Nyasar di Lobi yang Berkilat
Oleh: Donny Turang
📖 DAFTAR ISI
III
Nyasar di Lobi yang Berkilat
Mendekati jam empat sore, ponsel Don bergetar lagi—kali ini dari Pak Jeffrey, pemimpin redaksi.
"Bang, malam ini ada jumpa pers di hotel. Pak Kepala Daerah mau umumkan bantuan buat korban longsor Desa Linouw. Wajib hadir, ini penting buat rubrik besok. Sori ya, tau Abang capek."
Ia menatap layar ponselnya, lalu menatap sepatu ketsnya sendiri—sepatu yang tadinya cokelat, sekarang berwarna tanah, dengan tekstur yang menyerupai kerak bumi purba. Ia mendengus. Dalam hati ia bertanya-tanya: apakah sepatu ini akan diberi kesempatan berganti sebelum bertemu karpet merah?
Jawabannya, seperti biasa, tidak.
Pukul tujuh malam, setelah berjam-jam nonstop di lapangan tanpa sempat mandi—hanya sempat mencuci wajah, kaki dan tangan menggunakan air seadanya di lokasi bencana, Don melaju dengan sepeda motor bututnya sebagaimana permintaan pemimpin redaksinya. Di lampu merah, ia menyempatkan menyeka wajah dengan tisu basah yang diambil dari jok motornya—Don memasuki lobi hotel bintang empat itu.
Lobinya dingin. Bukan dingin karena angin pegunungan Tomohon, melainkan dingin buatan, dari AC yang disetel seolah-olah ingin membuktikan bahwa uang bisa membeli cuaca. Lantai marmernya berkilat sedemikian rupa sehingga Don bisa melihat pantulan wajahnya sendiri—lelah, berdebu, dengan sisa lumpur kering di ujung dagu yang masih tersisa saat membasuh wajah.
Orang-orang di lobi itu berbeda spesies dengannya. Sepatu mereka bersih, mengilat seperti baru dikeluarkan dari kardus. Kulit mereka pucat rapi, seolah matahari hanya diizinkan menyapa mereka lewat kaca mobil yang dilapisi kaca film anti-UV. Baju mereka licin disetrika, lipatannya tajam seperti bisa dipakai memotong kertas. Dan yang paling mencolok: tangan mereka nyaris kosong. Kalaupun membawa belanjaan, sudah ada yang mendorongkan troli, ada yang mengangkat tas berlogo mahal, ada yang sekadar berjalan sambil menggenggam kunci mobil—bukti bahwa mereka tidak pernah benar-benar perlu bertenaga untuk apa pun.
Don menggenggam recorder-nya seperti orang miskin menggenggam satu-satunya harta: alat perang sekaligus alat pertahanan diri.
Seorang perempuan muda berseragam hotel, dengan senyum yang sudah dilatih bertahun-tahun untuk tidak pernah luntur, menyambutnya di pintu ballroom.
"Selamat malam, Pak. Untuk acara resepsi atau konferensi pers?"
"Konferensi pers," jawab Don, agak terbata, seolah kata-kata itu tiba-tiba terasa asing di lidahnya yang seharian ini lebih sering meneriaki warga—mengingatkan bahaya pascalongsor—dan menenangkan ibu-ibu yang menangis melihat rumah dan dapur beserta isinya yang hancur berantakan.
Perempuan itu mengangguk sopan, matanya sekilas turun ke sepatu Don, lalu naik lagi secepat kilat, seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi Don tahu. Ia sudah delapan belas tahun membaca mata orang. Sorot mata itu berbunyi jelas meski mulutnya diam: bapak ini nyasar dari mana?
IV
Bukan Wakil Diri Sendiri
Ballroom itu penuh cahaya lampu kristal, dan wangi—wangi parfum bercampur wangi kopi mahal yang disajikan dalam cangkir sekecil telur puyuh. Don duduk di kursi paling belakang, berdekatan dengan tiang, seperti orang yang sengaja menyembunyikan diri dari fotografer resmi acara.
Di kursi sebelahnya, seorang wartawan senior dari media ibu kota—Don mengenalnya sebagai Jos, yang katanya sudah tiga tahun tidak pernah lagi turun liputan bencana karena "sudah ada tim lapangan sendiri"—duduk dengan setelan safari rapi, sepatu pantofel yang bahkan tidak berdebu sedikit pun meski baru turun dari mobil pribadinya atau kendaraan dinas kantornya.
"Wah, Om Don langsung dari lokasi ya," sapa Jos, sambil melirik sepatu Don dengan senyum yang sedikit menyindir. "Padahal kan bisa suruh anak buah dulu, baru Om datang pas jumpa pers aja."
Don tersenyum tipis. "Kalau semua atasan berpikir begitu, lama-lama nggak ada yang tahu rasanya jongkok di lumpur, Jos. Nanti berita kita jadi berita dari balik meja, bukan dari lapangan."
Jos tertawa kecil, tawa yang lebih terdengar seperti permakluman sopan daripada persetujuan sungguhan, lalu kembali sibuk dengan ponselnya.
Tak lama berselang, Pak Kepala Daerah didampingi wakilnya, naik podium, berpidato tentang "keprihatinan mendalam", tentang "komitmen pemerintah", tentang "bantuan tanggap darurat yang akan segera disalurkan". Kata-kata itu meluncur mulus, seperti sudah dihafal dari draf yang disiapkan staf humas, dibacakan dengan intonasi yang sama datarnya dengan iklan obat masuk angin di televisi.
Don menulis di buku catatannya yang sampulnya sudah lecek kena keringat: janji bantuan—kapan? berapa? untuk berapa KK—kepala keluarga?
Sesi tanya jawab dibuka. Don mengangkat tangan.
"Pak, tadi pagi saya di lokasi bencana. Ada tujuh KK kehilangan tempat tinggal, satu di antaranya lansia yang harus digotong. Bapak bilang bantuan akan 'segera'—bisa dipastikan besok pagi sudah ada tenda dan logistik di lokasi, atau ini janji politik biasa yang baru terealisasi kalau ada kamera lagi?"
Ruangan hening sejenak. Beberapa staf protokol dan humas saling lirik. Sama seperti jajaran pejabat yang mendampingi 'bos' mereka. Pak Kepala Daerah tersenyum kaku, senyum yang dipaksakan seperti sepatu kekecilan.
"Saudara ini wartawan mana? Kok pertanyaannya provokatif begitu."
Don tidak gentar. Ia sudah terbiasa dengan pertanyaan semacam ini, pertanyaan yang sebenarnya adalah cara halus untuk berkata: kenapa kamu berani bertanya seperti itu kepada saya? Saya ini kepala daerah.
"Saya bukan mewakili diri saya, Pak," jawab Don tenang, sambil menahan bau solar dan keringat yang masih menempel di kerah bajunya sendiri. "Saya mewakili Oma Lenny yang rumahnya miring lima belas derajat sejak subuh tadi, dan sekarang tidur di tenda terpal sambil menunggu kepastian dari mulut Bapak. Pertanyaan saya ini bukan pertanyaan saya pribadi, Pak. Ini pertanyaan publik yang saya titipkan lewat mikrofon ini."
Hening lagi. Kali ini lebih lama.
Pak Kepala Daerah akhirnya menjawab, lebih hati-hati, memberi angka, memberi tenggat waktu—sesuatu yang sebelumnya tidak ada dalam draf pidatonya. Staf humas di sampingnya buru-buru mencatat, seperti baru sadar bahwa janji tanpa angka hanyalah bunyi.
Sesi selesai. Para tamu bergegas menuju meja prasmanan yang aromanya menggoda—ada bau daging panggang, bau rempah, bau mentega meleleh di atas roti hangat.
Don sebenarnya sempat membeli nasi kuning dalam perjalanan menuju hotel, tetapi bungkusan itu masih tersimpan utuh di jok motor. Perutnya sudah keroncongan sejak sore, tapi kepalanya terlalu penuh oleh suara warga, angka-angka kerugian, dan janji bantuan yang baru saja diucapkan di atas podium untuk sekadar memikirkan makan.
Botol air mineral pemberian Tom masih berada di tangannya. Ia menyingkir ke sudut ballroom, membuka kembali catatan di ponselnya, lalu mengetik satu per satu sebelum detail-detail hari itu menguap bersama lelah.
Seorang wartawan tahu: berita yang tidak segera ditulis akan segera berubah menjadi ingatan. Dan ingatan, seperti lumpur yang mengering di sepatu, mudah dibersihkan dari permukaan. (Bersambung)
Selanjutnya
Sepatu Berlumpur di Karpet Merah — Cerpen (Bab 5-6)
Sebelumnya:

Komentar
Posting Komentar