Sepatu Berlumpur di Karpet Merah — Cerpen (Bab 5-6)
📖 DAFTAR ISI
V
Lelah yang Tidak Berlumpur
Sang Kepala Daerah turun podium diikuti jajarannya. Rombongan melewati Don dengan langkah pongah dan cepat, ajudan di kiri-kanan seperti pengawal raja kecil. Sebelum masuk ke mobil dinasnya yang ber-AC dingin dan berbau parfum mobil beraroma vanila, Don melihatnya—sekilas, tapi jelas—mengeluarkan botol kecil dari saku jasnya dan menyemprotkannya ke kerah baju sendiri.
Deodoran. Atau parfum. Entahlah. Yang pasti, semburan cepat itu seolah berkata: bau lapangan tadi cukup sampai di sini saja, jangan ikut masuk ke mobil.
Don tersenyum sendiri, senyum kecil yang lebih mirip embusan napas daripada ekspresi bahagia. Tidak marah. Justru merasa lucu—dan sedikit iba. Bagaimana mungkin seseorang bisa menyemprotkan wewangian ke bajunya secepat itu, tapi lupa menyemprotkan kepastian yang sama cepatnya kepada tujuh KK yang kehilangan rumah?
Ia teringat, delapan belas tahun lalu, ketika pertama kali diterima magang di sebuah koran kecil. Gajinya waktu itu—kalau bisa disebut gaji—cukup untuk ongkos angkot dan sebungkus mi ceplok di warung kecil ujung jalan. Pagi hingga sore hari menjadi wartawan lapangan, dan menulis berita di malam hari sampai mata perih menatap layar komputer kantor yang monitornya masih model tabung, berdengung seperti nyamuk raksasa setiap kali dinyalakan.
Naik jadi asisten redaktur butuh tiga tahun. Naik menjadi redaktur butuh dua tahun lagi. Naik jadi redaktur pelaksana butuh empat tahun lagi—diantara redaktur dan redaktur pelaksana Ia pernah ditugaskan menjadi koordinator liputan.
Dan di setiap jenjang itu, gaji orang di atasnya—entah kenapa—selalu tiga hingga lima kali lipat dari gaji wartawan lapangan yang justru paling sering pulang larut, paling sering terjebak hujan, paling sering melewatkan makan malam bersama keluarga karena harus mengejar tenggat.
Tapi mereka yang duduk di ruang ber-AC itu, yang paling jarang lagi turun ke jalan berdebu, juga punya alasan sendiri: rapat proyeksi liputan sampai larut, mengedit naskah anak buah sampai mata berkunang-kunang, memikirkan strategi supaya media tetap hidup di tengah zaman ketika berita gratis bertebaran di media sosial. Mereka juga lelah, hanya saja lelahnya tidak berlumpur.
Don pernah merasakannya. Ia pernah jadi wartawan lapangan, asisten redaktur, redaktur, koordinator liputan, redaktur pelaksana. Duduk di kursi kantor dari jam sembilan pagi sampai jam dua malam—subuh, menatap layar berisi puluhan naskah masuk dari wartawan lapangan, dan redaktur, mencoret kalimat yang bertele-tele, menajamkan judul yang lembek, menahan diri untuk tidak marah kepada wartawan muda yang salah menulis nama narasumber untuk kesekian kali. Waktu itu ia jarang pulang sebelum tengah malam, jarang sempat menemani anaknya belajar, dan lebih sering tidur di sofa, bahkan meja rapat kantor daripada di kasur sendiri.
Ia ingat betul, suatu malam, seorang office boy bertanya kepadanya sambil menyapu lantai ruang redaksi yang sudah sepi, "Bapak nda capek kerja begini terus?"
Don tertawa waktu itu, tawa yang lebih mirip helaan napas panjang. "Capek. Tapi kalau berhenti, siapa yang pastikan berita besok pagi enak dibaca?"
Rupanya, katanya dalam hati sekarang, capek di balik meja dan capek di lumpur itu sama beratnya, hanya bentuknya berbeda. Yang satu menggerus punggung dan mata. Yang satu lagi menggerus telapak kaki dan kesabaran. Tapi keduanya sama-sama dibayar dengan angka yang, jika dibandingkan dengan jam kerja dan risiko yang diambil, sering kali terasa tidak adil.
VI
Cincin yang Dipinjam Mama
Ada satu kenangan yang selalu muncul setiap kali Don berdiri di lobi hotel semacam ini: malam ketika ia hampir berhenti jadi wartawan.
Waktu itu tahun kesepuluhnya bekerja. Anak pertamanya baru lahir, dan gaji dari kantor medianya saja tidak cukup menopang kebutuhan yang tiba-tiba membengkak. Don kemudian memilih membantu dua kawannya membangun portal berita digital sebagai pendapatan sampingan—modal patungan, kantor menumpang di ruko sewaan, server dan internet yang sering down kalau cuaca buruk. Tapi gajinya sebagai redaktur di portal itu pun tetap tidak cukup untuk membeli susu bayinya.
Istrinya, waktu itu tidak pernah mengeluh secara langsung. Ia hanya diam-diam menjual cincin kawinnya yang tipis itu ke toko emas di pasar lama, dan berbohong kepada Don bahwa cincin itu "dipinjam Mama sebentar".
Don baru tahu kebenarannya tiga tahun kemudian, ketika isterinya bercerita sambil tertawa getir, seolah itu lelucon lama yang sudah tidak menyakitkan lagi.
"Kenapa nda bilang waktu itu?" tanya Don, suaranya tercekat.
"Karena kau lagi semangat-semangatnya bangun portal itu," jawab isterinya. "Aku nda mau kau berhenti cuma gara-gara aku cerita hal kecil begitu."
Hal kecil. Padahal itu cincin kawinnya.
Don tidak pernah lupa percakapan itu. Dan setiap kali seseorang menyemprotkan minyak wangi mahal di depannya sambil membicarakan "keprihatinan mendalam" terhadap rakyat kecil, ingatan tentang cincin isterinya itu muncul lagi—diam-diam, tanpa suara, seperti bau solar, bercampur keringat dan jelaga dapur dari rumah yang tertimpa longsor, yang seakan masih menempel di kerah baju yang tidak bisa hilang sekali cuci.
Bukan berarti ia menyesal. Portal yang ia bangun waktu itu—bersama rekannya—akhirnya hidup, sempat menjadi rujukan berita daerah, sebelum akhirnya ia memilih pindah lagi ke media lain yang lebih mapan demi kepastian penghasilan bagi keluarganya. Tapi kenangan tentang cincin kawin itu tetap tinggal, seperti bekas luka kecil yang tidak sakit lagi tapi tetap terlihat kalau disorot cahaya yang tepat.
Yang paling ia syukuri, isterinya tidak pernah sekali pun menyuruhnya berhenti. Bahkan di malam-malam tersulit itu, istrinya hanya berkata, "Kau kerjakan yang kau yakini benar. Soal makan, kita cari jalan sama-sama."
Kalimat itu, sederhana dan tanpa nada mengeluh, adalah alasan mengapa Don masih bertahan sampai hari ini—bukan karena ia pahlawan, melainkan karena ada seseorang di rumah yang percaya bahwa profesi yang berlumpur ini tetap layak diperjuangkan. (Bersambung)
Sebelumnya:


Komentar
Posting Komentar