Sepatu Berlumpur di Karpet Merah — Cerpen (Bab 7-8)
Kita Ini Buruh, Bukan Orang Mall
📖 DAFTAR ISI
VII
Kita Ini Buruh, Bukan Orang Mall
![]() |
| Rehat sejenak di balik riuk liputan: tiga jurnalis bertukar cerita di tangga darurat gedung berlatar gemerlap lampu kota malam. Gambar hanya ilustrasi yang dibuat berkolaborasi dengan AI. |
Selesai acara, Don mencari Tom yang ternyata sudah lebih dulu sampai di hotel—ditugaskan terpisah untuk memotret momentum konferensi pers—penyampaian atau janji Kepala Daerah terkait bantuan bagi korban bencana longsor.
Mereka lalu bergeser, duduk di tangga darurat hotel—bukan di lobi yang berkilau, melainkan di tangga belakang dekat tempat sampah dapur, tempat satu-satunya sudut yang mengizinkan mereka merokok sambil bercakap menunggu pulang.
Enly menyusul beberapa menit kemudian, masih dengan sepatu kets putihnya yang kotor, tapi wajahnya lebih segar dibandingkan pagi tadi di lokasi bencana longsor—wajah orang yang baru saja menyelesaikan liputan pertama yang benar-benar berat, dan diam-diam bangga karena berhasil melewatinya.
"Enak ya jadi orang mall," celetuk Tom seraya menghembuskan asap rokoknya ke udara malam yang mulai menggigit dingin. "Sepatu bersih, baju wangi, jalan aja nda capek."
"Enak," jawab Don. "Tapi coba kau tanya, siapa yang tahu duluan kalau ada longsor di Desa Linouw? Siapa yang jongkok di lumpur pagi-pagi demi orang-orang itu bisa baca berita jam setengah delapan pagi sambil minum kopi dan sarapan di rumah mereka yang aman?"
Tom tertawa kecil, tawa yang keluar dari tenggorokan yang sudah serak karena bicara seharian. "Kita ini memang bukan orang mall, Bung."
"Bukan. Kita buruh. Cuma alat kerja kita bukan cangkul, tapi kamera sama recorder."
Enly mendengarkan sambil menyandarkan punggung ke tembok, matanya menerawang ke lampu-lampu kota yang berkelip di kejauhan, jauh di bawah bukit tempat hotel itu berdiri.
"Kak," katanya pelan, "tadi waktu Kepala Daerah nanya 'Saudara wartawan mana', aku deg-degan banget. Takut Kak dimarahi."
"Itu bukan marah, Enly," jawab Don. "Itu kaget. Orang yang biasa dikelilingi jawaban 'ya, Pak, siap, Pak' suka kaget kalau tiba-tiba ada yang nanya balik. Tapi justru di situ gunanya kita. Kalau kita ikut manggut-manggut aja, buat apa ada wartawan?"
"Tapi, Bung," sela Tom lagi, lebih pelan. "Kadang aku berpikir, kenapa kita nda pindah profesi aja. Gaji kita nda seberapa. Sementara yang kita liput, yang kita bela, malah hidupnya nyaman-nyaman aja."
Don menatap bara rokoknya yang perlahan memendek, seperti sisa waktu yang terus berkurang tanpa bisa ditahan. "Karena kalau kita pindah, siapa yang jongkok di lumpur pagi-pagi, sarapan seadanya di atas reruntuhan? Kau pikir orang bertampang mall mau turun ke sana?"
Ia sengaja tidak menjawab secara langsung pertanyaan Tom soal gaji secara utuh. Ia tahu jawabannya rumit, dan malam itu bukan waktu yang tepat untuk berpura-pura punya solusi. Yang ia tahu pasti, gaji wartawan Indonesia memang harus naik—dan naik lagi. Tidak ada yang salah dengan ingin hidup layak, ingin sesekali makan di restoran hotel tanpa merasa jadi tamu tak diundang, ingin punya sepatu yang tidak perlu dicuci setiap pulang kerja. Tapi ia juga tahu, kalau kenyamanan itu datang dengan harga menjauhkan diri dari lumpur, dari bau solar, bau keringat, bau jelaga dapur, dari tangis Oma Lenny di tenda terpal—maka itu bukan lagi keberhasilan seorang wartawan. Itu kepindahan kewarganegaraan: dari warga lapangan menjadi warga mall.
"Enly," katanya seraya menoleh ke wartawan magang itu, "sepatu kau yang rusak tadi, jangan dibuang. Simpan saja. Nanti lima tahun lagi, kalau kau sudah jadi redaktur, lihat lagi sepatu itu. Biar kau ingat, kau pernah tahu rasanya berdiri di lumpur demi orang lain."
Enly mengangguk, entah paham sepenuhnya atau tidak, tapi matanya berkaca-kaca sedikit—mungkin karena lelah, mungkin karena sesuatu yang lain yang belum ia punya nama untuk menyebutnya.
VIII
Wartawan Dilahirkan untuk Berdebu
Pukul sebelas malam, Don sampai di rumah. Istrinya sudah tidur di sofa sambil menunggu, dengan televisi menyala tanpa suara, hanya cahayanya yang berkedip-kedip di dinding ruang tamu.
"Sudah makan?" tanya Istrinya setengah sadar, tanpa membuka mata sepenuhnya."Sudah," jawab Don, karena tidak ingin istrinya bangun dan repot-repot menghangatkan makanan jam segini. Don hanya menyantap nasi kuning yang tersimpan di jok motor bututnya. Nasi kuning yang dibelinya saat perjalanan ke hotel untuk mengikuti konferensi pers.
Ia melepas sepatunya, meletakkannya berjajar dengan sepatu-sepatu lama miliknya yang sudah pensiun—empat pasang, semuanya menyimpan riwayat lumpur dari berbagai lokasi bencana, dari berbagai kampung yang mungkin sudah dilupakan orang lain tapi tidak oleh telapak sepatu itu sendiri.
Ia berdiri sebentar di depan cermin kecil di dinding, cermin murah yang bingkai kayunya sudah mulai lapuk. Wajahnya lelah. Ada guratan debu tipis di dahi, bekas keringat yang mengering membentuk peta kecil di kulitnya sendiri.
Ia teringat wajah perempuan resepsionis hotel tadi—sorot mata yang menahan tanya tanpa berani mengucap. Ia teringat wartawan ibu kota, Jos, yang sepatunya tak berdebu sedikit pun. Ia teringat Pak Kepala Daerah yang menyemprotkan parfum secepat kilat sebelum masuk mobil. Ia teringat karpet merah yang begitu bersih, seakan tidak pernah diinjak siapa pun yang berkeringat. Dan ia teringat mata Enly yang berkaca-kaca di tangga darurat tadi.
Lalu ia tersenyum sendiri di depan cermin—senyum yang sama dengan senyumnya di tangga darurat hotel tadi. Bukan senyum pahit. Justru senyum yang datang dari sebuah pengakuan yang tenang: bahwa dirinya memang tidak bertampang mall, dan mungkin tidak akan pernah.
Wartawan memang tidak dilahirkan untuk berkilat. Wartawan dilahirkan untuk berdebu, supaya orang lain bisa membaca dunia tanpa harus turun sendiri ke lumpurnya. (Bersambung)
Sebelumnya:
Sepatu Berlumpur di Karpet Merah (Cerpen)


Komentar
Posting Komentar