Sepatu Berlumpur di Karpet Merah — Cerpen (Bab 9-10)
- Noda yang Tak Perlu Dibersihkan
- Harga Sebuah Kepercayaan
📖 DAFTAR ISI
IX
Noda yang Tak Perlu Dibersihkan
Tiga hari kemudian, bantuan benar-benar sampai ke Desa Linouw—desa yang terkena musibah tanah longsor.
Bukan lagi sekadar janji yang disampaikan melalui pengeras suara atau kalimat manis dalam konferensi pers. Kali ini truk-truk datang membawa tenda, sembako, terpal, air mineral, obat-obatan, dan beberapa peralatan sederhana untuk membersihkan sisa-sisa longsoran.
Pemerintah juga mengumumkan rencana rehabilitasi rumah warga yang terdampak, dengan target penyelesaian dalam waktu satu bulan.
Entah karena pertanyaan Don malam itu di ballroom hotel kepala Kepala Daerah—saat konferensi pers—entah karena memang semuanya sudah direncanakan sejak awal. Don tidak terlalu peduli.
Ia sudah cukup lama menjadi wartawan untuk memahami bahwa sebuah kebijakan hampir tidak pernah lahir dari satu pertanyaan saja.
Tetapi ia juga tahu, terkadang satu pertanyaan yang dilemparkan pada waktu yang tepat bisa membuat orang-orang yang sedang nyaman duduk di kursinya mendadak merasa kursi itu terlalu panas.
Yang penting bagi Don sederhana saja: Oma Lenny sudah tidak perlu tidur di tenda darurat yang bocor setiap kali hujan turun deras. Demikian halnya warga lain yang rumahnya terhantam longsor.
Dan itu, menurutnya, jauh lebih penting daripada mengetahui siapa yang sebenarnya paling berjasa.
Pagi itu Don kembali ke Desa Linouw untuk liputan lanjutan.
Sepatunya masih sama.
Sepatu yang sudah dicuci berkali-kali sejak liputan pertama. Lumpur memang sudah hilang, tetapi warnanya tidak pernah benar-benar kembali seperti semula. Ada noda kecokelatan yang menetap di bagian depan dan sisi solnya, seperti kain lap yang sudah terlalu sering dipakai membersihkan meja.
Ia pernah mencoba menyikatnya dengan sabun, merendamnya semalaman, bahkan menyemprotnya dengan cairan pembersih yang dibelinya di minimarket.
Percuma.
Lumpur rupanya punya ingatan sendiri. Ia meninggalkan bekas pada benda-benda yang pernah menyentuhnya.
Liputan lanjutan ke Desa Linouw, kali ini, Don mengajak Enly. Bukan sekadar sebagai pembawa tas atau orang yang mencatat nomor telepon narasumber. Don sengaja membiarkan wartawan magang itu memimpin wawancara.
"Anggap saya tidak ada," kata Don ketika mereka mendekati rumah sementara warga.
Enly tertawa gugup.
"Bagaimana bisa, Kak? Kakak berdiri di belakang saya."
"Ya, anggap saja saya pohon."
"Ndak ada pohon sebesar Kakak."
"Berarti tiang listrik."
Enly tertawa.
Ketegangan di wajahnya sedikit mencair.
Itulah yang Don inginkan.
Ia tahu, menjadi wartawan tidak hanya soal menguasai pertanyaan. Kadang-kadang seorang wartawan harus belajar bagaimana membuat orang lain nyaman berbicara.
Dan itu tidak bisa diajarkan melalui buku.
Seperti banyak hal lain dalam pekerjaan ini, ia harus ditemukan sendiri.
Usai wawancara dengan warga, Don dan Enly berjalan sambil mengamati lokasi bencana.
"Sepatu itu masih dipakai, Kak?" kata Enly yang berjalan di samping menunjuk ke kakinya.
"Kenapa?"
"Kirain sudah dibuang."
Don melihat sepatunya sebentar.
"Belum."
"Kenapa?"
"Karena masih bisa dipakai."
Enly mengangguk, meskipun dari wajahnya tampak jelas bahwa ia tidak yakin jawaban itu benar-benar menjelaskan semuanya.
Don sendiri juga tidak yakin.
Mungkin sepatu itu sudah menjadi semacam pengingat. Bahwa tiga hari sebelumnya ia tidak sedang menghadiri acara penting. Ia sedang berdiri di atas lumpur, kemudian ke konferensi pers di hotel.
Dalam perbincangan ringan mereka, sayup-sayup terdengar suara serak yang memanggil. Ternyata Oma Lenny mengenali Don dari jauh.
"Oh, wartawan yang datang subuh-subuh itu!"
Suara perempuan tua itu terdengar sebelum Don sempat menyapa.
"Ada lagi ini!"
Ia tertawa lebar, memperlihatkan beberapa gigi yang tersisa.
Don ikut tertawa.
"Masih kenal, Oma?"
"Mana bisa lupa? Sepatu lumpur begitu."
Don melihat ke bawah.
Enly langsung tertawa.
"Oma masih ingat sepatunya, Kak."
"Berarti muka saya kalah terkenal."
"Memang," jawab Oma Lenny cepat.
Mereka semua tertawa.
Oma kemudian mengambil dua cangkir kopi dari atas meja kayu seadanya.
"Minum dulu."
Don menerima cangkir itu dengan kedua tangan.
"Terima kasih Oma Lenny," ucapnya.
Kopi tersebut diseduh di atas tungku kayu darurat. Warnanya hitam pekat, aromanya sedikit berasap, dan panasnya langsung terasa sampai ke ujung jari.
Don menyeruput perlahan.
Pahit.
Panas.
Sedikit terlalu banyak gula—karena dirinya terbiasa dengan kopi tanpa gula.
Tapi entah kenapa terasa jauh lebih nikmat daripada kopi seharga lima puluh ribu rupiah yang diminumnya di ballroom hotel beberapa malam sebelumnya.
Di sana, kopi datang dalam cangkir kecil dengan tatakan putih.
Di sini, kopi datang bersama asap kayu, suara warga, bau tanah basah, dan percakapan tentang rumah yang belum selesai diperbaiki.
Don duduk di atas batu yang sama.
Pemandangannya juga hampir sama.
Perkebunan sayur yang separuh amblas. Tanah yang masih basah. Tumpukan kayu dan batu di beberapa sudut. Beberapa tenda berdiri di antara rumah-rumah yang rusak.
Tetapi ada sesuatu yang berubah.
Warga mulai tertawa lagi.
Anak-anak kembali berlarian.
Orang-orang mulai berbicara tentang kapan mereka bisa kembali ke rumah, bukan lagi tentang apakah mereka masih bisa bertahan sampai pagi.
Bencana belum selesai. Tetapi kehidupan, rupanya, tidak pernah benar-benar menunggu sebuah bencana selesai untuk kembali berjalan.
Don memperhatikan Enly yang sedang mewawancarai seorang bapak.
Gadis itu masih terlihat canggung. Sesekali ia melirik catatan. Sesekali ia kehilangan kata-kata. Tetapi kali ini ia tidak meminta bantuan.
Don membiarkannya.
Seorang wartawan senior mungkin bisa menyelamatkan wawancara dalam lima menit. Tetapi seorang wartawan muda hanya akan belajar jika sesekali dibiarkan tersandung.
Setelah wawancara selesai, Enly kembali dan duduk di samping Don.
Ia menerima secangkir kopi dari Oma Lenny.
"Terima kasih Oma," kata Enly.
Mereka menyeruput kopi yang sama-sama pahit.
Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara.
Angin bergerak pelan melewati pepohonan. Dari kejauhan terdengar suara palu memukul kayu.
Tok.
Tok.
Tok.
Suara itu berulang seperti detak jam yang terlalu besar.
"Kak," kata Enly tiba-tiba.
"Hm?"
"Kalau jadi wartawan itu memang begini?"
"Begini bagaimana?"
Enly melihat ke arah perkebunan yang rusak.
"Capek."
Don tersenyum.
"Baru tahu?"
"Bukan itu."
"Terus?"
Enly diam sebentar.
"Ternyata capeknya beda ya, Kak."
Don menoleh.
"Beda bagaimana?"
"Capek di lobi hotel sama capek di sini."
Ia menarik napas.
"Kalau di hotel, kita berdiri lama, melihat orang-orang pakai sepatu bagus, pakaian yang diseterika licin, wangi, senyum. Kita mendengar orang bicara, catat, lalu tulis menjadi berita..."
"Dan?"
"Capek."
Don tertawa.
"Di sini juga capek."
"Iya."
Enly menyeruput kopinya lagi.
"Tapi capek di sini... enak."
Don tidak langsung menjawab.
Ia memandang sepatu di kakinya.
Lumpur kembali menempel di bagian depan. Padahal baru beberapa menit berjalan.
"Ndak tahu kenapa," lanjut Enly.
Don tersenyum kecil.
"Itu karena kau belum lama jadi wartawan."
"Kenapa?"
"Karena nanti kau akan tahu."
"Tahu apa?"
Don menatap ke depan.
"Bahwa ada pekerjaan yang membuat badan capek, tapi kepala pulang dengan perasaan lebih ringan."
Enly diam.
Don melanjutkan.
"Dan ada pekerjaan yang membuat badan tidak terlalu capek, tapi kita pulang membawa sesuatu yang berat."
"Apa?"
Don mengangkat cangkir kopinya.
"Pertanyaan."
Enly mengerutkan dahi.
"Pertanyaan?"
"Pertanyaan tentang apakah hari ini kita benar-benar melakukan pekerjaan kita."
Keduanya kembali diam.
Oma Lenny dari kejauhan berteriak.
"Wartawan! Jangan cuma minum kopi! Tanya-tanya lagi!"
Don dan Enly tertawa.
"Bagaimana, Kak?" kata Enly.
"Sudah."
"Apa?"
"Pertanyaanmu selanjutnya."
Enly menatapnya bingung.
"Yang mana?"
Don menunjuk cangkir kopi.
"Kenapa kopi Oma lebih enak daripada kopi hotel?"
Oma Lenny langsung menyahut dari kejauhan.
"Karena tidak bayar lima puluh ribu!"
Tawa mereka pecah lagi.
Dan untuk pertama kalinya sejak pagi bencana itu, Don melihat Enly tersenyum tanpa beban. Bukan senyum gugup seorang wartawan magang yang sedang berusaha terlihat profesional.
Senyum itu tulus.
Don tahu, pelajaran kedua sudah selesai.
Bukan tentang bagaimana menulis lead. Bukan tentang bagaimana mencari kutipan. Bukan tentang bagaimana mengejar pejabat untuk mendapatkan pernyataan.
Tetapi tentang mengapa seseorang memilih menjadi wartawan.
Jawabannya tidak selalu ditemukan di ruang redaksi.
Kadang-kadang jawabannya justru ditemukan di tempat yang tidak nyaman, di antara lumpur, terpal, kopi pahit, dan orang-orang yang tidak pernah tahu bahwa kisah mereka mungkin hanya akan mendapat ruang beberapa paragraf di halaman berita.
Sepatu Enly kembali berlumpur. Kali ini ia tidak keberatan. Bahkan ia sengaja tidak langsung membersihkannya. Sebab ia mulai memahami sesuatu yang sederhana: ada noda yang seharusnya tidak buru-buru dihilangkan.
Ada noda yang justru perlu disimpan sebagai pengingat. Bahwa pernah ada satu pagi ketika ia memilih berjalan ke tempat yang tidak nyaman. Dan pilihan kecil itu, entah bagaimana, membuatnya kembali mengerti siapa dirinya.
X
Harga Sebuah Kepercayaan
Dua bulan setelah peristiwa longsor di Desa Linouw, Don duduk di ruangan yang jauh berbeda.
Tidak ada lumpur. Tidak ada tenda. Tidak ada suara palu. Tidak ada kopi dari tungku kayu.
Yang ada hanya sebuah ruangan tua dengan meja panjang berlapis taplak hijau tua, beberapa kursi kayu, map-map dokumen yang ditumpuk tidak beraturan, dan sebuah kipas angin tua yang berputar malas di sudut ruangan.
Sesekali kipas itu mengeluarkan bunyi berdecit.
Ck.
Ck.
Ck.
Seolah ikut bosan dengan perkara yang sedang mereka sidangkan.
Don duduk di ujung meja. Di depannya terletak berkas perkara seorang wartawan muda dari media lain yang sedang diperiksa karena dugaan pelanggaran etik. Don tidak pernah meminta jabatan itu. Ia justru beberapa kali menolak ketika rekan-rekannya menyodorkan namanya sebagai Ketua Majelis Etik organisasi wartawan cabang daerah.
Tetapi mereka tetap memilihnya. Alasan mereka sederhana.
"Dia yang paling jarang kelihatan dekat-dekat amplop."
Ia sempat tertawa ketika mendengar alasan itu.
"Kalau ukuran ketua majelis cuma itu, banyak juga orang yang bisa."
"Tapi kau sudah delapan belas tahun."
"Justru itu alasan saya capek."
Mereka tetap memilihnya.
Dan sore itu, ia harus menjalankan pekerjaan yang sebenarnya jauh lebih sulit daripada menulis berita.
Menilai wartawan lain.
Di atas meja terdapat beberapa bukti: undangan kegiatan, salinan siaran pers, tangkapan layar percakapan, dan foto sebuah amplop berisi uang, beserta wartawan penerimanya.
Jumlahnya tidak besar.
Tidak cukup untuk membeli sesuatu yang mewah. Tidak cukup untuk mengubah hidup seseorang.
Tetapi Don tahu, persoalannya memang tidak pernah sesederhana jumlah uang.
Wartawan muda yang duduk di seberang meja tampak berusia sekitar dua puluh lima tahun. Kemejanya rapi. Celananya hitam. Tangannya terus bergerak memainkan ujung kertas. Matanya beberapa kali menunduk.
"Saudara mengakui menerima uang dari event organizer?"
Wartawan itu mengangguk pelan.
"Ya, Kak."
"Berapa?"
Ia menyebutkan jumlahnya.
Don menulis sesuatu.
"Sebagai apa?"
"Uang transport."
"Apakah ada kuitansi?"
Wartawan itu diam.
"Saudara?"
"Ndak ada, Kak."
Don mengangkat wajah.
"Apakah semua wartawan yang hadir menerima?"
"Setahu saya... iya."
"Setahu Saudara atau memang semua?"
"Setahu saya."
Don menutup pulpennya.
"Saudara tahu bedanya?"
Wartawan itu menggeleng.
"Kalau Saudara tidak tahu, jangan gunakan kata semua."
Ruangan mendadak hening.
Kipas angin terus berdecit.
Ck.
Ck.
Ck.
Don sebenarnya tidak ingin membuat sidang itu terasa seperti ruang interogasi. Ia tahu dirinya pernah menjadi wartawan muda. Ia tahu bagaimana rasanya duduk di hadapan orang-orang senior yang pertanyaannya terasa seperti tembok.
Tetapi ia juga tahu bahwa sidang etik bukan tempat untuk mencari siapa yang paling pandai membela diri. Ini tempat untuk melihat apakah seseorang masih memahami batas antara menerima fasilitas dan menjual independensi.
"Saudara menulis berita setelah menerima uang itu?"
"Ya."
"Berapa lama setelah acara?"
"Beberapa jam."
"Apakah Saudara melakukan verifikasi?"
"Siapa yang diverifikasi?"
Don mengangkat alis.
"Nah."
Wartawan muda itu terdiam.
"Beritanya sama persis dengan siaran pers," kata Sam, salah satu anggota Majelis Etik.
"Ndak persis, Pak."
"Bagian mana yang berbeda?"
Wartawan itu membuka mulut, tetapi tidak segera menjawab.
"Judulnya," katanya akhirnya.
Beberapa orang di ruangan itu menunduk.
Don menarik napas. Ia tidak ingin tertawa. Bukan karena lucu. Justru karena menyedihkan.
"Saudara tahu," katanya perlahan, "kalau hanya mengganti judul, itu bukan verifikasi."
Wartawan muda itu mengangguk.
"Saya cuma menerima ongkos, Kak."
Kalimat itu keluar dengan suara yang lebih keras, dilanjutkan.
"Semua wartawan juga begitu."
Don menatapnya.
Lama.
Ada sesuatu dalam kalimat itu yang mengingatkannya pada banyak hal. Pada wartawan-wartawan yang dulu ia kenal. Pada acara-acara yang menyediakan amplop sebelum wartawan sempat mencari tahu apa yang sebenarnya sedang diberitakan. Pada konferensi pers yang berubah menjadi jamuan makan. Pada pejabat yang lebih sibuk bertanya apakah berita sudah tayang daripada menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Dan tiba-tiba ia teringat ballroom hotel. Karpet merah. Lampu yang terlalu terang. Parfum mahal. Deodoran yang disemprotkan secepat kilat sebelum kamera datang. Dan pertanyaan yang ia lemparkan malam itu. Pertanyaan tentang warga yang masih tidur di tenda.
Don menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Bukan soal amplopnya besar atau kecil."
Wartawan muda itu menatapnya.
"Kalau jumlahnya seratus ribu, tetap masalah. Kalau satu juta, tetap masalah. Bahkan kalau cuma dibayarkan makan siang sekalipun, kita tetap harus tahu konteksnya."
Ia berhenti sebentar.
"Masalah utamanya bukan uang."
"Terus apa, Kak?"
Don menatapnya langsung.
"Begitu kau menerima sesuatu dari pihak yang sedang kau liput tanpa transparansi dan tanpa batas yang jelas, kau memberi mereka kesempatan untuk membeli sesuatu."
"Apa?"
"Independensi kau."
Wartawan muda itu menunduk.
Don melanjutkan dengan suara lebih rendah.
"Kita ini wakil publik. Bukan wakil event organizer. Bukan wakil pemerintah. Bukan wakil perusahaan."
Ia menunjuk berkas di atas meja.
"Pembacamu tidak menunggu brosur."
Ruangan kembali sunyi.
"Mereka menunggu berita."
Don menarik napas.
"Berita yang mungkin tidak menyenangkan bagi siapa pun. Termasuk orang yang memberi kita uang."
Wartawan muda itu mulai mengusap matanya.
"Saya tidak bermaksud menjual berita, Kak."
"Saya tahu."
Don mengatakannya tanpa meninggikan suara.
"Saya percaya Saudara mungkin tidak datang ke sini dengan niat menjual berita."
"Terus kenapa saya dihukum?"
Pertanyaan itu membuat Don diam sejenak.
"Karena dalam pekerjaan ini," katanya akhirnya, "niat baik saja tidak cukup."
Ia menatap wartawan muda itu.
"Seorang dokter bisa berniat baik tetapi tetap harus mengikuti prosedur. Pilot bisa berniat baik tetapi tetap harus mengikuti aturan. Wartawan juga begitu."
Ia mengetuk meja dengan ujung jarinya.
"Karena yang kita pertaruhkan bukan cuma nama kita."
"Yang kita pertaruhkan adalah kepercayaan orang."
Wartawan muda itu menangis.
Tidak keras.
Hanya air mata yang jatuh perlahan sementara ia berusaha menahannya dengan punggung tangan.
Don membiarkannya.
Tidak semua tangisan harus segera dihentikan. Kadang seseorang memang perlu merasa malu sebelum bisa memahami mengapa ia malu.
Sidang kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan dokumen dan keterangan tambahan.
Majelis menemukan bahwa berita tersebut memang dibuat berdasarkan siaran pers tanpa verifikasi memadai. Tidak ada upaya meminta tanggapan dari pihak lain. Tidak ada pertanyaan kritis. Tidak ada pemeriksaan data. Bahkan beberapa kalimat dalam berita hampir identik dengan materi promosi yang diberikan event organizer.
Yang lebih menyedihkan, wartawan muda itu mengaku bahwa ia merasa menerima uang tersebut sebagai sesuatu yang wajar.
"Di tempat saya bekerja, itu sudah biasa," katanya.
Kalimat itu justru membuat Don lebih lama terdiam.
Karena pelanggaran etik yang paling berbahaya bukanlah yang dilakukan karena seseorang tahu dirinya salah.
Yang paling berbahaya adalah ketika kesalahan sudah dianggap kebiasaan.
Ketika sesuatu yang seharusnya memalukan berubah menjadi budaya.
Ketika amplop tidak lagi terasa seperti amplop. Ia berubah menjadi "uang transport".
Ketika siaran pers tidak lagi dianggap bahan awal.
Ia berubah menjadi berita.
Dan ketika wartawan berhenti bertanya, pembaca akhirnya kehilangan alasan untuk percaya.
Majelis akhirnya menjatuhkan teguran keras dan mewajibkan wartawan tersebut menyampaikan permintaan maaf secara terbuka serta mengikuti pembinaan etik jurnalistik.
Hukuman itu tidak membuatnya bangkrut. Tidak membuatnya kehilangan pekerjaan. Tidak membuat namanya diumumkan di halaman depan surat kabar. Tetapi mungkin justru karena itu, hukuman tersebut terasa lebih berat.
Selesai sidang, Don keluar dari ruangan.
Lorong terasa sepi.
Cahaya sore masuk dari jendela yang kacanya sudah buram.
Ia baru beberapa langkah ketika mendengar suara seseorang menangis. Wartawan muda itu duduk di bangku panjang dekat tangga.
Sendirian.
Kepalanya tertunduk. Tangannya menutup wajah.
Don berhenti.
Untuk beberapa detik ia hanya berdiri.
Ada bagian dari dirinya yang ingin berjalan terus.
Bagaimanapun, keputusan sudah dibuat.
Tetapi ada bagian lain yang membuatnya kembali.
Don duduk di sebelahnya.
Mereka tidak langsung berbicara.
Tangisan itu perlahan mereda.
"Marah sama saya?" tanya Don.
Wartawan muda itu menggeleng.
"Nda."
"Kecewa?"
Diam.
"Mungkin."
Don mengangguk.
"Bagus."
Wartawan itu menoleh, bingung.
"Bagus?"
"Kalau kau kecewa, berarti kau masih peduli."
Ia menatap lorong di depan mereka.
"Yang lebih saya takutkan justru kalau kau keluar dari sini dan merasa tidak ada yang salah."
Wartawan muda itu kembali menunduk.
"Masih bisa jadi wartawan yang baik, Kak?"
Don tersenyum tipis.
"Kalau tidak bisa, saya tidak akan duduk di sini."
Mereka kembali diam.
Beberapa saat kemudian Don berdiri. Sebelum pergi, ia berkata, "Jangan ingat hukuman hari ini."
Wartawan itu mengangkat wajah.
"Ingat rasa malu hari ini."
Don berhenti sebentar.
"Supaya nanti, kalau ada orang menyodorkan amplop lagi, kau tahu persis apa yang harus kau lakukan."
Wartawan muda itu mengangguk.
Don berjalan meninggalkan lorong.
Di luar, hujan baru saja turun. Aspal halaman terlihat mengilap terkena lampu kendaraan.
Don melihat ke bawah. Sepatunya bersih. Tidak ada lumpur. Tidak ada noda tanah. Hanya debu tipis yang menempel di bagian sol.
Ia tiba-tiba teringat Desa Linouw. Teringat Oma Lenny. Teringat kopi pahit. Teringat Enly. Dan teringat pertanyaan yang pernah ia ajukan di ballroom hotel.
Ia tersenyum kecil.
Mungkin menjadi wartawan memang bukan tentang menjaga sepatu tetap bersih. Mungkin justru sebaliknya. Sesekali kita harus bersedia membuatnya kotor. Bersedia masuk ke tempat yang tidak nyaman. Bersedia bertanya ketika semua orang memilih diam.
Dan yang paling penting, bersedia menolak sesuatu yang mungkin membuat hidup kita sedikit lebih mudah, tetapi membuat berita kita kehilangan sesuatu yang jauh lebih mahal.
Kepercayaan.
Don terus berjalan menuju motor bututnya yang terparkir di bawah pohon rindang.
Di belakangnya, pintu ruang sidang etik perlahan tertutup.
Di dalam sana, seorang wartawan muda mungkin sedang belajar untuk pertama kalinya bahwa independensi bukan slogan yang ditulis di dinding kantor.
Ia adalah keputusan-keputusan kecil. Keputusan yang sering kali tidak dilihat siapa pun. Termasuk keputusan untuk menolak sebuah amplop ketika tidak ada kamera yang sedang merekam.
Dan mungkin, pikirnya, justru di situlah seorang wartawan benar-benar diuji. Bukan ketika semua orang melihat. Tetapi ketika tidak ada seorang pun yang melihat. (Bersambung)
Sebelumnya:
Sepatu Berlumpur di Karpet Merah — Cerpen (Bab 7-8)


Komentar
Posting Komentar