Tiga tahun setelah Kawasan Kuliner Kakaskasen 2 menjadi bagian dari etalase pariwisata dan dikunjungi Menteri Sandiaga Uno, sebuah dek kayu kini lebih banyak ditemani rumput liar. Lokon tetap berdiri di sana, sementara sebuah pertanyaan tertinggal: setelah kamera dimatikan dan tamu pulang, siapa yang memastikan sebuah proyek tetap hidup?
Awal Agustus 2026, saya berdiri di tepi sawah Kakaskasen 2, kamera menghadap Lokon.
Gunung itu masih gagah. Punggungnya berbaris rapi, diselimuti awan siang yang menggantung malas. Tetapi mata saya justru berhenti pada sesuatu yang jauh lebih dekat: sebuah dek kayu dengan railing bersilang khas gazebo wisata.
Rumput liar sudah menjalar naik ke papan-papannya.
Dek itu bagian dari Kawasan Kuliner Kakaskasen 2—sebuah kawasan yang beberapa tahun lalu sempat menjadi salah satu etalase pariwisata desa. Namanya cukup wangi hingga mengundang Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno berkunjung pada Agustus 2023.
Saat itu, Kakaskasen 2 masuk sebagai finalis Anugerah Desa Wisata Indonesia. Kawasan kuliner tersebut menjadi bagian dari wajah yang diperlihatkan kepada publik.
Tiga tahun kemudian, saya tidak menemukan wajah yang sama.
Tidak ada pedagang. Tidak ada pengunjung yang berhenti untuk berfoto. Yang terlihat hanya bangunan yang diam, dan rumput yang perlahan mengambil kembali ruang yang pernah disediakan untuk manusia.
Saya tidak tahu persis apa yang terjadi di antara kunjungan menteri ketika itu dan sore ketika saya berdiri di sana.
Mungkin ceritanya sederhana: sebuah kawasan dibangun, sempat ramai, lalu kehilangan denyutnya. Mungkin ada persoalan pengelolaan, biaya perawatan, atau hal lain yang tidak terlihat dari balik kamera.
Saya tidak ingin menebak-nebak.
Saya hanya mencatat apa yang terlihat.
Sebab pada akhirnya, sebuah proyek tidak hanya meninggalkan bangunan. Ia juga meninggalkan pertanyaan: setelah peresmian selesai, setelah tamu pulang, setelah kamera dimatikan, siapa yang memastikan tempat itu tetap hidup?
Lokon tidak peduli pada status finalis apa pun.
Ia tetap berdiri di sana, seperti biasa—menjadi saksi paling sabar dari segala sesuatu yang datang dan pergi di kakinya.
Dan sore itu, yang tersisa bukan hanya sebuah dek kayu yang ditumbuhi rumput.
Ada juga sebuah pertanyaan yang barangkali lebih sulit dibersihkan daripada rumput: berapa banyak tempat lain yang nasibnya serupa? ***

Komentar
Posting Komentar