Kopi yang Tak Sempat Dingin
Oleh: Donny Turang
📖 DAFTAR ISI
![]() |
| Secangkir kopi yang ditinggalkan di teras ketika suasana pagi berubah menjadi kepanikan setelah longsor melanda perbukitan desa. Gambar hanya ilustrasi yang dibuat berkolaborasi dengan AI. |
I
Kopi yang Tak Sempat Dingin
Pukul lima subuh, kota itu basah oleh embun dan ketenangan yang belum tahu akan segera berakhir.
Don duduk di teras rumah, menikmati kopi hitam tanpa gula, uapnya naik pelan-pelan seperti tidak punya urusan mendesak apa pun pagi itu. Ia baru saja menyesap tegukan kedua ketika ponselnya bergetar di atas meja, di sebelah cangkir yang uapnya masih mengepul—getaran pendek yang, entah kenapa, selalu terasa lebih mengganggu daripada deringnya sendiri, seperti sesuatu yang tahu diri untuk tidak berisik tapi tetap memaksa untuk didengar.
"Bang Don, ada longsor. Perbukitan di Desa Linouw," suara di seberang—Willy, koordinator liputan—terdengar terburu-buru, seperti sedang berjalan cepat sambil bicara.
"Linouw," ulang Don, separuh bertanya separuh memastikan, tangannya sudah refleks meraih kunci motor yang tergantung di paku dekat pintu.
"Iya. Otw sekarang ya, Bang. Warga panik, katanya ada rumah roboh dan tertimbun."
Sambungan terputus sebelum Don sempat menjawab. Ia menenggak sisa kopi dalam satu tegukan panjang, tanpa sempat merasakan pahitnya, lalu menyambar sepatu kets yang biasa dipakainya, menjejalkan kaki tanpa sempat mengikat tali dengan benar. Kamera disampirkan ke leher, terayun-ayun memukul-mukul dadanya sendiri—seolah ikut protes karena pagi yang tadinya tenang itu mendadak harus berakhir tergesa-gesa.
Motor bututnya, yang sudah sepuluh tahun lebih menemani setiap panggilan liputan dadakan, diengkol dua kali sebelum akhirnya menyala dengan suara batuk-batuk khas mesin tua. Don memacunya menembus jalanan kota yang masih sepi, melewati tikungan yang sudah ia hafal luar kepala, menanjak ke arah Desa Linouw sambil sesekali menoleh ke langit—memastikan arah asap tipis yang mulai terlihat di kejauhan, tanda bahwa lokasi yang dituju sudah semakin dekat.
Jalan menuju perbukitan itu makin lama makin buruk—aspal retak berganti tanah berbatu, lalu tanah berbatu itu sendiri mulai basah dan licin, sisa longsoran kecil yang menjalar sampai ke pinggir jalan. Motornya beberapa kali nyaris tergelincir, tapi Don sudah terlalu terbiasa dengan medan semacam ini untuk merasa takut. Yang ia pikirkan hanya satu: sampai secepat mungkin, sebelum momen-momen penting di lokasi terlewat begitu saja.
Lima belas menit kemudian, dari kejauhan, ia sudah bisa mendengarnya—bukan gemuruh dahsyat seperti di film-film dengan efek dolby stereo, melainkan riuh yang lebih membumi: teriakan warga yang panik, saling bersahutan, memecah udara pagi yang sebelumnya begitu tenang di rumahnya sendiri.
"Longsor! Longsor di perkebunan ujung kampung!"
Don memarkir motornya asal di pinggir jalan, tidak peduli standarnya benar-benar tegak atau tidak, lalu berlari ke arah kerumunan dengan kamera yang masih berayun liar di lehernya.
Tanah longsor itu tidak terlalu luas, tetapi daya rusaknya cukup untuk menimbun satu los kandang babi, merobohkan pagar bambu, dan membuat beberapa rumah panggung roboh, serta rumah milik Oma Lenny miring lima belas derajat—cukup untuk membuat piring-piring di dapurnya merosot pelan-pelan dari rak, satu per satu, seperti orang yang memutuskan pergi tanpa pamit.
Don sudah delapan belas tahun jadi wartawan. Ia tahu persis apa yang akan terjadi pada tubuhnya dalam lima menit pertama di lokasi bencana: sepatu akan penuh lumpur sampai mata kaki. Celana akan basah di bagian lutut karena berkali-kali jongkok memotret. Tangan akan gatal-gatal disentuh pohon bambu dan ilalang yang baru saja tumbang. Dan hidung, ini yang paling setia menemani, akan menyimpan bau tanah basah bercampur debu material bangunan dan asap dapur warga, menempel sampai jauh ke malam nanti.
Ia memotret. Ia mewawancarai. Ia menulis di ponsel sambil berdiri dengan satu kaki menekan reruntuhan supaya tidak melorot. Enam jam berlalu seperti itu—jongkok, berdiri, jongkok lagi—sampai matahari sudah tegak lurus di atas kepala dan keringatnya sudah berubah asin di ujung bibir.
Rekan sekaligus fotografernya, Tom, muncul dari balik tenda darurat yang didirikan warga sambil membawa botol air minum dan dua bungkus roti.
"Makan dulu," kata Tom, menyodorkan bungkusan yang plastiknya sudah lembek kena embun pagi dan sengatan matahari.
Don menerimanya dengan tangan yang masih berlepotan lumpur kering, retak-retak seperti tanah kemarau di punggung tangannya. Ia makan sambil duduk di atas batu, ditemani dua ekor ayam yang entah bagaimana caranya selamat dari longsor dan sekarang mengais-ngais tanah dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.
Begitulah wartawan sarapan. Bukan dengan taplak putih, melainkan dengan reruntuhan sebagai meja dan ayam sebagai teman semeja yang tidak banyak protes.
Di sekelilingnya, warga sibuk dengan cara masing-masing menghadapi kehilangan. Seorang bapak tua memunguti material bangunan yang masih utuh dari reruntuhan rumahnya, menyusunnya rapi seolah sedang menyusun puzzle yang gambarnya sudah ia hafal luar kepala. Dua anak kecil, tidak sepenuhnya paham apa yang terjadi, malah asyik bermain kejar-kejaran di sela tumpukan tanah, tertawa-tawa seolah longsor itu hanyalah taman bermain baru yang dibuat alam untuk mereka. Suara tawa anak-anak itu, di tengah reruntuhan, adalah bunyi paling ganjil sekaligus paling menenangkan yang pernah Don dengar—bukti bahwa kehidupan, sekeras apa pun dihantam, selalu menemukan celah kecil untuk tetap bernapas.
Di sela suapan itu, ponselnya berdering lagi. Satu nama muncul di layar yang retak di sudut kanan atas: Syenly—wartawan magang yang baru tiga bulan bergabung di redaksi, akrab disapa Enly.
"Kak Don, saya di lokasi juga, tapi... saya nggak berani dekat-dekat reruntuhan. Takut ambruk lagi. Gimana caranya dapat foto yang bagus tanpa harus terlalu dekat?"
Don menghela napas, separuh geli, separuh maklum. Delapan belas tahun lalu, ia juga pernah bertanya hal serupa kepada seniornya, dengan suara yang sama gemetarnya.
"Turun pelan-pelan," jawabnya. "Cari sudut aman, tapi jangan cari sudut nyaman. Itu dua hal beda, Enly. Nanti saya temani sebentar."
Ia memasukkan bongkahan terakhir roti ke mulut, mengunyah cepat, lalu berdiri sambil menepuk-nepuk celananya yang penuh remah dan debu. Di kejauhan, terdengar suara sirene—suara yang membuat semua orang menepi memberi jalan. Suara "ngiiing-ngiiing" itu naik turun tidak beraturan, dan entah kenapa suara itulah yang selalu berhasil membuat dada Don berdegup lebih kencang daripada longsor itu sendiri—sebab di baliknya, ia tahu, ada orang yang sedang dipertaruhkan nyawanya.
II
Sepatu yang Belum Pernah Kotor
Enly muncul sepuluh menit kemudian, mengenakan sepatu kets putih yang—Don bisa menebak—baru dibeli minggu lalu, mungkin khusus untuk kerja lapangan pertamanya. Sepatu itu sekarang sudah berubah warna di bagian ujung, seperti kapur ditumpahi kopi.
"Sepatu saya rusak, Kak," keluh Enly, memandangi sepatunya dengan wajah yang setengah kecewa setengah geli sendiri.
"Selamat," kata Don sambil tersenyum. "Sepatu yang belum pernah kotor itu tandanya belum pernah dipakai kerja betulan."
Enly mengerutkan kening, tidak sepenuhnya paham, tapi mengangguk saja—cara paling sopan seorang junior menghadapi senior yang suka bicara filosofis di tengah bencana.
Don membimbingnya mendekati reruntuhan, menunjukkan cara mengambil sudut yang menunjukkan skala kerusakan tanpa membahayakan diri, cara mewawancarai korban tanpa terkesan mengorek luka, cara mencatat nama dan usia dengan cepat sebelum narasumber keburu pergi mengungsi.
"Kenapa Kak masih mau turun ke lapangan begini? Bukannya Kak sudah jadi redaktur pelaksana?" tanya Enly, sambil menyeka keringat dengan lengan bajunya.
Pertanyaan itu sederhana, tapi menohok, seperti kebanyakan pertanyaan polos dari orang yang belum lama bekerja.
"Karena hari ini kantor kekurangan orang, dan longsor tidak pernah menunggu jadwal rapat redaksi," jawab Don. Lalu, setelah jeda sejenak, ia menambahkan, lebih pelan, lebih jujur. "Dan karena kalau semua yang sudah naik jabatan berhenti turun ke lapangan, lama-lama kita lupa rasanya jadi manusia yang berlumpur, Enly. Itu bahaya. Bukan cuma buat wartawan. Buat siapa saja yang punya jabatan."
Enly diam sejenak, menatap sepatu ketsnya yang kini bercorak lumpur, lalu menatap Don—seolah baru menyadari bahwa pertanyaan yang tadi ia lontarkan asal-asalan, ternyata punya jawaban yang jauh lebih berat dari yang ia duga. (Bersambung)


Komentar
Posting Komentar