tidak Pernah Berlebihan

    Lalu ada program seperti Makan Bergizi Gratis.

    Bagi elite politik, program semacam ini dapat dibicarakan dalam bahasa kebijakan: program prioritas, pembangunan sumber daya manusia, intervensi gizi, investasi jangka panjang terhadap generasi masa depan.

    Tetapi bagi seorang ibu, maknanya bisa jauh lebih sederhana.

    Anaknya mendapat makanan.

    Dan bagi keluarga yang hidup dengan anggaran terbatas, makanan tambahan bagi anak bukan perkara kecil.

    Begitu pula dengan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang dirancang sebagai salah satu instrumen penguatan ekonomi masyarakat desa. Di ruang kebijakan, koperasi dapat dibicarakan sebagai wadah konsolidasi ekonomi, penguatan rantai pasok, pemberdayaan masyarakat, sekaligus upaya agar kegiatan ekonomi di desa tidak seluruhnya bergantung pada pihak luar.

    Tetapi bagi seorang petani, pedagang kecil, nelayan, atau pelaku usaha rumahan di desa, pertanyaannya kembali sederhana.

    Apa manfaatnya bagi saya?

    Apakah hasil panen saya bisa memperoleh harga yang lebih baik?

    Apakah saya bisa mendapatkan kebutuhan usaha dengan harga yang lebih masuk akal?

    Apakah akses terhadap pembiayaan menjadi lebih mudah?

    Apakah koperasi benar-benar membantu membuka pasar, atau hanya berganti nama dan papan nama?

    Pertanyaan-pertanyaan semacam itu penting karena rakyat tidak hidup dalam terminologi kebijakan.

    Mereka hidup dalam kenyataan.

    Sebuah program pemerintah boleh memiliki desain yang bagus, tujuan yang mulia, dan anggaran yang besar. Tetapi keberhasilan akhirnya tidak ditentukan oleh seberapa indah program itu dipresentasikan di ruang rapat.

    Ia ditentukan oleh apakah manfaatnya sampai kepada rakyat.

    Di sinilah MBG dan KDMP, dengan karakter yang berbeda, bertemu pada satu titik: keduanya membawa harapan.

    MBG membawa harapan bahwa anak-anak dari keluarga kurang mampu memperoleh asupan makanan yang lebih baik.

    KDMP membawa harapan bahwa desa tidak hanya menjadi tempat produksi, tetapi juga memiliki kekuatan ekonomi untuk mengelola, mengolah, dan mendistribusikan potensi ekonominya sendiri.

    Harapan seperti itu tidak berlebihan.

    Ibu itu mau percaya. Ia selalu ingin percaya.

    Sebab ketika seseorang hidup dalam keterbatasan, harapan sering kali menjadi satu-satunya modal yang tidak perlu dibeli.

    Ia berharap anaknya tumbuh sehat.

    Ia berharap anaknya bersekolah.

    Ia berharap anaknya kelak memperoleh pekerjaan yang lebih baik.

    Ia berharap anaknya tidak perlu mengulang kehidupan yang sama seperti dirinya.

    Sementara di desa, seorang petani berharap hasil kebunnya tidak selalu dihargai murah oleh mata rantai perdagangan yang panjang. Seorang pedagang berharap usahanya tidak mati karena modal yang terbatas. Seorang ibu yang membuat makanan dari rumah berharap produknya memiliki pasar yang lebih luas.

    Mereka tidak menuntut menjadi konglomerat.

    Mereka hanya ingin memiliki kesempatan untuk hidup lebih baik.

    Itu saja.

    Karena itu pula, setiap program pemerintah yang menyentuh kehidupan rakyat harus dijalankan dengan kesungguhan. Bukan sekadar menjadi etalase politik.

    MBG tidak boleh berhenti sebagai seremoni pembagian makanan.

    KDMP tidak boleh berhenti sebagai seremoni peresmian koperasi, papan nama baru, rapat pembentukan pengurus, atau foto bersama pejabat.

    Keduanya harus diuji oleh kehidupan sehari-hari.

    Apakah makanan benar-benar bergizi dan diterima anak-anak?

    Apakah tata kelolanya transparan?

    Apakah pengawasannya berjalan?

    Apakah koperasi benar-benar dimiliki dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat desa?

    Apakah ia membantu petani, nelayan, pedagang, dan pelaku usaha kecil memperkuat posisi ekonominya?

    Apakah koperasi mampu menjadi bagian dari rantai ekonomi desa, atau justru menjadi lembaga baru yang sibuk mengurus dirinya sendiri?

    Pertanyaan-pertanyaan itu bukan bentuk ketidakpercayaan terhadap pemerintah.

    Justru sebaliknya.

    Itulah bentuk kepercayaan yang sehat.

    Sebab semakin besar harapan yang diberikan kepada sebuah program, semakin besar pula tanggung jawab pemerintah untuk memastikan program itu tidak gagal di lapangan.

    Program sebesar apa pun akan kehilangan maknanya jika pelaksanaannya buruk, jika pengawasan lemah, jika manfaatnya tidak sampai kepada mereka yang paling membutuhkan, atau jika akhirnya lebih banyak menghasilkan seremoni daripada perubahan.

    Rakyat tidak membutuhkan program yang terdengar hebat.

    Mereka membutuhkan program yang bekerja.

    Mereka tidak membutuhkan koperasi yang hanya berdiri di atas kertas.

    Mereka membutuhkan koperasi yang benar-benar membantu kehidupan ekonomi mereka.

    Mereka tidak membutuhkan makanan gratis yang hanya menjadi angka dalam laporan keberhasilan.

    Mereka membutuhkan makanan yang benar-benar sampai ke anak-anak mereka dan memberi manfaat bagi tumbuh kembang mereka.

    Pada akhirnya, rakyat tidak akan mengingat panjangnya nama sebuah program. Mereka akan mengingat manfaatnya. Dan ukuran keberhasilan yang paling jujur selalu kembali ke tempat yang sama:

    dapur.

    Ketika Pidato Terlalu Banyak, Perut Tetap Bertanya

    Sayangnya, kehidupan rakyat sering kali masih disuguhi terlalu banyak pidato.

    Pidato tentang capaian.

    Pidato tentang visi.

    Pidato tentang transformasi.

    Pidato tentang masa depan.

    Pidato tentang pertumbuhan.

    Pidato tentang investasi.

    Pidato tentang berbagai keberhasilan.

    Tidak ada yang salah dengan pidato.

    Pemimpin memang harus menjelaskan arah pemerintahannya.

    Tetapi pidato memiliki batas.

    Ia tidak bisa menggantikan nasi.

    Ia tidak bisa membayar uang sekolah.

    Ia tidak bisa mengisi tabung gas.

    Ia tidak bisa melunasi utang di warung.

    Dan tepuk tangan—semeriah apa pun—tidak pernah bisa dibawa pulang untuk dimasak menjadi makan malam.

    Di sinilah politik kehilangan hubungan dengan kenyataan ketika terlalu sibuk merayakan dirinya sendiri.

    Di atas panggung, pemimpin dan para pendukungnya mungkin sibuk dengan tepuk tangan. Standing applause menggema. Kamera bekerja. Senyum mengembang.

    Sementara di luar gedung, rakyat menghitung uang receh.

    Kontras seperti ini seharusnya membuat siapa pun yang memegang kekuasaan merasa tidak nyaman. Sebab kekuasaan bukan panggung. Kekuasaan adalah tanggung jawab.

    UMKM: Bantalan yang Jangan Dibiarkan Kempis

    Kita juga perlu bicara tentang usaha mikro, kecil, dan menengah.

    Selama bertahun-tahun, UMKM sering disebut sebagai tulang punggung ekonomi. Mereka dipuji ketika pemerintah membutuhkan cerita keberhasilan. Mereka difoto ketika ada seremoni. Mereka disebut tangguh ketika ekonomi sedang sulit.

    Tetapi ketangguhan bukan berarti mereka tidak membutuhkan bantuan. Justru karena kecil, mereka paling mudah terguncang.

    Pedagang kecil menghadapi kenaikan harga bahan baku.

    Warung kecil menghadapi penurunan daya beli.

    Pengusaha rumahan menghadapi biaya produksi.

    Pedagang pasar menghadapi persaingan dan perubahan pola konsumsi.

    Pekerja informal menghadapi ketidakpastian pendapatan.

    Jika daya beli masyarakat melemah, sektor-sektor inilah yang sering kali merasakannya lebih dahulu. Karena itu, kebijakan ekonomi tidak boleh hanya berbicara tentang menarik investasi besar.

    Investasi besar memang penting.

    Industri besar penting.

    Pembangunan infrastruktur penting.

    Tetapi ekonomi nasional tidak hanya bergerak melalui gedung-gedung besar dan proyek-proyek raksasa.

    Ia juga bergerak melalui warung kecil di sudut kampung.

    Melalui pedagang yang membuka lapak sejak subuh.

    Melalui ibu yang membuat kue dari dapurnya.

    Melalui tukang ojek yang menunggu penumpang.

    Melalui petani yang menunggu harga panen.

    Melalui nelayan yang berharap cuaca bersahabat.

    Mereka adalah ekonomi dalam bentuk yang paling nyata.

    Dan ketika mereka mulai megap-megap, pemerintah seharusnya tidak hanya mengeluarkan jargon tentang ketahanan ekonomi. Pemerintah harus bertanya mengapa mereka kesulitan bernapas.

    Pejabat Gemuk, Rakyat Kurus

    Ironinya kadang terlihat terlalu telanjang.

    Pejabat semakin nyaman, rakyat semakin cemas.

    Sekali lagi, ini bukan semata-mata soal ukuran tubuh. Ini metafora tentang distribusi kenyamanan.

    Tentang siapa yang memiliki bantalan ketika ekonomi sulit dan siapa yang langsung jatuh ketika pendapatannya berkurang sedikit saja.

    Tentang siapa yang bisa mengurangi pengeluaran dan siapa yang harus mengurangi makan.

    Tentang siapa yang bisa menunggu dan siapa yang tidak punya pilihan selain berutang.

    Tentang siapa yang bisa berbicara tentang masa depan dan siapa yang setiap malam hanya memikirkan bagaimana melewati hari esok.

    Ketimpangan semacam ini seharusnya menjadi alarm bagi setiap pemerintahan. Sebab demokrasi tidak cukup hanya menghasilkan pemilu yang berlangsung lima tahun sekali.

    Demokrasi juga harus menghasilkan pemerintahan yang membuat rakyat merasa bahwa suara mereka memiliki konsekuensi.

    Bahwa memilih pemimpin bukan sekadar mengganti wajah di baliho.

    Bahwa pajak yang mereka bayar kembali dalam bentuk pelayanan.

    Bahwa anggaran yang dikelola pemerintah kembali kepada masyarakat dalam bentuk manfaat.

    Dan bahwa kebijakan publik tidak berhenti sebagai dokumen yang rapi di meja birokrasi.

    Rakyat Tidak Meminta Banyak

    Rakyat kecil sebenarnya tidak meminta terlalu banyak.

    Mereka tidak meminta pemerintah menyelesaikan semua persoalan dalam satu malam.

    Mereka juga tidak meminta kehidupan mewah.

    Mereka hanya ingin harga kebutuhan pokok tidak membuat mereka terus-menerus cemas.

    Mereka ingin pekerjaan yang layak.

    Mereka ingin upah yang manusiawi.

    Mereka ingin sekolah yang bisa dijangkau.

    Mereka ingin pelayanan kesehatan yang tidak membuat mereka takut pada biaya.

    Mereka ingin jalan yang bisa dilewati tanpa harus mengutuk pemerintah setiap kali hujan turun.

    Mereka ingin usaha kecil mereka bisa hidup.

    Mereka ingin anak-anak mereka memiliki masa depan.

    Dan yang paling sederhana: mereka ingin pemerintah memahami bahwa hidup mereka bukan statistik.

    Ada manusia di balik setiap angka.

    Ada keluarga di balik setiap persentase.

    Ada dapur di balik setiap pembicaraan tentang pertumbuhan ekonomi.

    Ada anak di balik setiap pembicaraan tentang pembangunan sumber daya manusia.

    Ada ibu di balik setiap kebijakan pangan.

    Ada buruh di balik setiap pembicaraan tentang produktivitas.

    Ada pedagang kecil di balik setiap pembicaraan tentang pertumbuhan ekonomi domestik.

    Jangan sampai pemerintah terlalu sibuk menghitung pertumbuhan sehingga lupa menghitung berapa banyak keluarga yang sedang mengurangi isi piring.

    Politik yang Sesungguhnya

    Pada akhirnya, politik yang paling dipahami rakyat bukanlah politik yang paling banyak menggunakan istilah.

    Politik yang dipahami rakyat adalah politik yang terasa.

    Ketika harga pangan lebih terjangkau, mereka merasakannya.

    Ketika pekerjaan tersedia, mereka merasakannya.

    Ketika sekolah anak dapat dijangkau, mereka merasakannya.

    Ketika pelayanan publik menjadi mudah, mereka merasakannya.

    Ketika jalan diperbaiki, mereka merasakannya.

    Ketika usaha kecil kembali ramai karena daya beli membaik, mereka merasakannya.

    Sebaliknya, ketika harga naik sementara pendapatan tetap, mereka juga merasakannya.

    Ketika pekerjaan semakin sulit, mereka merasakannya.

    Ketika pelayanan publik berbelit-belit, mereka merasakannya.

    Ketika janji kampanye menguap setelah pemilu—pilpres, pilkada, pileg—mereka juga merasakannya.

    Karena itu, ukuran paling jujur dari sebuah pemerintahan sebenarnya bukan seberapa sering ia mengatakan dirinya berhasil. Ukuran paling jujur adalah apakah rakyat merasa hidupnya menjadi lebih baik.

    Dari pusat sampai provinsi.

    Dari provinsi sampai kabupaten dan kota—hingga desa dan kelurahan.

    Dari kantor pemerintahan sampai pasar dan infrastruktur dasar lainnya.

    Dari gedung DPR sampai warung kecil.

    Dan akhirnya, dari ruang rapat sampai dapur.

    Sebab di sanalah semua kebijakan diuji.

    Di sanalah semua janji politik akhirnya harus mempertanggungjawabkan dirinya.

    Di sanalah rakyat menghitung apakah negara hadir atau sekadar berbicara.

    Ibu janda itu masih berdiri di depan kompor.

    Bapak paruh baya itu masih duduk di teras.

    Mereka mungkin tidak memahami geopolitik.

    Mungkin tidak mengerti hilirisasi.

    Mungkin tidak pernah membaca dokumen APBN atau APBD.

    Tetapi jangan salah.

    Mereka sangat memahami politik.

    Mereka memahami politik ketika harga beras naik.

    Mereka memahami politik ketika upah tidak berubah.

    Mereka memahami politik ketika anaknya kesulitan bersekolah.

    Mereka memahami politik ketika warung menolak memberi utang lagi.

    Mereka memahami politik ketika pelayanan pemerintah menyulitkan.

    Dan mereka memahami politik ketika janji yang dulu terdengar begitu indah ternyata tidak mengubah apa pun di meja makan.

    Karena itu, jangan terlalu sibuk mengajari rakyat bagaimana memahami politik.

    Barangkali justru para politisi dan pejabat yang perlu belajar memahami politik rakyat.

    Belajar dari dapur.

    Belajar dari pasar.

    Belajar dari jalan kampung.

    Belajar dari buruh.

    Belajar dari pedagang kecil.

    Belajar dari ibu yang menghitung uang belanja.

    Belajar dari bapak paruh baya yang menghitung upah hariannya.

    Sebab politik yang paling jujur tidak selalu lahir dari podium. Kadang-kadang ia lahir dari pertanyaan sederhana seorang ibu di depan kompor:

    "Besok kita makan apa?"

    Dan jika sebuah pemerintahan tidak mampu mendengar pertanyaan sesederhana itu, mungkin masalahnya bukan rakyat yang tidak memahami politik.

    Mungkin politiknya yang sudah terlalu jauh meninggalkan rakyat. ***

    PENULIS

    Foto Donny Turang

    Donny Turang

    Jurnalis Utama bersertifikat Dewan Pers/AJI Indonesia. Menulis cerita yang layak untuk diceritakan.

    Komentar

    POPULER

    Senator Tanpa Panggung: Kisah Empat Orang yang Mewakili Sulut di Jakarta—dan Hampir Tidak Ada yang Tahu

    DPD RI Sulawesi Utara: Senator yang Nyaris Tak Terlihat | Feature Feature · Politik Daerah · Sulawesi Utara Anggota DPD RI asal Sulawesi Utara — lembaga yang nyaris tak dikenal, senator yang nyaris tak terlihat. Dua puluh tahun sudah DPD berdiri, namun popularitasnya tenggelam. Empat senator dari Sulawesi Utara periode 2024–2029 bekerja di antara celah hukum, koneksi keluarga, dan ketidakterlihatan publik. Oleh Redaksi | Berdasarkan data KPU & riset independen 📖 DAFTAR ISI 1. Empat Senator, Satu Provinsi, dan Pertanyaan yang Seharusnya Sudah Lama Diajukan 2. Apa yang Sudah Mereka Kerjakan? (Pertanyaan yang Adil) 3. Celah Hukum yang Berbau Keluarga ▸ Kasus Stefanus Liow & Adriana Dondokambey 4. DPD: Lembaga dengan Kewenangan Tiga Fungsi dan Satu Masalah Struktural 5. Refleksi: Lembaga yang Baik, tapi Belum Cukup Saat panggung ...