Sonja, Nusantara, dan Kenangan yang Belum Selesai
Dulu, Tomohon punya dua bioskop: Sonja dan Nusantara. Di sana orang menonton film, bertemu, jatuh cinta, dan menciptakan kenangan. Kini layar itu telah padam, menyisakan sebuah pertanyaan: ke mana warga Tomohon pergi untuk menikmati hidup bersama?
![]() |
| Eks Bioskop Nusantara di Kelurahan Paslaten, Tomohon. Dulu orang antre di sini untuk membeli mimpi. Kini gedungnya yang menunggu. (foto: dorang) |
Tomohon, Kota yang Pernah Bermimpi di Dalam Gelap
Dua Layar di Kota yang Dingin
Ketika Tomohon pernah punya Sonja dan Nusantara, dan kini kehilangan tempat untuk menonton, berkumpul, dan sekadar menghabiskan malam.
Dulu, di Tomohon, orang mengenal sore atau malam dari bunyi karcis dirobek.
Sret.
Lalu antrean bergerak.
Pintu besi yang berat terbuka. Udara dari dalam gedung menyambut: dingin, sedikit apak, bau pesing, bercampur asap rokok, suara penjaja kacang goreng, kwaci, rokok, dan sesuatu yang sulit dijelaskan—semacam bau khas tempat yang setiap malam dipenuhi manusia dan cerita.
Di dalam gelap, di ujung ruangan, ada layar.
Dan di sanalah Tomohon, kota sejuk di kaki Gunung Lokon, ikut bermimpi bersama dunia.
Hari ini, suara karcis itu sudah lama hilang.
Begitu pula dua layar yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan kota: Sonja dan Nusantara.
Keduanya pernah berdiri di pusat Tomohon. Tidak jauh satu sama lain. Dua gedung, dua pemilik, dua karakter pemutaran film, tetapi melayani kerinduan yang sama: orang ingin keluar rumah, duduk bersama orang lain, lalu selama beberapa jam membiarkan hidupnya digantikan oleh cerita di layar.
Pada dekade 1980-an hingga 1990-an, kedua bioskop itu bukan sekadar tempat menonton film.
Ia adalah ruang pergaulan.
Tempat orang berpacaran.
Tempat anak muda bertemu teman.
Tempat orang tua membawa anak-anak.
Tempat seseorang sengaja duduk di kursi paling belakang agar bisa berbicara tanpa terlalu diperhatikan.
Bahkan tempat seseorang mungkin menangis diam-diam karena adegan film yang sebenarnya biasa saja.
Di hari tertentu diputarkan film-film nasional untuk ditonton anak sekolah pada siang hari.
Begitulah bioskop bekerja.
Ia menjual tiket untuk menonton film, tetapi yang dibawa pulang penonton sering kali bukan hanya cerita dari layar.
Ada kenangan.
Ada pertemuan.
Ada percakapan.
Ada seseorang yang kemudian menjadi bagian penting dalam hidup.
Dua Bioskop, Dua Karakter
Tomohon pernah memiliki dua gedung bioskop.
Sonja berdiri di Kelurahan Kamasi.
Nusantara berada di Kelurahan Paslaten.
Jarak keduanya tidak terlalu jauh. Bagi anak muda yang kehabisan uang atau mendapati film di satu gedung sudah penuh, berjalan ke bioskop yang lain masih mungkin dilakukan. Walau kedua bioskop ini memutar film dalam dua babak, yakni jam 5 sore, jam 7 malam. Di malam minggu kerap menjadi tiga kali ditambah dengan midnight.
Keduanya juga memiliki karakter penonton dan film yang sedikit berbeda.
Sonja dikenal kerap memutar film drama dan laga Indonesia, termasuk film laga Hong Kong dan Hollywood.
Nusantara lebih dikenal dengan film Indonesia dan film India, sesekali memutar film laga Hong Kong.
Bagi generasi yang tumbuh pada masa itu, pilihan film bukan perkara algoritma.
Tidak ada streaming service.
Tidak ada daftar film yang bisa dipilih sambil rebahan.
Tidak ada tombol skip intro.
Kalau ingin menonton, seseorang harus datang.
Membeli karcis.
Mengantre.
Menunggu.
Lalu masuk ke dalam gedung ketika lampu mulai dipadamkan.
Mungkin justru karena itulah pengalaman menonton terasa lebih penting.
Film tidak datang ke rumah.
Kitalah yang datang mencarinya.
Gedung yang Punya Dua Wajah
Nusantara memiliki arsitektur yang menarik.
Bangunannya memanjang dari jalan belakang hingga tembus ke jalan utama Tomohon–Manado.
Dari jalan utama, gedung itu seperti bangunan komersial biasa.
Di bagian depan terdapat deretan toko dan billiard.
Itulah wajah siangnya.
Orang datang untuk membeli obat, mencari kebutuhan rumah tangga, atau sekadar melakukan urusan sehari-hari.
Tetapi bioskopnya justru berada di belakang.
Loket karcis ada di jalan belakang.
Pintu masuk ke ruang pertunjukan juga dari sana.
Seolah-olah gedung ini mempunyai dua kehidupan.
Di depan, ia bekerja untuk kebutuhan sehari-hari.
Di belakang, ia menyediakan sesuatu yang tidak benar-benar dibutuhkan untuk bertahan hidup, tetapi sering kali dibutuhkan manusia untuk merasa hidup.
Hiburan.
Imajinasi.
Pelarian beberapa jam dari rutinitas.
Kalau dipikir sekarang, pembagian itu terasa menarik.
Toko di depan untuk yang butuh.
Bioskop di belakang untuk yang ingin.
Dan manusia, rupanya, membutuhkan keduanya.
Dua Nama, Dua Keluarga
Nusantara disebut-sebut dimiliki keluarga warga keturunan Tionghoa bermarga Poluan.
Sementara Sonja dikenal sebagai milik keluarga Tulaar, keluarga asli Tomohon.
Dua keluarga.
Dua latar.
Satu kota.
Pada masa itu, layar bioskop tidak bertanya siapa yang datang dari keluarga mana.
Ketika lampu padam dan proyektor menyala, semua penonton menjadi sama.
Ada yang datang dengan pakaian bagus.
Ada yang datang dengan pakaian sederhana.
Ada yang membeli makanan.
Ada yang mungkin hanya cukup membeli karcis.
Tetapi selama film berlangsung, semuanya duduk menghadap arah yang sama.
Mungkin di situlah salah satu kekuatan sebuah ruang publik.
Ia mempertemukan manusia yang dalam kehidupan sehari-hari mungkin tidak pernah saling menyapa.
Nama Sonja dan Sebuah Kisah yang Terlalu Indah untuk Dilupakan
Tentang nama Sonja, ada kisah yang beredar di Tomohon.
Nama itu disebut diambil dari nama putri pemilik bioskop.
Putri itu kemudian menikah dengan salah satu personel Koes Plus: Yok Koeswoyo.
Sonja Tulaar, perempuan asal Tomohon, Minahasa, Sulawesi Utara, pernah menjadi bagian dari kisah keluarga besar Koes Plus. Dari pernikahan tersebut lahir dua anak, Rangga Koeswoyo dan Sari Koeswoyo.
Namun kisah itu berakhir tragis.
Sonja meninggal dalam kecelakaan mobil di Tarahan, Lampung, pada 1975.
Peristiwa tersebut kemudian dikaitkan dengan lahirnya beberapa lagu Koes Plus.
Bayangkan hubungan ceritanya.
Sebuah bioskop di kota kecil di Sulawesi Utara membawa nama seorang perempuan Tomohon. Perempuan itu kemudian menikah dengan personel salah satu grup musik paling populer di Indonesia.
Lalu hidupnya berakhir terlalu cepat.
Dan namanya tetap tinggal di kota asalnya—setidaknya di papan nama sebuah gedung tempat orang datang untuk menonton cerita.
Kalau ini ditulis sebagai fiksi, mungkin seorang editor akan meminta penulis mengurangi kebetulan karena terasa terlalu manis.
Tetapi sejarah lokal memang sering menyimpan cerita yang terdengar seperti fiksi. Hanya saja, cerita lokal biasanya tidak punya cukup orang untuk mencatatnya.
Ketika Layar Besar Kalah oleh Layar Kecil
Kemudian zaman berubah.
Kaset video datang.
Lalu VCD.
DVD.
Televisi menjadi semakin besar.
Internet masuk ke rumah.
Telepon genggam berubah menjadi komputer kecil.
Dan akhirnya film bisa ditonton dari telapak tangan.
Perubahan itu tidak datang dengan suara ledakan.
Ia datang perlahan.
Satu per satu orang berhenti datang.
Kursi semakin banyak kosong.
Film yang dahulu ditunggu berhari-hari mulai bisa ditonton di rumah.
Bioskop-bioskop kota kecil pun menghadapi masalah yang sama di banyak tempat: bagaimana mempertahankan ruang yang membutuhkan banyak penonton ketika penonton memiliki semakin banyak pilihan.
Sonja menemukan jalan keluarnya.
Gedungnya kemudian disewa pengusaha, dipugar, dan berganti fungsi menjadi supermarket.
Ada ironi di sana.
Dulu orang mengantre membeli tiket untuk melihat dunia yang diciptakan orang lain.
Kini orang mengantre membeli kebutuhan sehari-hari.
Tetapi sebenarnya tidak ada yang salah dengan itu.
Sebuah bangunan yang tetap hidup, meskipun berganti fungsi, masih memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari kehidupan kota. Yang lebih menyedihkan adalah ketika bangunan tidak lagi menemukan alasan untuk hidup.
Nusantara yang Menunggu
Nusantara mengambil jalan berbeda.
Ia dibiarkan.
Dan waktu melakukan pekerjaannya dengan sangat sabar.
Hari ini, jika berdiri di seberangnya, kita akan melihat bangunan tiga lantai yang tampak seperti sedang menahan napas.
Kulit dindingnya mulai pudar.
Lumut memakan sebagian permukaan.
Lengkung-lengkung pada balkon bawah masih bertahan, seperti gelombang yang dibekukan.
Ruang di baliknya kosong dan menganga.
Atap seng di bagian atas berkarat cokelat kemerahan, banyak sudah rusak.
Sebagian rangka kayu terbuka menghadap langit.
Di balkon, tanaman liar tumbuh tanpa meminta izin.
Di sisi kanan, sulur hijau merambat naik perlahan.
Alam tidak terburu-buru.
Bangunan tua juga tidak.
Yang terburu-buru justru manusia.
Kabel listrik dan internet melintang di depan gedung, silang-menyilang.
Ada ironi kecil di sana.
Dahulu gedung ini memutar film bagi warga Tomohon.
Kini kabel internet yang melintas di depannya membawa film langsung ke telepon genggam manusia yang berjalan melewatinya.
Layar tetap ada.
Hanya tempat orang menontonnya yang berubah.
"I Wait for My Queen"
Di dinding bagian bawah yang dicat biru, seseorang pernah menulis menggunakan cat semprot:
"I wait for my queen even though time flies."
— R
Saya berdiri cukup lama di depan tulisan itu.
Siapa R?
Siapa queen yang ditunggunya?
Tidak ada yang tahu.
Mungkin seorang kekasih.
Mungkin seseorang yang pernah berjanji datang.
Mungkin hanya tulisan iseng seorang anak muda.
Tetapi entah mengapa, kalimat itu terasa cocok berada di sana.
Di sebuah gedung bekas bioskop.
Tempat orang dahulu datang berpasangan.
Tempat orang menunggu film dimulai.
Tempat tangan mungkin diam-diam saling mencari dalam gelap.
Kini gedung itu sendiri yang menunggu.
Tidak ada film.
Tidak ada antrean.
Tidak ada suara proyektor.
Hanya lumut, tanaman liar, karat, dan tulisan seseorang yang juga sedang menunggu.
Barangkali itulah ironi terakhir Nusantara.
Menunggu adalah aktivitas terakhir yang masih dilakukan gedung ini.
Kota yang Kehilangan Tempat untuk Pergi
Namun kisah Nusantara sebenarnya bukan hanya tentang masa lalu.
Ada pertanyaan lain yang lebih dekat dengan kehidupan Tomohon hari ini.
Setelah bioskop hilang, ke mana warga kota pergi untuk mencari hiburan?
Pertanyaan ini menjadi semakin menarik karena Tomohon kini juga tidak memiliki pusat perbelanjaan modern seperti kota-kota yang menjadi tujuan hiburan keluarga.
Tentu saja hiburan tidak harus selalu berupa bioskop atau mal.
Ada taman.
Ada kafe.
Ada restoran.
Ada tempat wisata.
Ada ruang terbuka.
Ada kegiatan komunitas.
Tetapi kota juga membutuhkan ruang hiburan yang memungkinkan orang datang tanpa harus memiliki alasan yang terlalu serius.
Tempat seorang ayah membawa anaknya.
Tempat sepasang remaja bertemu.
Tempat sekelompok teman menghabiskan malam.
Tempat seseorang yang baru menerima gaji ingin menikmati dua jam film tanpa harus pergi ke Manado.
Tempat warga kota merasa bahwa hidup tidak melulu tentang bekerja, sekolah, berdagang, mengurus rumah, membayar tagihan, lalu pulang.
Kota yang baik bukan hanya kota yang menyediakan jalan, kantor, pasar, sekolah, rumah sakit, dan tempat ibadah.
Kota juga membutuhkan ruang untuk bersantai.
Karena manusia bukan mesin ekonomi.
Manusia membutuhkan jeda.
Dan hiburan, dalam kadar yang sehat, bukan kemewahan.
Ia bagian dari kehidupan sosial.
Bioskop Bukan Sekadar Tempat Film
Mungkin karena itu, kehilangan bioskop terasa berbeda dibanding kehilangan sebuah toko.
Toko menjual barang.
Bioskop menjual pengalaman.
Orang datang membawa uang dan pulang membawa sesuatu yang tidak selalu bisa dihitung.
Kenangan.
Percakapan.
Tawa.
Air mata.
Pertemanan.
Bahkan cinta.
Seorang anak yang pertama kali diajak orang tuanya menonton film mungkin tidak akan mengingat harga tiketnya dua puluh tahun kemudian.
Tetapi ia mungkin masih mengingat tangan ayahnya yang menggandengnya masuk.
Seorang remaja mungkin lupa judul film yang ditontonnya bersama teman sekolah.
Tetapi ia bisa mengingat siapa yang duduk di sebelahnya.
Seseorang mungkin tidak lagi ingat alur film yang membuatnya menangis.
Tetapi ia ingat bahwa malam itu seseorang menemaninya pulang.
Itulah sebabnya sebuah bioskop tidak pernah sepenuhnya hanya tentang film.
Ia adalah tempat kenangan dibuat.
Di Depan Gedung, Hari Ini
Di sekitar eks Bioskop Nusantara, kehidupan tetap berjalan.
Mobil datang.
Motor lewat.
Orang membeli sesuatu.
Orang pulang.
Orang pergi.
Sebuah mobil biru metalik dan sebuah mobil abu-abu terparkir berdampingan.
Bersih.
Mengilap.
Plat nomornya masih tampak baru.
Orang yang turun dari sana mungkin tidak tahu bahwa beberapa puluh tahun lalu, di tempat yang sama, orang-orang berdiri mengantre sambil menggenggam karcis.
Mungkin mereka juga tidak tahu bahwa pernah ada dua gedung bioskop di Tomohon.
Dan mungkin itu bukan salah mereka.
Kenangan tidak otomatis diwariskan.
Ia harus diceritakan.
Sebab sebuah kota tidak hanya dibangun dari beton dan aspal.
Kota juga dibangun dari ingatan orang-orang yang pernah tinggal di dalamnya.
Yang Hilang Bukan Hanya Gedung
Gedung Nusantara mungkin suatu hari akan hilang.
Mungkin roboh.
Mungkin dijual.
Mungkin dibongkar dan digantikan bangunan baru.
Mungkin suatu hari seseorang menemukan fungsi baru untuknya.
Itu semua bagian dari perubahan kota.
Dan hak atas bangunan tetap berada pada pemiliknya.
Tetapi ada sesuatu yang tidak seharusnya ikut hilang hanya karena sebuah gedung berubah atau runtuh.
Ceritanya.
Sebab jika cerita itu tidak ditulis, maka generasi berikutnya akan mengira bahwa Tomohon memang selalu seperti sekarang.
Mereka tidak akan tahu bahwa dahulu ada dua tempat di kota ini yang pada sore dan malam, atau malam khusus seperti malam Minggu dipenuhi orang.
Tidak akan tahu bahwa ada suara karcis dirobek.
Tidak akan tahu bahwa anak muda pernah berjalan dari Kamasi ke Paslaten hanya demi mendapatkan tontonan.
Tidak akan tahu bahwa ada film India, film Hong Kong, film Indonesia, dan film Hollywood yang pernah membuat sebuah kota kecil tertawa dan menangis bersama.
Tidak akan tahu bahwa sebuah gedung bernama Sonja pernah membawa nama seorang perempuan Tomohon yang terhubung dengan kisah Koes Plus.
Dan mungkin mereka tidak akan pernah tahu bahwa di sebuah dinding bekas bioskop yang telah lama ditinggalkan, seseorang menulis:
"I wait for my queen even though time flies."
Kalimat itu sebenarnya bisa saja menjadi kalimat untuk Tomohon sendiri.
Kota ini juga sedang menunggu.
Menunggu ruang-ruang baru untuk berkumpul.
Menunggu tempat hiburan yang membuat warga tidak selalu harus keluar kota ketika ingin menikmati sesuatu yang sederhana.
Menunggu agar kota bukan hanya tempat orang tinggal, bekerja, sekolah, berdagang, dan pulang.
Tetapi juga tempat orang menikmati hidup.
Dua Layar yang Tidak Sepenuhnya Mati
Sonja telah berubah menjadi bagian dari kehidupan baru.
Nusantara masih berdiri, meskipun lebih menyerupai kenangan daripada gedung pertunjukan.
Namun dua layar itu sebenarnya belum sepenuhnya mati.
Mereka masih hidup di kepala orang-orang yang pernah duduk di dalamnya.
Pada mereka yang masih ingat suara proyektor.
Pada mereka yang masih bisa membayangkan gelapnya ruangan.
Pada mereka yang pernah membeli kacang goreng sebelum film dimulai.
Pada mereka yang pernah menggenggam tangan seseorang dalam kegelapan.
Pada mereka yang kini rambutnya telah memutih dan baru sadar bahwa ternyata sebagian masa muda mereka tertinggal di sana.
Mungkin memang begitulah nasib sebuah kota.
Bangunannya berubah.
Tokonya berganti.
Jalan diperlebar.
Generasi berganti.
Teknologi bergerak.
Tetapi manusia tetap membutuhkan hal yang sama: tempat untuk bertemu, berbagi cerita, tertawa, menangis, dan sesekali melupakan dunia selama dua jam.
Dulu Tomohon punya dua layar untuk itu.
Sonja dan Nusantara.
Sekarang keduanya tinggal cerita.
Dan barangkali, sebelum gedung Nusantara benar-benar menjadi bagian dari masa lalu, ada baiknya kita berhenti sebentar di depannya.
Bukan untuk meratapi bangunan tua.
Melainkan untuk mengingat bahwa sebuah kota pernah memiliki tempat yang membuat warganya merasa hidup bersama.
Sebab sebuah gedung bisa runtuh.
Layar bisa padam.
Proyektor bisa berkarat.
Tetapi selama masih ada orang yang mengingat dan mau bercerita, sebuah kota belum kehilangan seluruh masa lalunya.
Dan mungkin, dari cerita tentang dua bioskop yang pernah hidup di kota dingin ini, kita bisa mengajukan satu pertanyaan untuk masa depan:
Tomohon ingin menjadi kota seperti apa—dan di mana warganya kelak akan berkumpul ketika mereka hanya ingin menonton, tertawa, dan menikmati hidup bersama?

Komentar
Posting Komentar