Raja yang Kehilangan Istana
Konten tetap raja, tetapi istananya berubah. Di tengah krisis media dan serbuan AI, jurnalisme harus kembali pada tiga hal yang sulit ditiru mesin: konteks, verifikasi, dan kredibilitas manusia.
📖 Daftar Isi
Content is King, tiga puluh tahun kemudian: catatan tentang profesi wartawan, nasib media, dan apa yang tak bisa disalin mesin
Sepuluh Detik dan Tiga Malam
Bayangkan dua ruangan.
Di ruangan pertama, sebuah mesin menulis seribu kata tentang banjir bandang. Waktunya sepuluh detik. Kalimatnya rapi, tidak ada typo, struktur paragrafnya tertib, bahasanya sopan. Ia tidak mengeluh, tidak meminta uang makan, tidak perlu menunggu jaringan membaik, dan tidak pernah kehabisan baterai.
Di ruangan kedua, seorang reporter daerah duduk di depan area tenda pengungsian.
Tik-tik-tik.
Hujan jatuh di atas seng. Sepatunya berlumpur. Celananya basah sampai lutut. Sinyal tinggal satu bar. Baterai ponsel menunjukkan angka dua puluh persen. Ia menunggu seseorang yang sejak tadi belum juga datang. Bukan untuk basa-basi, melainkan demi satu konfirmasi, satu kutipan yang benar, satu fakta yang tidak boleh salah.
Ia menunggu sambil menahan lapar.
Mesin itu tidak basah.
Reporter itu basah.
Seluruh perdebatan tentang masa depan jurnalisme, kalau mau jujur, mungkin bermula dari selisih yang sederhana itu.
Bukan soal siapa yang lebih cepat menulis. Mesin jelas menang.
Bukan pula soal siapa yang bisa menghasilkan kalimat paling rapi. Mesin sudah sangat pandai melakukannya.
Pertanyaannya adalah: siapa yang hadir ketika fakta itu terjadi, siapa yang bertanya ketika jawaban pertama terasa terlalu mudah, dan siapa yang bersedia berdiri di belakang setiap kalimat yang ditulisnya?
Di situlah persoalannya menjadi lebih rumit.
Karena selama ini kita terlalu sering menganggap produk akhir jurnalisme adalah teks. Padahal teks hanyalah hasil paling akhir dari pekerjaan yang jauh lebih panjang: mencari, mendatangi, bertanya, memeriksa, meragukan, mengonfirmasi, memahami konteks, lalu memutuskan apa yang layak diberitakan.
Mesin dapat membantu banyak bagian dari proses itu. Tetapi membantu bukan berarti hadir. Dan menghasilkan kalimat bukan berarti memiliki tanggung jawab.
Kalimat yang Terlalu Sering Dikutip
Kita hafal kalimatnya:
Content is King.
Kita mengutipnya di seminar, di spanduk pelatihan, di presentasi bisnis, di media sosial, kadang sambil menepuk dada seolah-olah baru saja menemukan hukum gravitasi baru dalam dunia komunikasi. Padahal kalimat itu lahir dari sebuah esai bisnis, bukan dari ruang redaksi.
Pada 3 Januari 1996, Bill Gates menulis bahwa sebagian besar uang di internet kelak akan datang dari konten, sebagaimana yang terjadi di dunia penyiaran.
“Content is where I expect much of the real money will be made on the Internet, just as it was in broadcasting.”
Bill Gates
Sumber: threestepsbusiness.com.
Perhatikan kata yang dipakai Gates: money.
Ia berbicara tentang nilai ekonomi konten. Tentang bagaimana internet akan menjadi tempat orang menghasilkan uang dari informasi, hiburan, pengetahuan, dan berbagai bentuk materi yang dikonsumsi manusia.
Soal yang pertama, ia benar.
Konten memang bernilai.
Tetapi soal yang kedua—siapa yang memanen nilai itu—sejarah ternyata memiliki jawaban yang jauh lebih rumit.
Para pembuat konten menghasilkan sesuatu. Platform mendistribusikannya. Mesin pencari mengindeksnya. Algoritma menentukan apa yang terlihat. Pengiklan membeli perhatian. Pembaca berpindah dari satu layar ke layar lain.
Pada titik tertentu, orang yang membuat konten bahkan tidak lagi menjadi pihak yang menentukan bagaimana kontennya ditemukan.
Di situlah seorang raja mulai kehilangan istananya.
Ketika Pembaca Pindah Rumah
Rajanya masih ada.
Rakyatnya yang pindah.
Laporan Digital News Report 2026 yang diterbitkan Reuters Institute for the Study of Journalism, University of Oxford, mencatat bahwa untuk pertama kalinya media sosial dan jejaring video lebih banyak digunakan untuk mengakses berita—54 persen—dibandingkan situs dan aplikasi milik media sendiri yang berada di angka 51 persen.
Para peneliti menyebut perubahan itu sebagai platformisasi.
Di Indonesia, penggunaan media sosial dan platform video sebagai sumber berita utama naik delapan poin persentase menjadi 48 persen.
Artinya, berita tidak lagi selalu dicari di rumah tempat berita itu dibuat.
Berita semakin sering ditemukan ketika seseorang sedang melakukan sesuatu yang lain.
Orang membuka TikTok, menemukan berita.
Membuka YouTube, menemukan berita.
Membuka Facebook, menemukan berita.
Menggulir Instagram, menemukan berita.
Membuka mesin pencari, mendapatkan ringkasannya.
Dalam banyak kasus, pembaca bahkan tidak pernah sampai ke halaman tempat berita itu pertama kali diterbitkan.
Ini mengubah hubungan antara media dan pembacanya.
Dulu, media memiliki pintu.
Sekarang pembaca datang melalui jalan yang dibangun orang lain.
Dan jalan itu memiliki aturan sendiri.
Kepercayaan pun ikut berubah.
Kepercayaan publik Indonesia terhadap berita turun menjadi 32 persen dari 36 persen tahun sebelumnya, berada di bawah rata-rata global 37 persen. Sumber: Reuters Institute—Overview and key findings of the 2026 Digital News Report.
Namun ada detail yang menarik dan sering terlewat.
Kepercayaan pada sebagian besar merek media secara individual tidak turun. Yang dikhawatirkan audiens adalah lingkungan beritanya secara keseluruhan.
Jadi rajanya tidak selalu dibenci.
Hutan tempat ia tinggal yang berubah menjadi belantara.
Itu perbedaan penting.
Masalahnya bukan semata-mata bahwa orang tidak percaya kepada satu wartawan atau satu media. Masalahnya adalah mereka semakin sulit membedakan mana berita, iklan, opini, propaganda, promosi, konten buatan pengguna, potongan video, manipulasi visual, dan informasi yang dibuat mesin.
Semua muncul dalam layar yang sama.
Semua berebut perhatian yang sama.
Dan semuanya bisa terlihat sama-sama meyakinkan.
Ketika Gerbang Semakin Sempit
Lalu ada gerbang yang semakin sempit.
Similarweb mencatat sekitar 69 persen pencarian berita di Google berakhir tanpa satu klik pun ke situs media pada Mei 2025, naik dari 56 persen pada Mei 2024. Sumber: Similarweb, How to Perform AI Citation Analysis.
Kita seperti pemilik warung yang dagangannya dipajang di etalase orang lain.
Pembeli melihat makanan kita.
Mungkin menyukainya.
Mungkin bahkan merasa kenyang.
Lalu pulang.
Tanpa pernah tahu siapa yang memasaknya.
Metafora ini terasa semakin relevan ketika mesin pencari, platform sosial, dan chatbot mulai mampu memberikan ringkasan informasi langsung kepada pengguna.
Jika dulu orang mencari berita dengan mengklik situs media, sekarang jawaban dapat datang sebelum klik itu terjadi.
Bagi pembaca, ini praktis.
Bagi platform, ini efisien.
Bagi media, persoalannya jauh lebih rumit.
Sebab selama bertahun-tahun media membangun bisnis berdasarkan gagasan sederhana: semakin banyak orang datang ke halaman kami, semakin besar peluang kami mendapatkan pendapatan.
Sekarang perhatian pembaca semakin banyak dipanen di tempat lain.
Tetapi rumah tempat konten itu dibuat tidak selalu mendapatkan manfaat ekonomi yang sepadan.
Di sinilah kalimat Content is King terdengar sedikit ironis.
Raja masih menghasilkan sesuatu.
Tetapi kerajaan distribusinya berada di tangan pihak lain.
Wartawan: Lebih dari Sekadar Pengetik Cepat
Dua pakar jurnalisme, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, dalam The Elements of Journalism, merumuskan bahwa kewajiban pertama jurnalisme adalah kepada kebenaran, kesetiaan pertamanya kepada warga, dan intinya adalah disiplin verifikasi.
Tidak ada satu pun prinsip yang berbunyi:
terbitkan secepat mungkin.
Kecepatan memang penting.
Tetapi kecepatan bukanlah tujuan akhir.
Berita yang salah dan cepat tetap saja berita yang salah.
Persoalannya, kenyataan di lapangan tidak selalu seindah teori.
Sepanjang Januari–November 2025, Dewan Pers menerima 1.166 pengaduan masyarakat, hampir dua kali lipat dari 626 pengaduan pada 2024. Mayoritas menyasar media siber. Isu yang dominan antara lain pelanggaran prinsip cover both sides, judul clickbait, pencemaran nama baik, dan penggunaan foto tanpa izin. Sumber: Dewan Pers—Catatan Akhir Tahun 2025 dan Catatan Pers Indonesia 2025.
Angka itu tidak otomatis berarti semua persoalan lahir karena internet atau AI.
Tetapi ia menunjukkan sesuatu yang tidak boleh diabaikan: ketika produksi berita semakin cepat, disiplin jurnalistik justru semakin mahal.
Dewan Pers sendiri mengakui akar persoalannya.
Di era digital, kecepatan sering menggeser ketepatan. Tuntutan ekonomi kadang membuat wartawan dan media mengabaikan etika.
Ini bukan tudingan dari luar.
Ini rapor dari dalam.
Dan rapor semacam itu seharusnya tidak membuat profesi jurnalistik malu.
Sebaliknya, ia harus membuat profesi ini bercermin.
Sebab pekerjaan wartawan bukan sekadar mengetik apa yang terjadi.
Wartawan harus menentukan apa yang sebenarnya terjadi.
Perbedaannya tipis dalam kalimat, tetapi sangat besar dalam praktik.
Ia harus bertanya kepada pihak yang tidak ingin diwawancarai.
Ia harus membaca dokumen yang mungkin membosankan.
Ia harus memeriksa angka.
Ia harus menelepon sumber kedua.
Ia harus datang ke lokasi ketika semua orang lain memilih menonton dari layar.
Dan kadang-kadang ia harus menulis kalimat yang membuat dirinya sendiri tidak nyaman.
Itulah pekerjaan yang sulit diotomatisasi.
Risiko yang Tidak Bisa di-Upload
Risikonya juga bukan cuma soal etika.
Kekerasan terhadap wartawan masih terjadi.
Efeknya bukan hanya luka fisik. Kekerasan dapat menciptakan efek gentar, mendorong swa-sensor, dan melemahkan fungsi pers sebagai kontrol sosial.
Indeks Kemerdekaan Pers 2025 berada di angka 69,44, kategori “cukup bebas”.
Dewan Pers juga mencatat perampasan dan penghapusan rekaman wartawan saat meliput bencana di Sumatera dan menyebutnya sebagai penghalang-halangan kerja jurnalistik.
Algoritma tidak pernah dipukul saat meliput demonstrasi.
Itu bukan keunggulan.
Itu bukti bahwa ia tidak pernah hadir.
Kalimat tersebut bukan untuk meromantisasi penderitaan wartawan.
Wartawan tidak harus basah agar pekerjaannya dianggap penting. Tidak semua laporan membutuhkan lumpur, hujan, atau ancaman.
Tetapi ada satu hal yang membedakan kerja jurnalistik dari produksi teks biasa: kehadiran manusia di dalam proses memperoleh fakta.
Dan kehadiran itu membawa risiko sekaligus tanggung jawab.
Media: Dapur yang Kehabisan Gas
Raja membutuhkan dapur. Dan dapur membutuhkan gas.
Tidak ada ruang redaksi yang hidup hanya dari idealisme.
Ada listrik.
Ada server.
Ada reporter.
Ada editor.
Ada fotografer.
Ada kendaraan.
Ada biaya perjalanan.
Ada gaji.
Ada biaya hukum ketika sebuah berita digugat.
Semua itu membutuhkan uang.
Masalahnya, sumber uang media mengalami perubahan besar.
Data AJI yang disampaikan kepada Dewan Pers menaksir lebih dari 800 pekerja media terkena PHK dari 2024 hingga Juli 2025. Angka riilnya kemungkinan lebih besar. Sumber: Dewan Pers—Kaleidoskop Dewan Pers 2025: Krisis Ekonomi Media, PHK Massal, hingga Ancaman Kemerdekaan Pers, dan AJI—Pecat dan Bungkam Pekerja: Robohnya Demokrasi di Media.
Penyebabnya berlapis.
Disrupsi digital.
Belanja iklan yang menyusut.
Dan meluasnya pemakaian AI.
Di balik angka PHK itu ada sesuatu yang jarang terlihat pembaca: hilangnya kapasitas jurnalistik.
Satu reporter yang tidak lagi bekerja bukan hanya satu orang yang kehilangan pekerjaan.
Bisa berarti satu daerah kehilangan orang yang biasanya menelepon ketika ada kebijakan pemerintah yang aneh.
Satu isu kehilangan orang yang mengikuti rapat sejak awal.
Satu institusi kehilangan seseorang yang mengenal nama-nama pejabat, sejarah konflik, dan kebiasaan sumber.
Ketika newsroom mengecil, yang hilang bukan hanya jumlah pekerja.
Yang bisa ikut hilang adalah ingatan institusional.
Ada persoalan yang lebih sunyi lagi.
Dalam aturan hak cipta yang berlaku, karya jurnalistik hanya memperoleh hak moral, yakni menyebut sumber, tanpa hak ekonomi.
Kita menanam padi.
Orang lain memanen.
Lalu kita diminta bangga karena nama kita dicantumkan sebagai sumber.
Persoalannya menjadi semakin rumit ketika karya jurnalistik digunakan dalam ekosistem digital dan AI.
Dewan Pers tidak diam.
Mereka mengusulkan revisi UU Hak Cipta dan pembentukan Dana Jurnalisme Indonesia. Deklarasi Pers 2026 pada 8 Februari juga mendesak platform digital, termasuk platform AI, memberi kompensasi yang adil atas pemakaian karya jurnalistik. Sumber: Dewan Pers—Deklarasi Pers 2026: Negara Harus Hadir Jaga Media dan Demokrasi, Dewan Pers Dorong Hak Ekonomi Karya Jurnalistik, Platform Digital dan AI Diminta Bayar Royalti, dan Deklarasi Pers Nasional 2026: Dorong Revisi UU Penyiaran dan Perlindungan Hak Cipta Karya Jurnalistik.
Ini bukan semata-mata perdebatan tentang royalti.
Ini adalah perdebatan tentang siapa yang memperoleh nilai dari kerja jurnalistik.
Jika karya jurnalistik menjadi bahan bakar bagi ekosistem digital, pertanyaan berikutnya hampir tak terhindarkan:
siapa yang seharusnya membayar bahan bakar itu?
Apa Kata Para Pakar
Sejumlah suara layak dicatat.
Dan arahnya menarik.
Para peneliti Reuters Institute menulis bahwa kepercayaan turun signifikan di 29 dari 48 pasar yang disurvei, ke titik terendah sejak pelacakan dimulai. Mereka membacanya sebagai tanda kerapuhan institusional.
Dalam laporan tren terpisah, banyak pemimpin redaksi mengaku memprioritaskan jurnalisme yang sulit ditiru dan menilai jurnalisme semakin sering dikonsumsi lewat sosok ketimbang lembaga. Sumber: Reuters Institute—Digital News Report 2026—Executive Summary, Journalism, Media, and Technology Trends and Predictions 2026, dan PDF laporan Journalism and Technology Trends and Predictions 2026.
Di dalam negeri, Direktur Utama LKBN ANTARA Benny Siga Butarbutar menegaskan bahwa AI hanya boleh menjadi alat bantu, bukan penentu. Menkomdigi Meutya Hafid mengingatkan bahwa pers tidak boleh mengorbankan kepercayaan. Sumber: ANTARA—“AI hanya boleh menjadi alat bantu bukan penentu”; portal Komdigi—“Menkomdigi Meutya Hafid: Media Nasional Harus Jaga Kredibilitas”.
Namun tidak semua survei muram.
Edelman Trust Barometer 2026 menempatkan Indonesia di posisi kedua dunia untuk indeks kepercayaan pada media, dengan skor 76.
Angka itu berbeda dari Reuters.
Kemungkinan ada perbedaan metode dan pertanyaan yang digunakan.
Tetapi justru perbedaan itu menarik.
Survei tidak selalu berbicara dengan satu suara.
Dan kita tidak seharusnya memilih angka yang paling menyenangkan lalu mengabaikan angka yang membuat kita tidak nyaman.
Yang dapat kita lihat dari berbagai temuan itu adalah satu hal yang lebih sederhana:
publik masih mencari penjaga informasi.
Persoalannya kemudian bukan sekadar apakah publik membutuhkan media.
Pertanyaannya:
apakah media masih mampu menjadi penjaga yang dipercaya?
Mesin yang Pandai Menulis, Tak Bisa Meminta Maaf
Sekarang giliran AI.
Pemakaian chatbot AI untuk berita secara mingguan naik dari 7 persen menjadi 10 persen secara global.
Tetapi hanya 20 persen responden yang mempercayai berita dari chatbot AI. Sumber: Reuters Institute for the Study of Journalism, Universitas Oxford.
Angka itu masuk akal.
Chatbot bisa merangkum.
Ia bisa mengubah bentuk.
Ia bisa membuat tulisan lebih rapi.
Ia bisa membantu mencari pola.
Ia bisa membantu wartawan membaca dokumen panjang.
Ia bahkan dapat menjadi teman diskusi yang sabar ketika redaktur sudah terlalu lelah untuk diajak berpikir.
Tetapi chatbot tidak bisa datang ke lokasi kejadian.
Ia tidak bisa mengetuk pintu rumah korban.
Ia tidak bisa melihat perubahan ekspresi seseorang ketika pertanyaan tertentu diajukan.
Ia tidak bisa merasakan bahwa jawaban narasumber terdengar terlalu lancar.
Ia tidak bisa menunggu tiga jam demi satu sumber yang akhirnya mengatakan sesuatu yang mengubah arah laporan.
Dan yang paling penting:
ketika tulisan itu salah, mesin tidak dapat dimintai pertanggungjawaban seperti manusia.
Dewan Pers sudah menerbitkan Peraturan Nomor 1 Tahun 2025 tentang pedoman penggunaan AI dalam karya jurnalistik.
Itu penting.
Tetapi aturan tidak menggantikan sesuatu yang jauh lebih sederhana:
ada manusia yang namanya tercantum.
Manusia yang bisa dipanggil.
Dikoreksi.
Dipertanyakan.
Diprotes.
Digugat.
Dan, jika memang salah, diminta meminta maaf.
Mesin tidak punya halaman dua.
Tiga Lapis Kerajaan
Jadi kalimat lama itu perlu dilengkapi.
Menurut saya:
Content is King.
Konten tetap raja. Tetapi raja yang bisa dicetak massal oleh mesin adalah raja murahan.
Hari ini, membuat teks bukan lagi monopoli manusia. Seribu kata bukan lagi pencapaian yang luar biasa.
Sebuah mesin dapat menghasilkan seribu kata sebelum manusia sempat membuka buku catatan. Karena itu, nilai sebuah tulisan tidak bisa lagi hanya diukur dari jumlah kata, kecepatan produksi, atau kelancaran kalimat.
Ada lapisan kedua.
Context is the Kingdom.
Konteks adalah wilayahnya.
Kearifan lokal.
Riwayat sebuah kampung.
Hubungan antarorang.
Latar belakang sebuah konflik.
Alasan sebuah kebijakan lahir.
Sejarah sebuah keputusan.
Kalimat yang pernah diucapkan seorang pejabat lima tahun lalu.
Janji yang tidak pernah dipenuhi.
Semua itu tidak selalu muncul dalam data yang tersedia di permukaan.
Konteks harus dikumpulkan. Harus dipahami. Dan sering kali hanya bisa diperoleh dengan hadir.
Lalu ada lapisan ketiga.
Credibility is the Crown.
Kredibilitas adalah mahkotanya. Kehilangan mahkota, Anda masih bisa duduk di singgasana. Hanya saja orang akan menganggapnya kursi biasa.
Inilah yang mungkin menjadi arena pertarungan jurnalisme di masa depan. Bukan melawan mesin dalam perlombaan mengetik.
Manusia akan kalah.
Bukan melawan mesin dalam perlombaan membuat ringkasan.
Manusia juga akan tertinggal.
Tetapi jurnalisme masih mempunyai wilayah yang sangat penting: kehadiran, konteks, verifikasi, dan tanggung jawab.
Yang Bisa Dikerjakan Besok
Lalu apa yang bisa dilakukan?
Untuk wartawan: perlihatkan kerja Anda.
Cantumkan sumber.
Tautkan dokumen jika memungkinkan.
Jelaskan bagaimana informasi diverifikasi.
Umumkan koreksi dengan terang.
Jangan menyembunyikan kesalahan di balik perubahan kecil pada paragraf.
Gunakan AI sebagai asisten riset, bukan sebagai alasan untuk berhenti berpikir.
Untuk media: bangun hubungan langsung dengan pembaca.
Newsletter.
Kanal komunitas.
Grup pembaca.
Forum diskusi.
Apa pun bentuknya, selama hubungan itu tidak sepenuhnya bergantung kepada algoritma pihak lain. Sebab jika pembaca hanya mengenal media melalui platform, media akan selalu menjadi tamu di rumah orang lain.
Dukung Dana Jurnalisme Indonesia.
Dorong pembahasan hak cipta.
Bicarakan model bisnis yang memungkinkan newsroom tetap memiliki reporter. Sebab jurnalisme yang tidak memiliki wartawan pada akhirnya hanya akan memiliki konten. Dan konten saja tidak cukup.
Untuk penulis independen, persoalannya mungkin lebih sederhana sekaligus lebih sulit:
tulis sesuatu yang hanya bisa ditulis oleh Anda.
Kesaksian.
Konteks lokal.
Wajah.
Nama.
Ingatan.
Pengalaman.
Percakapan yang Anda dengar sendiri.
Tempat yang Anda datangi sendiri.
Pertanyaan yang muncul karena Anda berada di sana.
Itulah bahan yang tidak mudah diproduksi secara massal.
Bukan karena mesin tidak pintar. Tetapi karena pengalaman manusia tidak bisa begitu saja dipindahkan ke mesin.
Kembali ke Area Pengungsian
Kita kembali kepada reporter tadi.
Ia akhirnya mendapatkan kutipannya.
Baterai tinggal sepuluh persen. Ia mengetik dengan dua jempol, kalimat demi kalimat.
Hujan belum berhenti.
Sinyal masih buruk.
Ia membaca ulang tulisannya sekali. Lalu sekali lagi.
Kemudian menekan tombol kirim sebelum sinyal hilang.
Tulisannya tidak secepat sepuluh detik. Tidak semulus mesin.
Mungkin ada kalimat yang harus diedit.
Mungkin ada typo yang baru terlihat setelah berita terbit.
Mungkin besok ia harus melakukan koreksi.
Tetapi ketika air naik lagi dan orang bertanya siapa yang bisa dipercaya, mereka akan mencari nama di baris kredit.
Bukan nama model di pojok layar.
Di situlah nilai sebuah profesi diuji.
Bukan ketika semuanya mudah.
Bukan ketika semua orang sepakat.
Melainkan ketika fakta sulit diperoleh, ketika informasi saling bertabrakan, ketika tekanan datang dari berbagai arah, dan ketika seseorang harus berkata:
“Saya sudah memeriksanya. Saya bertanggung jawab atas apa yang saya tulis.”
Mungkin itulah yang harus kita pertahankan dari jurnalisme.
Bukan romantisme tentang wartawan yang selalu membawa buku catatan.
Bukan nostalgia terhadap mesin ketik, kantor redaksi yang penuh asap rokok, atau telepon yang berdering tengah malam.
Dunia sudah berubah. Teknologinya juga akan terus berubah.
Mesin akan semakin cepat.
Model AI akan semakin pintar.
Platform akan semakin besar.
Cara orang membaca berita akan semakin berbeda.
Dan mungkin, beberapa pekerjaan yang hari ini dilakukan wartawan memang akan diambil alih mesin.
Itu bukan sesuatu yang perlu ditakuti dengan berlebihan.
Tetapi justru karena mesin semakin mampu menghasilkan teks, manusia harus semakin serius mempertanyakan untuk apa teks itu dibuat, dari mana faktanya berasal, siapa yang dirugikan, siapa yang diuntungkan, dan siapa yang bersedia bertanggung jawab atasnya.
Raja boleh berganti wujud.
Kerajaannya boleh berubah.
Istana distribusinya boleh berpindah tangan.
Tetapi jika jurnalisme ingin tetap memiliki tempat dalam masyarakat, mahkotanya tidak boleh ikut hilang.
Content is King.
Tetapi konten tanpa konteks hanyalah suara yang ramai.
Konteks tanpa kredibilitas hanyalah cerita yang belum selesai diperiksa.
Dan kredibilitas tanpa manusia yang bersedia bertanggung jawab hanyalah sebuah nama yang tercetak di halaman.
Pada akhirnya, yang membuat sebuah tulisan layak dipercaya bukan karena ia dibuat oleh manusia atau mesin semata.
Yang membuatnya layak dipercaya adalah adanya manusia yang berani berdiri di belakangnya.
Manusia yang hadir.
Manusia yang memeriksa.
Manusia yang bisa salah.
Dan, ketika salah, manusia yang bersedia berkata:
“Maaf. Saya keliru.”
Mesin bisa menulis lebih cepat.
Tetapi sampai hari ini, ia belum belajar meminta maaf dengan konsekuensi yang sama.
Dan mungkin, justru di situlah masa depan jurnalisme masih mempunyai ruang.

Komentar
Posting Komentar