Kampung yang Menunggu—2
Sebuah buku hitam diberi nama Buku Utang Janji. Edy dan warga kampung mulai mencatat janji pembangunan, mengumpulkan dokumen, dan mencocokkannya dengan kenyataan. Sebab kali ini mereka tidak ingin hanya mengingat apa yang pernah dijanjikan. Mereka ingin tahu: setelah aspirasi dicatat, ke mana ia pergi?
![]() |
II
Buku yang Mulai Berbicara
Malam sebelumnya, mereka pulang dengan perasaan yang aneh.
Tidak ada keputusan.
Tidak ada pejabat yang datang membawa kepastian.
Tidak ada janji baru yang terdengar lebih meyakinkan daripada janji-janji lama.
Yang tersisa hanya percakapan panjang, beberapa dokumen, foto-foto yang disimpan di telepon genggam, dan pertanyaan yang sejak tadi berputar di kepala Edy.
Di meja, sebelum mereka bubar, Edy membuka sebuah buku hitam. Buku itu sebenarnya buku biasa. Sampulnya sudah sedikit terkelupas di sudut.
Beberapa halaman masih kosong.
Tetapi malam itu, untuk pertama kalinya, mereka memberinya nama.
BUKU UTANG JANJI.
Tidak ada yang tertawa ketika nama itu muncul. Mungkin karena semua orang di situ tahu, kampung mereka memang terlalu lama hidup bersama janji.
Janji tentang jalan.
Janji tentang jembatan.
Janji tentang pasar.
Janji tentang air bersih.
Janji yang datang bersama senyum, foto, jabat tangan, dan kalimat-kalimat yang terdengar bagus ketika disampaikan di depan orang banyak.
Kemudian orang-orang pulang.
Pejabat pergi.
Spanduk diturunkan.
Foto masuk ke media sosial.
Dan kampung kembali menunggu.
Malam semakin larut ketika Edy menutup buku itu.
“Kalau semua ini cuma kita ingat di kepala,” katanya waktu itu, “suatu hari kita sendiri yang lupa.”
Tidak ada yang menjawab.
Mereka hanya saling memandang.
Kemudian pulang.
Tetapi pertanyaan itu ikut dibawa Edy sampai ke rumah.
Dan ternyata tidak mau tidur bersamanya.
Pagi berikutnya, Edy bangun lebih awal dari biasanya.
Bukan karena suara ayam.
Bukan pula karena ibunya memanggil dari dapur.
Ia bangun karena satu pikiran yang sejak semalam tidak mau pergi.
Kalau semua janji itu dicatat, lalu apa?
Pertanyaan itu muncul berkali-kali.
Ketika ia mencuci muka.
Ketika menyeduh kopi.
Ketika membuka pintu rumah.
Bahkan ketika ia berdiri di depan rumah dan melihat beberapa orang kampung mulai berangkat ke kebun.
Ia memikirkan buku hitam itu.
Selama ini mereka memang sudah sering mencatat. Tetapi mencatat sendiri-sendiri ternyata tidak banyak mengubah keadaan.
Ibu Nona menyimpan surat.
Pak Steven menyimpan dokumen.
Om Ventje menyimpan foto jalan rusak di telepon genggamnya.
Oma Corry menyimpan ingatan.
Dan Edy menyimpan semuanya di buku.
Tetapi jika semua itu hanya menjadi tumpukan kertas dan cerita di meja, apa bedanya dengan menunggu?
Edy kembali masuk ke rumah.
Ia mengambil buku hitam yang semalam diberi nama:
BUKU UTANG JANJI.
Ia membukanya.
Halaman pertama hanya berisi satu baris.
Nama pejabat: Judas.
Di kolom janji, Edy menulis:
Perbaikan jalan menuju pasar.
Tanggalnya ia isi.
Kemudian ia berhenti cukup lama pada kolom terakhir.
Sudah Ditepati atau Belum.
Tangannya bergerak.
Ia menulis:
Belum.
Di bawahnya, ia menambahkan:
Catatan: Janji disampaikan berulang kali dalam beberapa reses.
Ia menatap tulisan itu.
Untuk pertama kalinya, buku itu terasa bukan seperti buku catatan. Lebih seperti sesuatu yang sedang menunggu.
Bukan menunggu janji berikutnya. Melainkan menunggu jawaban.
Dan pagi itu Edy mulai menyadari: kalau mereka ingin tahu ke mana semua janji itu pergi, mereka harus mulai mengikuti jejaknya.
Dari ucapan.
Ke surat.
Dari surat.
Ke proposal.
Dari proposal.
Ke anggaran.
Dan dari anggaran, mereka harus mencari tahu apakah sesuatu benar-benar pernah dibangun. Atau hanya pernah ditulis.
Edy menutup buku.
Lalu mengambil sandal.
Ia tahu orang pertama yang harus ditemuinya.
Pak Steven. (Bersambung)
Sebelumnya:

Komentar
Posting Komentar