Kampung yang Menunggu—Cerita Bersambung

Setiap kali reses datang, warga kampung kembali membawa harapan dan pulang membawa janji yang hampir sama. Jalan tetap rusak, air bersih susah didapat, dan hidup tetap berjalan dengan segala kekurangannya. Namun kali ini, Edy memutuskan untuk tidak membiarkan janji-janji itu hilang begitu saja.

Edy mencatat aspirasi warga saat reses anggota DPRD di sebuah kampung pada sore hari.
Di tengah reses dan janji yang kembali disampaikan, Edy memilih mencatat. Sebab bagi warga kampung, yang sering hilang bukan hanya janji, tetapi juga ingatan tentang berapa lama mereka telah menunggu. Gambar hanya ilustrasi yang dibuat berkolaborasi dengan AI.

I

Janji yang Tak Pernah Sampai

Reses datang hari Sabtu, sore.

Waktunya sudah diumumkan sejak tiga hari sebelumnya melalui pengeras suara kampung—toa tua yang suaranya kadang lebih banyak mendesis daripada berbicara—dan grup WhatsApp warga.

“Diberitahukan kepada seluruh masyarakat, akan dilaksanakan kegiatan reses anggota DPRD pada Sabtu sore. Masyarakat diharapkan hadir untuk menyampaikan aspirasi.”

Kalimat itu dikirim ulang berkali-kali.

Ada yang memberi tanda jempol. Ada yang menjawab, Siap. Ada yang hanya membaca.

Tetapi hampir semua tahu, reses adalah salah satu dari sedikit kesempatan ketika orang kampung bisa duduk berhadapan dengan seorang wakil rakyat tanpa harus lebih dulu melewati pintu kantor, meja sekretariat, atau kalimat, “Bapak sedang tidak di tempat.”

Maka sore itu warga datang.

Tidak banyak.

Tidak juga sedikit.

Cukup untuk memenuhi kursi plastik yang disusun berjajar di dalam balai desa.

Mobil dinas berhenti di depan balai desa tepat beberapa menit setelah waktu yang ditentukan. Debu jalan yang kering naik ke udara dan menempel di kaca jendela yang baru saja dilap sopir.

Dari dalam turun Judas. Anggota DPRD dua periode.

Kemeja batik, celana blue jeans, sepatu olahraga yang tampaknya lebih mahal daripada uang belanja sebagian ibu-ibu yang duduk menunggunya. Senyumnya lebar dan rapi—senyum yang sudah dilatih sejak kampanye pertama.

Di belakangnya turun dua ajudan.

Yang satu membawa map plastik bening berisi beberapa lembar kertas kosong dengan judul tercetak tebal:

FORMULIR ASPIRASI MASYARAKAT.

Yang satu lagi membawa ponsel.

Bukan untuk mencatat aspirasi. 

Untuk merekam.

Ada foto kedatangan. Ada video bersalaman. Ada potongan suasana warga. Ada kemungkinan story Instagram, Facebook, dan TikTok.

Reses, rupanya, bukan hanya soal mendengar. Ada juga soal terlihat sedang mendengar.

Di dalam balai desa, warga sudah menunggu.

Kopi sudah dituang ke gelas-gelas kaca bermotif bunga yang sama, yang dipakai sejak sepuluh tahun lalu. Kursi-kursi plastik disusun rapi. Kipas angin berputar malas di sudut ruangan, mengaduk udara panas yang bercampur aroma kopi, keringat, dan debu dari jalan.

Ibu Nona, penjual sayur di pasar, duduk di barisan tengah. Sejak pagi ia sebenarnya sudah menyiapkan apa yang hendak disampaikannya.

Jalan menuju pasar rusak. Ketika hujan, jalan itu berubah menjadi kubangan. Ketika panas, debunya masuk ke rumah.

Ia pernah jatuh di sana ketika mengendarai sepeda motor membawa sayur. Lututnya luka. Dua ikat kangkung terlempar ke selokan. Untung tomatnya tidak pecah semua.

Kalau tidak, katanya, hari itu ia bukan hanya kehilangan sayur, tetapi juga kehilangan modal.

Ia pernah menyampaikan soal jalan itu pada reses sebelumnya. Dan pada reses sebelumnya lagi.

Ia bahkan masih menyimpan foto jalan itu di ponselnya. Foto yang sama. Hanya lubangnya yang semakin besar.

Di sebelahnya duduk Om Ventje, tukang ojek yang motornya sudah dua kali rusak karena jalan yang sama.

Ada pula Pak Steven, guru SD yang setiap pagi harus melewati jembatan kecil di ujung kampung untuk menuju sekolah.

Jembatan itu sudah bertahun-tahun dijanjikan akan diperbaiki. Tiangnya mulai lapuk. Papan lantainya berbunyi ketika diinjak.

Kalau hujan deras, anak-anak sekolah sering memilih tidak lewat karena air sungai naik sampai mendekati lantai jembatan.

“Sudah disampaikan tahun lalu, Pak,” kata Pak Steven pernah kepada seseorang di kantor.

“Sudah masuk dalam pembahasan,” jawab orang itu.

Kalimat tersebut membuat Pak Steven pulang dengan perasaan sedikit lega.

Sampai beberapa bulan kemudian ia tahu bahwa masuk dalam pembahasan ternyata belum tentu berarti masuk dalam pekerjaan.

Begitulah rakyat belajar memahami bahasa pemerintahan.

Tidak ada yang benar-benar mengajari mereka. Mereka belajar sendiri.

Akan diperjuangkan berarti belum tentu diperjuangkan.

Sudah diusulkan berarti belum tentu dianggarkan.

Sudah dibahas berarti belum tentu dikerjakan.

Segera direalisasikan bisa berarti tahun depan.

Atau tahun berikutnya.

Atau setelah masyarakat lupa.

Judas berdiri di depan.

“Bapak, Ibu sekalian,” katanya.

Ruangan mendadak lebih tenang.

Judas tersenyum.

“Reses ini adalah kesempatan bagi kami untuk turun langsung ke tengah masyarakat. Kami ingin mendengar apa yang menjadi kebutuhan Bapak dan Ibu sekalian.”

Ajudan yang memegang ponsel mulai merekam.

“Silakan sampaikan apa saja. Jalan, pendidikan, kesehatan, pertanian, ekonomi, semuanya akan kami tampung.”

Kata tampung terdengar begitu meyakinkan.

Seolah-olah ada sebuah wadah besar yang memang disediakan khusus untuk menampung seluruh kesulitan orang kampung.

Maka satu per satu warga berbicara.

Tentang jalan.

Tentang lampu penerangan.

Tentang air bersih.

Tentang saluran drainase yang mampat.

Tentang anak-anak muda yang semakin banyak pergi ke kota karena tidak melihat pekerjaan di kampung sendiri.

Tentang harga pupuk.

Tentang hasil kebun yang murah ketika dijual, tetapi mahal ketika dibeli kembali dalam bentuk makanan di pasar.

Tentang ibu-ibu yang harus memilih antara membeli obat atau membayar uang sekolah anak.

Tentang rumah-rumah yang kalau hujan tidak lagi sekadar mendengar suara air di atap, tetapi harus menampungnya dengan ember.

Tentang sebuah keluarga di ujung kampung yang sudah dua kali memperbaiki dinding rumahnya karena longsor kecil.

Tentang toilet sekolah yang rusak.

Tentang anak-anak yang belajar dengan buku seadanya.

Tentang jalan menuju kebun yang hanya bisa dilewati kendaraan ketika musim panas.

Ketika hujan datang, hasil panen sering tertahan. Dan ketika hasil panen tertahan, uang sekolah anak ikut tertahan.

Begitulah masalah rakyat kecil. Ia tidak datang satu-satu. Ia datang bergerombol.

Satu persoalan menyeret persoalan lain.

Jalan rusak bukan cuma soal jalan.

Jalan rusak bisa membuat hasil kebun terlambat sampai pasar.

Hasil kebun terlambat bisa membuat harga jatuh.

Harga jatuh membuat pendapatan berkurang.

Pendapatan berkurang membuat uang sekolah tertunda.

Uang sekolah tertunda membuat orang tua berutang. Dan utang, seperti hujan di musim penghujan, kadang tidak tahu kapan harus berhenti.

Tetapi di depan mikrofon, semua itu terdengar sederhana.

“Sudah kami catat.”

“Ini akan kami perjuangkan.”

“Masalah ini menjadi perhatian kami.”

“Pemerintah harus hadir.”

“Jangan khawatir.”

Kata-kata itu keluar dengan lancar. Hampir tanpa jeda.

Seolah-olah jalan rusak bisa diperbaiki oleh kalimat.

Seolah-olah jembatan lapuk bisa menjadi kokoh hanya karena sudah masuk daftar.

Seolah-olah perut yang kosong bisa kenyang karena seorang pejabat berkata, akan diperjuangkan.

Edy duduk di belakang sambil menulis. Ia bukan anggota DPRD. Bukan pula pegawai pemerintah.

Ia hanya pemuda kampung yang sejak beberapa tahun terakhir mulai rajin mencatat. Baginya, mencatat adalah cara sederhana untuk melawan lupa.

Ia mencatat siapa yang berjanji.

Apa yang dijanjikan. Kapan janji itu disampaikan.

Dan, kalau sempat, kapan janji itu benar-benar dilaksanakan. Atau tidak dilaksanakan sama sekali.

Di menit ke-40, Judas sampai pada kalimat yang paling ditunggu. Ia berdiri, merapikan  posisi mikrofon, lalu melihat seluruh warga.

“Aspirasi kalian semua sudah kami dengar dan catat.”

Beberapa warga mengangguk.

“Akan kami bawa dan perjuangkan dalam pembahasan bersama pemerintah.”

Judas berhenti sebentar. Senyumnya kembali muncul.

“Karena pembangunan tidak boleh meninggalkan masyarakat.”

Ajudannya menggeser kamera. Mendapatkan sudut yang lebih bagus.

Kalimat itu terdengar indah. Bahkan terlalu indah.

Bagi orang kampung yang tidak sempat belajar istilah birokrasi, kalimat tersebut terdengar seperti jaminan bank.

Ada kata dengar.

Ada kata catat.

Ada kata perjuangkan.

Ada kata pembangunan.

Dan ada kata masyarakat.

Semua kata yang seharusnya membuat orang pulang dengan harapan.

Maka warga bertepuk tangan. Pelan. Tidak terlalu ramai.

Entah karena lega. Entah karena menghargai tamu.

Atau mungkin karena sudah terlalu sering berharap sampai tidak tahu lagi bagaimana cara menunjukkan kegembiraan.

Ibu Nona memasukkan kembali catatan kecilnya ke dalam tas. Ia tidak jadi berbicara tentang satu hal. Tentang kios kecil yang pernah ia ajukan di pasar.

Sudah tiga kali ia mengurusnya. Sudah tiga kali pula ia mendapat jawaban bahwa persoalannya sedang diproses.

Ia tidak tahu proses itu berada di meja siapa. Yang ia tahu, setiap pagi ia tetap menggelar sayur di bawah terpal.

Kalau hujan, sayurnya basah.

Kalau matahari terlalu terik, sayurnya cepat layu.

Dan kalau tidak laku, ia membawanya pulang.

Anaknya tetap harus makan.

Tetap harus membayar listrik.

Hidup tidak mengenal istilah sedang diproses.

Jam sebelas lewat sepuluh, acara selesai.

Warga mulai berdiri. Kursi plastik bergeser. Gelas kopi dikumpulkan. Anak-anak yang sejak tadi bermain di luar mulai berlarian masuk.

Judas berjalan menuju mobil dinas. 

Sebelum masuk, ia berhenti di depan balai desa. Bangunan itu sudah tua. Catnya mengelupas. Tembok bagian bawah dipenuhi lumut. Atap sengnya mulai berkarat.

Judas memandang bangunan itu dengan raut prihatin.

“Ini harus mendapat perhatian,” katanya.

Ajudannya langsung paham. Ponsel diangkat.

Judas berdiri sedikit menyamping. Satu tangan menunjuk ke arah bangunan. Wajahnya dibuat serius.

Klik.

Dari sudut pertama.

Klik.

Dari sudut kedua.

Selesai.

Besok pagi, kemungkinan foto itu akan muncul di media sosial. 

“Turun langsung meninjau kondisi aset desa yang memprihatinkan. Akan segera kami perjuangkan solusinya bersama pemerintah.”

Kalimatnya mungkin sedikit berbeda. Tetapi intinya akan sama.

Judas masuk mobil. Mesin menyala.

Debu jalan kembali naik ketika mobil dinas berbelok dan menghilang di tikungan dekat lubang yang cukup besar menganga.

Satu per satu warga mulai pulang. 

Harapan mereka ikut pulang.

Sebagian masih hangat. Sebagian sudah mulai dingin.

Oma Corry tetap duduk. Ia menatap gelas kopinya. Kopi itu sudah dingin sejak lama.

“Sudah reses keberapa ini, Edy?” tanyanya.

Edy masih berdiri sambil memegang buku catatan.

“Sudah belasan kali, Oma.”

“Belasan?”

“Iya.”

Oma Corry menghela napas.

“Dan setiap kali kita menyampaikan aspirasi?”

Edy diam.

“Lalu?”

Edy menutup pulpennya.

“Lalu mereka bilang akan memperjuangkannya.”

Oma Corry tersenyum tipis. Bukan senyum bahagia. Lebih seperti seseorang yang baru mendengar lelucon yang sudah terlalu sering diceritakan.

“Berarti yang berubah cuma tahun.”

Edy menatapnya.

“Kenapa begitu, Oma?”

“Karena jalan itu masih sama.”

Oma menunjuk ke luar.

“Jembatan itu masih sama.”

Lalu menunjuk ke arah sekolah.

“Atap sekolah masih bocor.”

Ia berhenti.

“Dan orang-orang yang datang mendengar kita masih pulang dengan mobil yang sama.”

Edy tidak menjawab. Ia membuka kembali buku catatannya.

Membalik halaman. Halaman pertama. Di sana tertulis tahun ketika Judas pertama kali terpilih menjadi anggota DPRD. Di bawahnya ada beberapa catatan lama.

Jalan kampung: akan diperjuangkan.

Jembatan: akan dikoordinasikan.

Penerangan: segera diusulkan.

Pasar: menjadi perhatian.

Edy membalik halaman berikutnya. 

Tahun kedua. Kalimatnya hampir sama.

Tahun ketiga. Sama.

Tahun keempat. Sama.

Tahun kelima. Sama.

Ia membalik sampai halaman terakhir.

Tanggalnya berbeda. Tahun berbeda. Orangnya masih sama.

Dan kalimatnya, hampir persis sama.

Edy mengambil pensil. Di bawah catatan malam itu ia menulis: 

“Reses barusan yang aku rekam. Kata-katanya persis seperti reses pertama, tahun pertama Judas terpilih.”

Ia menggarisbawahi kalimat itu dua kali. Kemudian menutup buku.


Sorenya, teras rumah Oma Corry kembali menjadi tempat berkumpul.

Rumah itu beratap seng dan berdinding kayu tua. Kalau angin bertiup terlalu kencang, dindingnya mengeluarkan bunyi berderit.

Di atas meja ada kopi, pisang goreng, dan sebuah buku besar berwarna hitam.

Edy datang membawa tas.

Ibu Nona sudah duduk.

Om Ventje menyusul beberapa menit kemudian.

Pak Steven datang paling akhir. Ia membawa sebuah map tebal.

“Ini apa?” tanya Ibu Nona.

Pak Steven meletakkannya di atas meja.

“Surat.”

“Surat apa?”

“Balasan dari kantor.”

Edy membuka kardus itu. Isinya puluhan lembar kertas.

Ada surat permohonan.

Ada surat pengantar.

Ada surat jawaban.

Ada disposisi.

Ada tanda tangan.

Ada stempel.

Ada tanggal.

Ada nama-nama pejabat yang mungkin sudah pindah jabatan, pensiun, atau bahkan sudah tidak lagi diingat oleh warga.

Tetapi satu hal tetap ada.

Janji.

Edy mengambil satu lembar.

Membaca.

Kemudian mengambil lembar berikutnya.

Membaca lagi.

Ibu Nona memperhatikannya.

“Bagaimana?”

Edy tidak langsung menjawab. Ia menyusun semua surat itu di atas meja.

Tahun demi tahun.

Tanggal demi tanggal.

Janji demi janji.

Kemudian ia melihat tiga orang di depannya.

“Kalau kita terus mengingatnya sendiri-sendiri,” katanya pelan, “kita akan selalu kalah.”

Om Ventje mengernyit.

“Kalah dari siapa?”

Edy menatap tumpukan surat.

“Dari lupa.”

Tidak ada yang menjawab.

Angin sore meniup beberapa lembar kertas. Satu surat hampir jatuh dari meja.

Pak Steven menahannya.

Di surat itu tertulis kalimat yang sudah sangat dikenal:

“Aspirasi masyarakat akan menjadi bahan perhatian dan akan ditindaklanjuti sesuai ketentuan.”

Ibu Nona membaca kalimat itu. Lalu tertawa kecil.

“Sudah berapa tahun kalimat ini hidup?”

“Lebih tua dari anak saya yang sekarang sudah SMA,” jawab Pak Steven.

Tawa kecil mereka pecah, tapi terdengar pahit.

Lalu kembali diam.

Di luar, anak-anak berlari di jalan tanah. Seorang ibu memanggil anaknya untuk pulang.

Dari kejauhan terdengar suara motor.

Kampung berjalan seperti biasa. Seolah tidak ada yang perlu ditunggu. Padahal hampir semua orang di kampung itu sedang menunggu sesuatu.

Menunggu jalan diperbaiki.

Menunggu jembatan dibangun.

Menunggu air bersih.

Menunggu lampu menyala.

Menunggu pasar yang layak.

Menunggu bantuan yang katanya sudah diajukan.

Menunggu anggaran yang katanya sudah disiapkan.

Menunggu pejabat yang katanya akan datang lagi.

Dan, mungkin yang paling melelahkan:

menunggu janji berubah menjadi kenyataan.

Edy membuka halaman terakhir buku catatannya.

Masih kosong.

Ia mengambil pulpen. Namun kali ini ia tidak menulis janji.

Ia menulis nama.

Satu per satu.

Nama orang.

Nama masalah.

Tanggal.

Lokasi.

Dan siapa yang pernah berjanji.

Oma Corry memperhatikannya.

“Kau mau buat apa?”

Edy mengangkat wajah.

“Belum tahu, Oma.”

“Lalu kenapa dicatat?”

Edy tersenyum tipis.

“Supaya kalau mereka datang lagi tahun depan, kita tidak perlu mengingatkan mereka tentang apa yang mereka katakan.”

Ia berhenti sebentar.

“Kita tinggal menunjukkan.”

Oma Corry menatap buku itu. Kemudian menatap kardus berisi surat-surat lama.

Untuk pertama kalinya, wajahnya tidak terlihat lelah.

“Kalau begitu,” katanya, “jangan cuma catat janji.”

Edy menunggu.

“Catat juga berapa lama rakyat harus menunggu.”

Edy terdiam.

Ia kemudian menulis satu kalimat besar di halaman pertama buku baru itu:

BUKU UTANG JANJI.

Di bawahnya, ia membuat kolom pertama.

Nama Pejabat.

Kolom kedua.

Janji.

Kolom ketiga.

Tanggal.

Kolom keempat.

Bukti.

Dan kolom terakhir.

Sudah Ditepati atau Belum.

Halaman itu baru punya satu baris.

Halaman-halaman berikutnya masih kosong.

Tetapi untuk pertama kalinya, kampung itu tidak lagi hanya menunggu.

Mereka mulai menghitung.

Dan mereka belum tahu, bahwa ketika sebuah kampung mulai mengingat, orang-orang yang terbiasa membuat janji mungkin akan mulai merasa tidak nyaman. (Bersambung)

Selanjutnya:

Foto Donny Turang
PENULIS

Donny Turang

Jurnalis Utama bersertifikat Dewan Pers/AJI Indonesia. Menulis cerita yang layak untuk diceritakan.

Komentar