Ketika Gunung Mulai Terbakar

Ketika Gunung Klabat dan Gunung Awu serta lahan dan hutan lain mulai terbakar, persoalannya bukan lagi sekadar El Niño dan musim kering. Api memperlihatkan betapa rapuhnya lanskap Sulawesi Utara—dan betapa panjang pekerjaan memulihkan alam setelah kobaran padam.

Kebakaran lahan di kawasan pegunungan Sulawesi Utara di tengah kondisi kering akibat El Niño.
Api membakar vegetasi di kawasan pegunungan Sulawesi Utara. Di tengah El Niño 2026–2027, kondisi lingkungan yang semakin kering meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Gambar hanya ilustrasi yang dibuat berkolaborasi dengan teknologi AI.

Di Antara El Niño, Api, dan Lanskap Sulawesi Utara yang Semakin Rapuh

Asap pertama mungkin terlihat seperti kabut.

Dari kejauhan ia menggantung tipis di atas lereng. Tidak banyak. Tidak cukup tebal untuk membuat orang berhenti berjalan. Tidak cukup hitam untuk segera dianggap sebagai bencana.

Lalu angin datang.

Api bergerak.

Rumput yang kering menjadi bahan bakar. Semak menyusul. Daun-daun yang jatuh dan ranting yang mengering selama berminggu-minggu seperti menunggu satu kesalahan kecil.

Dalam beberapa jam, sesuatu yang semula tampak sepele berubah menjadi garis merah di lereng.

Gunung Klabat terbakar.

Di tempat lain, Gunung Awu di Sangihe juga menghadapi api.

Dan di sejumlah kawasan Sulawesi Utara, kebakaran lahan dan hutan (karhutla) bahkan mendekati permukiman.

Kali ini persoalannya bukan lagi tentang apakah El Niño akan datang.

Ia sudah datang.

Pertanyaannya berubah:

Seberapa mudah lingkungan kita terbakar ketika alam sedang kering dan manusia terus menambahkan percikan?

Gunung yang Biasanya Hanya Diam

Gunung Klabat selama ini lebih sering hadir dalam kehidupan masyarakat sebagai latar.

Ia terlihat dari jalan.

Menjadi penanda arah.

Menjadi bagian dari lanskap Kabupaten Minahasa Utara, dan Provinsi Sulawesi Utara.

Puncaknya menjulang, sementara kehidupan manusia berlangsung di bawahnya.

Tetapi pada September 2026, gunung itu hadir dengan wajah berbeda.

Api.

Kebakaran di kawasan kaki Gunung Klabat di Minahasa Utara mulai dilaporkan pada 19 September. Angin membuat api cepat menyebar. Dalam perkembangan penanganan berikutnya, BNPB mencatat sekitar 280 hektare lahan terdampak kebakaran di kawasan tersebut.

Angka 280 hektare mungkin terdengar seperti angka statistik.

Tetapi coba bayangkan luas tanah itu tanpa angka.

Bayangkan berjalan dari satu ujung ke ujung lain.

Bayangkan vegetasi yang selama bertahun-tahun tumbuh di sana tiba-tiba menjadi abu.

Bayangkan hewan-hewan kecil yang tidak memiliki kemampuan melarikan diri sejauh manusia.

Bayangkan tanah yang kehilangan penutupnya.

Dan bayangkan hujan pertama setelah api padam.

Cerita kebakaran tidak berhenti ketika api tidak lagi terlihat.

Justru di situlah cerita berikutnya dimulai.

Api Tidak Selalu Dimulai dari Langit

Ada kecenderungan mudah ketika bencana terjadi: mencari satu nama untuk dijadikan penyebab.

El Niño.

Kemarau.

Panas.

Angin.

Padahal api hampir selalu memiliki cerita yang lebih rumit.

Kondisi kering dapat membuat vegetasi mudah terbakar.

Angin dapat membuat api bergerak lebih cepat.

Tetapi di banyak kasus, manusia tetap menjadi bagian dari rantai kejadian.

Sebuah pembakaran.

Puntung rokok.

Api unggun.

Pembersihan lahan.

Sampah yang dibakar.

Atau aktivitas lain yang pada hari biasa mungkin terlihat tidak berbahaya.

Pada kondisi basah, sebagian tindakan itu mungkin berakhir sebagai asap kecil.

Pada kondisi kering, ceritanya dapat berubah.

Itulah yang membuat musim seperti sekarang berbahaya.

Bukan karena manusia tiba-tiba berubah menjadi ceroboh.

Tetapi karena lingkungan memberikan margin kesalahan yang semakin kecil.

Di Kaki Gunung, Kesalahan Kecil Menjadi Besar

Di Kelurahan Kinali, Kecamatan Kawangkoan, Minahasa, kebakaran pada September juga terjadi di kawasan yang berdekatan dengan permukiman. 

Laporan awal BNPB menyebut dugaan sumber api berasal dari aktivitas pembakaran sampah.

Jika dugaan tersebut terbukti, kisahnya terasa ironis.

Sampah yang hendak disingkirkan hanya membutuhkan beberapa menit untuk dibakar.

Tetapi jika api meluas, pekerjaan memadamkannya membutuhkan jauh lebih banyak tenaga, waktu dan biaya.

Di sinilah kita sering salah memahami bencana.

Kita menganggap kebakaran sebagai kejadian luar biasa.

Padahal sebagian kebakaran justru dimulai dari tindakan yang sangat biasa.

Membakar sesuatu.

Menyalakan api.

Meninggalkan bara.

Lalu pergi.

Alam kemudian mengambil alih.

Dari Awu ke Klabat

Di Kepulauan Sangihe, Gunung Awu juga menghadapi kebakaran.

Pemantauan di kawasan Gunung Awu pada awal September menunjukkan sekitar 55 hektare lahan terdampak.

Gunung yang selama ini lebih sering dibicarakan karena sejarah vulkaniknya kini juga masuk dalam cerita kebakaran.

Ada sesuatu yang terasa ganjil di sana.

Kita terbiasa menganggap gunung sebagai tempat yang keras: batu, lava, kawah, lereng, dan hutan.

Tetapi hutan di atas gunung tetap merupakan ekosistem.

Di sana ada kehidupan.

Ada tumbuhan.

Ada satwa.

Ada tanah.

Ada jaringan ekologis yang tidak terlihat mata.

Ketika api melewati kawasan itu, yang terbakar bukan hanya apa yang terlihat dari kejauhan.

Api juga mengubah sesuatu yang lebih sulit difoto:

hubungan antarunsur dalam ekosistem.

Sebelumnya kebakaran dahsyat juga terjadi di kaki Gunung Soputan, Kabupaten Minahasa Selatan dan Kabupaten Minahasa Tenggara.

Setelah Api Padam, Apa yang Hilang?

 Inilah bagian yang sering tidak masuk dalam berita.

Ketika api padam, berita selesai.

Petugas pulang.

Asap menipis.

Foto-foto kebakaran berhenti muncul di layar.

Tetapi tanah tetap berada di sana.

Dan tanah yang terbakar tidak langsung kembali seperti sebelumnya.

Vegetasi membutuhkan waktu untuk tumbuh kembali.

Sebagian satwa kehilangan tempat berlindung.

Mikroorganisme tanah mengalami perubahan.

Struktur tanah dapat terganggu.

Permukaan yang sebelumnya ditutup vegetasi menjadi terbuka.

Lalu hujan datang.

Air yang jatuh ke tanah terbuka memiliki perilaku berbeda dibandingkan air yang jatuh ke kawasan berhutan.

Sebagian mengalir di permukaan.

Sebagian membawa partikel tanah.

Di lereng yang curam, proses itu dapat memperbesar erosi.

Karena itu, kebakaran bukan hanya persoalan apa yang hilang ketika api menyala.

Ia juga persoalan apa yang berubah setelah api padam.

Kita Terlalu Sering Menghitung Hektare

 Dalam laporan kebakaran, hektare adalah angka penting.

Ia membantu pemerintah mengukur luas wilayah terdampak.

Membantu menentukan skala penanganan.

Membantu menghitung kebutuhan pemulihan.

Tetapi hektare tidak dapat menceritakan seluruh kehilangan.

Satu hektare hutan bukan hanya satuan luas.

Di dalamnya mungkin terdapat puluhan jenis tumbuhan.

Serangga.

Burung.

Mamalia kecil.

Jamur.

Organisme tanah.

Dan hubungan ekologis yang terbentuk selama bertahun-tahun.

Ketika kawasan itu terbakar, kita kehilangan lebih dari luas di peta.

Kita kehilangan sebagian dari fungsi ekosistem.

Karena itu, pertanyaan setelah kebakaran seharusnya bukan hanya:

Berapa hektare yang terbakar?

Tetapi juga:

Apa yang sebelumnya hidup di sana?

Dan:

Berapa lama yang dibutuhkan untuk mengembalikannya?

El Niño Hanya Memperkecil Jarak Antara Kesalahan dan Bencana

BMKG kini memperkirakan El Niño berada pada intensitas sangat kuat dan awal musim hujan 2026–2027 mundur di sebagian besar wilayah Indonesia. Sebanyak 529 Zona Musim atau 61,08 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami keterlambatan awal musim hujan dibandingkan rata-rata klimatologis.

Tetapi penting untuk tidak membaca angka itu secara keliru.

El Niño bukan korek api.

Ia bukan tangan yang menyalakan kebakaran.

Ia lebih seperti kondisi yang membuat lingkungan menjadi lebih mudah terbakar.

Perbedaan itu penting.

Sebab jika semua kebakaran disebut semata-mata sebagai akibat El Niño, manusia kehilangan bagian tanggung jawabnya.

Padahal sebagian risiko dapat dikurangi.

Jangan membakar ketika kondisi sangat kering.

Jangan meninggalkan api.

Jangan membuka lahan dengan cara yang berisiko.

Jangan menganggap bara kecil akan mati sendiri.

Dan jangan menganggap hutan terlalu luas untuk disentuh oleh satu kesalahan manusia.

Api tidak membutuhkan banyak alasan.

Ia hanya membutuhkan bahan bakar.

Hutan Bukan Dekorasi

Kita sering memandang hutan dari jauh.

Hijau.

Indah.

Menyejukkan.

Lalu selesai.

Padahal hutan bekerja jauh lebih keras daripada sekadar menjadi pemandangan.

Ia menyediakan habitat.

Menyimpan karbon.

Menahan tanah.

Membantu mengatur siklus air.

Menjadi rumah bagi berbagai spesies.

Dan membentuk bentang alam yang menopang kehidupan manusia.

Ketika hutan terbakar, sebagian fungsi itu hilang.

Tidak semuanya kembali ketika pohon baru ditanam.

Sebab menanam pohon bukan hal yang sama dengan memulihkan hutan.

Pohon dapat ditanam dalam satu hari.

Ekosistem membutuhkan waktu jauh lebih lama.

Jangan Buru-Buru Menanam Pohon

Kalimat ini mungkin terdengar aneh.

Tetapi setelah kebakaran, pemulihan lingkungan tidak cukup hanya dengan membagikan bibit.

Pertanyaan pertama justru harus:

Mengapa kawasan itu terbakar?

Kemudian:

Apakah penyebabnya masih ada?

Jika kebakaran disebabkan aktivitas manusia, bagaimana mencegahnya?

Jika kawasan terlalu mudah terbakar, bagaimana mengelolanya?

Jika akses manusia terlalu bebas, bagaimana pengawasannya?

Jika masyarakat di sekitar kawasan bergantung pada pembukaan lahan, adakah alternatif yang aman?

Dan setelah itu barulah pertanyaan berikutnya:

Apa yang harus ditanam?

Pemulihan yang baik bukan sekadar membuat kawasan terlihat hijau kembali.

Ia harus mengembalikan fungsi ekologisnya.

Gunung Tidak Membutuhkan Kita untuk Terlihat Indah

Ada sesuatu yang sering dilupakan dalam percakapan tentang lingkungan.

Alam tidak membutuhkan manusia untuk menjadi alam.

Gunung tidak membutuhkan papan nama agar menjadi gunung.

Hutan tidak membutuhkan kamera agar memiliki nilai.

Burung tidak membutuhkan manusia untuk menyadari bahwa habitatnya penting.

Tetapi manusia membutuhkan semuanya.

Kita membutuhkan hutan.

Membutuhkan tanah.

Membutuhkan udara bersih.

Membutuhkan ekosistem yang bekerja.

Dan ketika fungsi-fungsi itu rusak, kita baru menyadari bahwa selama ini kita menerima semuanya secara gratis.

Sampai tagihannya datang.

Dari Kebakaran Menjadi Pertanyaan Tata Kelola

Kebakaran juga membuka persoalan lain: siapa yang bertanggung jawab menjaga lanskap?

Pemerintah memiliki perangkat penanggulangan bencana.

Petugas memiliki kemampuan pemadaman.

Masyarakat memiliki pengetahuan lokal.

Pemilik lahan memiliki tanggung jawab terhadap aktivitas di lahannya.

Pengelola kawasan memiliki kewajiban menjaga kawasan.

Dan masyarakat luas memiliki kewajiban untuk tidak menambah risiko.

Tidak ada satu pihak yang dapat bekerja sendirian.

Sebab api tidak mengenal batas kewenangan.

Ia tidak berhenti karena garis administrasi desa.

Tidak membaca papan "kawasan hutan".

Tidak bertanya siapa pemilik lahan.

Ketika angin membawa api, semua batas menjadi tidak berarti.

Ada Persoalan yang Lebih Besar Daripada Api

Kebakaran hutan dan lahan di Sulawesi Utara pada 2026 bukan satu kejadian tunggal.

Data yang dilaporkan Polda Sulut hingga September mencatat ratusan kejadian karhutla dengan ribuan hektare lahan terdampak.

Angka-angka itu perlu dibaca hati-hati.

Sebab tidak setiap kejadian memiliki penyebab yang sama.

Tidak setiap lokasi memiliki karakteristik yang sama.

Dan tidak setiap kebakaran berkaitan langsung dengan El Niño.

Tetapi ketika kejadian berulang muncul di berbagai tempat dalam periode yang sama, kita patut melihat persoalannya sebagai sesuatu yang lebih besar daripada satu titik api.

Pertanyaannya menjadi:

Apakah lanskap kita sedang kehilangan daya tahan?

Ketahanan Lingkungan Bukan Slogan

Kita sering menggunakan kata resiliensi.

Ketahanan.

Adaptasi.

Mitigasi.

Istilah-istilah itu penting.

Tetapi ketahanan lingkungan tidak lahir dari spanduk.

Ia lahir dari keputusan sehari-hari.

Dari bagaimana sebuah kawasan dikelola.

Dari bagaimana lahan dibuka.

Dari bagaimana sampah diperlakukan.

Dari bagaimana kawasan rawan diawasi.

Dari seberapa cepat informasi kebakaran diterima.

Dari seberapa siap masyarakat bergerak ketika api pertama terlihat.

Dan dari apakah pemerintah memiliki rencana setelah api padam.

Sebab pencegahan selalu lebih murah daripada pemulihan.

Dan menjaga hutan yang masih hidup jauh lebih masuk akal daripada mencoba menciptakan kembali hutan yang telah terbakar.

Api Mengajarkan Sesuatu yang Tidak Diajarkan Ramalan

Ramalan cuaca memberi kita kemungkinan.

Peta risiko memberi kita peringatan.

Data memberi kita angka.

Tetapi api memberi kita sesuatu yang jauh lebih konkret.

Ia memperlihatkan betapa cepat sebuah ekosistem dapat berubah.

Pagi hari masih hijau.

Siang hari mulai berasap.

Sore hari menjadi hitam.

Dan keesokan harinya, sesuatu yang telah tumbuh selama bertahun-tahun mungkin sudah tidak ada.

Itulah mengapa kebakaran harus dibaca sebagai peringatan lingkungan.

Bukan hanya sebagai berita kriminal.

Bukan hanya sebagai bencana.

Dan bukan hanya sebagai persoalan pemadaman.

Ia adalah pertanyaan tentang hubungan manusia dengan ruang hidupnya.

Setelah Hujan Nanti

Suatu hari hujan akan turun.

Mungkin lebih cepat.

Mungkin lebih lambat.

Tetapi hujan akan datang.

Tanah yang terbakar akan kembali basah.

Rumput baru akan tumbuh.

Semak akan menghijau.

Dari kejauhan, bekas kebakaran mungkin mulai tampak seperti tidak pernah terjadi.

Itulah bagian yang menipu.

Hijau tidak selalu berarti pulih.

Sebuah kawasan dapat terlihat hijau tetapi belum kembali memiliki keragaman hayati seperti sebelumnya.

Tanah dapat tertutup tumbuhan tetapi struktur ekologisnya belum pulih.

Dan manusia dapat melihat warna hijau lalu merasa masalah selesai.

Padahal pemulihan lingkungan membutuhkan waktu.

Jauh lebih lama daripada satu siklus berita.

Jangan Menunggu Gunung Menjadi Hitam

Kita mungkin tidak bisa menghentikan El Niño.

Kita tidak dapat mengatur suhu laut di Pasifik.

Kita tidak bisa memerintah angin berhenti bertiup.

Tetapi ada banyak hal yang masih berada dalam jangkauan manusia.

Kita bisa mencegah api.

Kita bisa memperbaiki pengawasan.

Kita bisa menjaga kawasan yang belum terbakar.

Kita bisa menindak pembakaran yang melanggar aturan.

Kita bisa membangun sistem peringatan yang benar-benar bekerja.

Kita bisa melibatkan masyarakat sekitar hutan.

Dan kita bisa memulihkan kawasan yang sudah rusak dengan pendekatan ekologis, bukan sekadar kosmetik.

Sebab setiap kebakaran yang berhasil dicegah berarti satu ekosistem yang tidak perlu dipulihkan.

Satu habitat yang tidak perlu dibangun kembali.

Satu lereng yang tidak kehilangan penutupnya.

Satu bagian dari lanskap yang tetap hidup.

Pada Akhirnya, Api Bukan Hanya Tentang Api

Gunung Soputan, Gunung Awum, dan Gunung Klabat akan tetap berdiri.

Tetapi wajah lerengnya bisa berubah.

Sebagian perubahan mungkin tidak terlihat dari jalan raya.

Sebagian baru terasa bertahun-tahun kemudian.

Dan mungkin itulah ironi terbesar dari kerusakan lingkungan.

Yang hilang hari ini tidak selalu terasa hari ini.

Satu pohon tumbang mungkin tidak mengubah apa pun pagi berikutnya.

Satu petak hutan terbakar mungkin tidak membuat kota berhenti bergerak.

Satu lereng yang gundul mungkin masih terlihat biasa saja.

Tetapi kerusakan lingkungan bekerja dengan cara mengumpulkan kehilangan kecil menjadi persoalan besar.

Karena itu, kita tidak seharusnya menunggu sampai seluruh gunung hitam untuk menyadari bahwa ada sesuatu yang salah.

Asap pertama seharusnya sudah cukup.

Api pertama seharusnya sudah cukup.

Dan satu kebakaran yang sebenarnya bisa dicegah seharusnya sudah cukup untuk membuat kita bertanya:

Apa yang sedang kita lakukan terhadap tempat yang kelak harus diwariskan kepada anak-anak kita?

Sebab ketika api padam, gunung tetap diam.

Hutan tidak mengeluh.

Pohon-pohon yang terbakar tidak mengirim surat.

Tanah tidak menuntut ganti rugi.

Alam hanya menyimpan bekasnya.

Dan suatu hari nanti, manusia mungkin akan belajar membaca bekas itu sebagai sebuah kalimat sederhana:

Kami sudah pernah memperingatkan kalian.

Foto Donny Turang

Donny Turang

Jurnalis Utama bersertifikat Dewan Pers/AJI Indonesia. Menulis cerita yang layak untuk diceritakan.

Komentar