Ketika Mata Air Berhenti Bernyanyi
Mata Air Watu tiba-tiba berhenti mengalir, sebuah kampung mulai menyadari bahwa kekeringan bukan sekadar soal hujan yang tak kunjung turun. Di tengah kemarau dan ancaman El Niño, mereka dipaksa mengingat kembali hutan yang hilang, tanah yang berubah, dan air yang selama ini dianggap akan selalu ada.
Pagi itu, Oma Lin membawa ember kosong ke belakang rumah. Biasanya ia tidak pernah membawa ember ke sana.
Air untuk memasak sudah lama diambil dari keran rumah. Kalau keran tidak mengalir, ia tinggal menunggu beberapa jam. Paling lama sampai sore.
Tetapi pagi itu berbeda. Keran sudah dua hari tidak mengeluarkan air.
Oma Lin berjalan perlahan melewati kebun kecil di belakang rumah. Tanah di bawah pohon cengkih terasa keras. Daun-daun kering bergeser setiap kali kakinya melangkah.
Di ujung ada jalan setapak menuju sebuah mata air. Mata air itu sudah ada jauh sebelum rumah-rumah berdiri di kampung tersebut.
Orang-orang tua menyebutnya Mata Air Watu.
Dulu airnya mengalir sepanjang tahun.
Anak-anak mandi di sana.
Perempuan membawa pakaian untuk dicuci.
Petani mengambil air sebelum berangkat ke kebun.
Bahkan pada kemarau panjang, kata orang-orang tua, airnya tidak pernah benar-benar berhenti.
Oma Lin masih mengingat masa kecilnya. Ia pernah datang ke sana bersama ibunya. Saat itu air mengalir deras dari celah batu.
Jernih.
Dingin.
Dan selalu ada.
Itulah sebabnya tidak seorang pun pernah berpikir bahwa suatu hari mata air itu bisa berhenti.
Oma Lin tiba di sana. Ia menurunkan ember.
Kemudian diam.
Tidak ada suara air.
Tidak ada gemericik.
Tidak ada aliran kecil yang biasanya terdengar dari kejauhan.Yang terdengar hanya suara serangga dan daun kering yang tertiup angin.
Oma Lin berjongkok. Ia menyentuh batu yang biasanya basah.
Kering.
Ia menunggu beberapa detik. Kemudian beberapa detik lagi.
Tetap tidak ada air.
“Berhenti juga akhirnya,” katanya pelan.
Ia tidak tahu kepada siapa kalimat itu ditujukan.
Mata air?
Atau dirinya sendiri?
Cucu laki-lakinya, Riko, menemukan Oma Lin masih duduk di sana ketika ia datang dengan sepeda.
“Oma.”
Perempuan tua itu menoleh.
“Kenapa?”
“Airnya?”
Oma Lin menggeleng.
Riko turun dari sepeda. Ia melihat lubang mata air yang kosong.
“Benar-benar habis?”
“Bukan habis.”
“Terus?”
“Tidak keluar.”
Riko tertawa kecil.
“Besok keluar lagi.”
Oma Lin menatap cucunya.
“Kalau besok tidak?”
Riko tidak menjawab.
Ia belum pernah memikirkan kemungkinan itu. Baginya air selalu ada.
Kalau keran mati, ada sumur.
Kalau sumur surut, ada mata air.
Kalau mata air kecil, ada sungai.
Selalu ada.
Begitulah pikirannya selama ini.
Oma Lin berdiri.
“Angkat ember itu.”
“Diisi?”
“Kalau ada air, isi.”
Riko melihat lubang mata air sekali lagi. Kemudian ia mengangkat ember yang kosong.
Hari itu kampung mulai sibuk mencari air.
Bukan karena orang-orang baru menyadari bahwa kemarau sedang berlangsung.
Mereka sudah tahu.
Sudah berminggu-minggu.
Tetapi selama ini mereka masih memiliki air.
Itulah perbedaannya.
Kekeringan baru terasa sebagai ancaman ketika air yang tersisa mulai menghilang.
Pagi berikutnya, antrean panjang terbentuk di sebuah sumur milik warga.
Orang-orang membawa ember.
Galon.
Ember.
Botol.
Apa pun yang bisa diisi dengan air. Ada yang datang sejak subuh. Ada yang menunggu sambil duduk di atas motor.
Anak-anak yang biasanya ribut kini lebih banyak diam. Mereka melihat orang dewasa menghitung air seperti menghitung uang.
“Dua ember saja.”
“Jangan lebih.”
“Yang lain juga perlu.”
Seorang ibu memarahi anaknya karena menumpahkan hampir setengah.
“Air itu bukan untuk main-main!”
Anak itu menunduk.
Mungkin baru kali itu ia memahami bahwa air bisa menjadi sesuatu yang harus dijaga sampai tetes terakhir.
Riko berdiri di belakang Oma Lin. Ia memperhatikan semua orang.
“Oma.”
“Hm?”
“Kenapa mata air bisa kering?”
Oma Lin tidak langsung menjawab.
Ia sedang memperhatikan seorang petani yang datang membawa empat galon.
“Karena kemarau.”
“Cuma itu?”
Oma Lin menggeleng.
“Tidak sesederhana itu.”
Riko menunggu.
“Air yang kita lihat keluar dari mata air sebenarnya bukan air yang muncul begitu saja dari batu.”
Ia menunjuk ke arah perbukitan.
“Air hujan masuk ke tanah. Sebagian mengalir di permukaan. Sebagian lagi meresap ke dalam tanah dan mengisi lapisan air tanah.”
Riko mengangguk meski belum sepenuhnya mengerti.
“Lalu?”
“Kalau hujan berkurang terlalu lama, cadangan air tanah ikut berkurang.”
“Makanya mata air berhenti?”
“Bisa.”
“Terus kalau banyak pohon ditebang?”
Oma Lin memandang cucunya.
“Nah.”
Ia tersenyum tipis.
“Itu pertanyaan yang lebih penting.”
Di atas kampung mereka ada sebuah bukit. Dulu bukit itu hampir seluruhnya ditutupi pepohonan.
Sekarang tidak lagi.
Sebagian sudah menjadi kebun.
Sebagian dibuka untuk jalan.
Sebagian lagi berubah menjadi lahan kosong.
Sebagian lagi dibuka untuk kawasan pariwisata.
Orang-orang menebang pohon bukan karena ingin merusak alam. Setidaknya tidak selalu begitu.
Ada yang membutuhkan kayu.
Ada yang membutuhkan lahan.
Ada yang ingin memperluas kebun.
Ada yang sekadar mengikuti orang lain.
Sedikit demi sedikit.
Satu pohon.
Dua pohon.
Sepuluh pohon.
Puluhan tahun kemudian, bukit yang dulu hijau mulai memiliki banyak bagian yang terbuka.
Ketika hujan turun, air lebih cepat mengalir di permukaan.
Ketika hujan berhenti, tanah lebih cepat kehilangan kelembapan.
Dan ketika kemarau panjang datang, orang-orang mulai mencari siapa yang harus disalahkan.
Sebagian menunjuk El Niño.
Sebagian menunjuk pemerintah.
Sebagian menyalahkan cuaca.
Hampir tidak ada yang menunjuk ke bukit. Karena bukit tidak bisa membela diri.
Riko dan Oma Lin berjalan menuju bukit pada suatu sore. Mereka membawa cangkul kecil.
“Untuk apa?”
“Lihat saja.”
Mereka berhenti di sebuah lereng. Oma Lin menunjuk tanah.
“Dulu di sini pohon besar.”
“Yang mana?”
“Sudah tidak ada.”
“Ditebang?”
“Iya.”
“Siapa yang tebang?”
Oma Lin tersenyum.
“Kita.”
Riko tertawa.
“Bukan saya.”
“Kau belum lahir.”
“Nah.”
“Tapi orang sebelum kau lahir.”
Riko terdiam.
Oma Lin mencangkul sedikit tanah. Tanah bagian atas keras. Di beberapa tempat tampak alur-alur kecil bekas air.
“Kalau hujan deras turun di tanah yang tidak terlindungi, air lebih mudah mengalir di permukaan. Tanah bagian atas bisa terbawa. Itu sebabnya kita bisa mengalami erosi.”
Riko menyentuh tanah.
“Terus airnya pergi?”
“Sebagian.”
“Tidak masuk ke tanah?”
“Tidak sebanyak kalau tanah dan tumbuhan masih sehat.”
Riko melihat bukit.
“Jadi mata air juga bisa kena?”
“Bisa.”
Ia berdiri.
“Karena itu menjaga mata air bukan cuma menjaga lubang tempat air keluar.”
Riko menatap Omanya.
“Terus?”
“Menjaga seluruh perjalanan air.”
Malam itu, Oma Lin mendengarkan berita di televisi. Pakar sedang membahas kondisi iklim.
Riko duduk di lantai. Oma Lin sedang mengupas singkong.
“...fenomena El Niño dapat meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia karena perubahan pola sirkulasi atmosfer dan distribusi curah hujan...”
Riko tiba-tiba berkata,
“Oma.”
“Hm?”
“Berarti El Niño yang mengeringkan mata air kita?”
Oma Lin berhenti mengupas.
“Jangan menyalahkan satu nama untuk semua hal.”
Riko diam.
“Jadi?”
“El Niño bisa memperburuk kondisi kering. Tetapi kalau kita tidak punya cadangan air, daerah resapan rusak, hutan berkurang, dan tanah tidak lagi mampu menyimpan air dengan baik, kita menjadi jauh lebih rentan.”
Riko mendengarkan.
“Jadi kalau ada dua kampung sama-sama kena kemarau?”
“Bisa berbeda nasib.”
“Kenapa?”
“Karena persiapannya berbeda. Alamnya berbeda. Kondisi tanahnya berbeda. Cara orang menjaga airnya juga berbeda.”
Riko melihat singkong di tangan Omanya.
“Berarti bukan cuma soal hujan.”
Oma Lin tersenyum.
“Sekarang kau mulai mengerti.”
Beberapa minggu kemudian, air menjadi barang yang paling sering dibicarakan.
Bukan beras.
Bukan harga cabai.
Bukan pupuk.
Air.
Air untuk minum.
Air untuk memasak.
Air untuk mandi.
Air untuk ternak.
Air untuk kebun.
Air untuk sekolah.
Bahkan air untuk menyiram bunga atau satu pohon muda pun mulai dipikirkan dua kali.
Di warung Ci Ke, pembicaraan tentang harga sayuran berubah.
“Tomat naik lagi.”
“Karena petani kurang air?”
“Iya.”
“Kalau begitu nanti cabai?”
“Bisa ikut.”
Ci Ke menghela napas.
“Kalau kebun gagal, barang kurang. Kalau barang kurang, harga naik.”
Seorang ibu yang sedang membeli bawang menyahut,
“Yang susah bukan cuma petani.”
Ci Ke mengangguk.
“Yang makan juga.”
Keduanya terdiam.
Mereka tahu, krisis air tidak pernah tinggal di tempat air menghilang.
Ia berjalan.
Dari kebun ke pasar.
Dari pasar ke dapur.
Dari dapur ke meja makan.
Dan akhirnya masuk ke kehidupan semua orang.
Pada suatu siang, sesuatu yang tidak pernah diperkirakan terjadi.
Anak-anak sekolah pulang lebih cepat.
Bukan karena libur.
Sekolah tidak memiliki cukup air.
Kepala sekolah meminta para guru mengurangi penggunaan toilet dan menghentikan beberapa kegiatan yang membutuhkan banyak air.
Riko pulang dengan wajah kusut.
“Kenapa?”
“Sekolah tidak ada air.”
Oma Lin menatapnya.
“Sekarang kau tahu.”
“Tahu apa?”
“Air yang kita kira urusan rumah, ternyata juga urusan sekolah.”
Riko meletakkan tas.
“Kalau air habis, semua berhenti?”
“Tidak semua.”
Oma Lin tersenyum.
“Tapi banyak hal yang kita anggap sepele akan tiba-tiba menjadi penting.”
Sore itu, warga berkumpul di bawah pohon tua dekat warung Ci Ke.
Bukan rapat resmi.
Tidak ada meja.
Tidak ada pengeras suara.
Tidak ada surat dari kantor kecamatan.
Mereka hanya duduk.
Dan untuk pertama kalinya, pembicaraan mereka bukan tentang bagaimana mendapatkan air untuk besok. Tetapi bagaimana supaya kampung mereka tidak mengalami keadaan yang sama setiap kali kemarau panjang datang.
Seorang petani mengusulkan membuat bak penampung. Yang lain mengusulkan memperbaiki saluran air. Ada yang mengingatkan agar daerah sekitar mata air tidak lagi dibuka untuk kebun.
Seorang pemuda berkata mereka harus menanam kembali pohon di bukit.
“Kalau ditanam sekarang, kapan besar?”
“Lima tahun.”
“Sepuluh tahun.”
“Tidak apa.”
Seorang lelaki tua yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.
“Pohon itu bukan seperti mi instan.”
Semua tertawa. Ia ikut tertawa.
“Tapi justru karena lama, kita harus mulai sekarang.”
Oma Lin mendengarkan. Ia tidak banyak bicara. Tetapi ketika seseorang bertanya apa yang harus dilakukan terhadap Mata Air Watu, ia berkata,
“Jangan tunggu airnya habis baru kita jaga sumbernya.”
Kalimat itu membuat semua orang diam. Karena mereka sadar:
Mereka sedang melakukan hal yang sama terhadap mata air seperti yang pernah dilakukan terhadap hutan. Menganggapnya akan selalu ada. Sampai suatu hari tidak ada lagi.
Beberapa hari kemudian, pekerjaan dimulai.
Pemuda membersihkan kawasan mata air.
Petani membuat saluran kecil agar air hujan tidak langsung mengalir pergi.
Warga menanam pohon di bagian bukit yang terbuka.
Sekolah membuat tempat penampungan air hujan.
Rumah-rumah mulai memasang tong sederhana.
Tidak semuanya berhasil.
Ada yang bocor.
Ada yang rusak.
Ada yang belum cukup besar.
Tetapi kampung itu mulai belajar. Bukan belajar mengalahkan kemarau.
Mereka tahu itu tidak mungkin.
Mereka belajar hidup lebih siap ketika kemarau datang. Dan mereka mulai memahami sesuatu yang dulu tidak pernah mereka pikirkan:
air yang keluar dari mata air hari ini adalah hasil dari hujan yang mungkin jatuh berbulan-bulan sebelumnya.
Air yang diminum hari ini bisa saja berasal dari perjalanan panjang melalui tanah, akar, batu, dan lapisan bumi.
Karena itu, ketika manusia merusak hutan di atasnya, mereka sebenarnya sedang mengganggu perjalanan air yang belum mereka butuhkan hari ini. Tetapi akan mereka cari beberapa bulan kemudian.
Suatu pagi, setelah berbulan-bulan menunggu, hujan turun.
Tidak deras.
Tidak lama.
Hanya sekitar dua puluh menit. Namun orang-orang keluar rumah. Anak-anak berlari.
Beberapa perempuan menaruh ember di bawah talang.
Para petani berdiri di halaman.
Riko berlari mencari Oma Lin.
“Oma!”
Perempuan tua itu keluar.
“Kenapa?”
“Hujan!”
Oma Lin tersenyum.
“Iya.”
“Air!”
“Iya.”
Riko menarik tangannya.
“Ayo ke mata air.”
Mereka berjalan bersama. Jalan tanah menjadi basah. Aroma tanah naik ke udara. Daun-daun yang lama berdebu tampak lebih gelap.
Mereka terus berjalan.
Ketika tiba di Mata Air Watu, tidak ada suara besar.
Belum.
Hanya satu tetes.
Lalu satu lagi.
Riko berjongkok.
“Belum banyak.”
Oma Lin mengangguk.
“Tidak apa.”
Beberapa detik kemudian, air mulai merembes dari sela batu.
Pelan. Sangat pelan.
Tetapi ada.
Riko tersenyum.
“Oma.”
“Hm?”
“Dia bernyanyi lagi.”
Oma Lin menatap cucunya. Kemudian ia ikut tersenyum.
“Iya.”
Ia duduk di samping mata air. Tangannya menyentuh air yang dingin. Matanya berkaca-kaca.
Bukan karena jumlah airnya. Tetapi karena suara kecil itu mengembalikan sesuatu yang hampir hilang dari ingatannya.
Suara masa kecil.
Suara ibunya.
Suara anak-anak mandi di mata air.
Suara perempuan tertawa sambil mencuci pakaian.
Suara orang-orang memanggil dari kebun.
Semua seperti kembali sebentar.
Riko mengambil air dengan kedua telapak tangannya.
Ia meminumnya.
Kemudian ia menatap Omanya.
“Oma.”
“Hm?”
“Kalau nanti saya sudah tua, mata air ini masih ada?”
Oma Lin tidak segera menjawab.
Ia memandang bukit. Pohon-pohon muda yang baru ditanam tampak kecil dari tempat mereka berdiri.
“Kalau kau menjaganya.”
“Cuma saya?”
“Bukan.”
“Siapa?”
“Kita semua.”
Riko melihat aliran air.
“Kalau semua orang lupa?”
Oma Lin menarik napas panjang.
“Kalau semua orang lupa, suatu hari air ini akan mengingatkan kita dengan cara yang tidak kita sukai.”
Riko tidak mengerti.
Oma Lin menunjuk ke langit.
“Kemarau bisa datang lagi.”
“Karena El Niño?”
“Bisa saja.”
“Lalu?”
“Lalu kita harus siap.”
“Pohon-pohon itu harus sudah besar.”
Ia menunjuk bak penampungan.
“Air hujan harus ada tempatnya.”
Kemudian ia menunjuk mata air.
“Dan tempat ini harus tetap dijaga.”
Riko mengangguk.
Sore menjelang.
Hujan sudah berhenti. Tetapi tanah masih basah.
Dari bukit, air kecil mengalir mengikuti jalur yang dibuat warga.
Tidak banyak. Namun kali ini tidak semuanya langsung hilang.
Sebagian meresap.
Sebagian ditampung.
Sebagian berjalan perlahan menuju tanah yang lebih rendah.
Mata Air Watu masih mengeluarkan air.
Pelan. Teratur.
Seperti seseorang yang baru sembuh dari sakit panjang.
Di rumah, televisi kembali menyala. Berita tentang El Niño masih terdengar.
Tentang suhu laut.
Tentang pola atmosfer.
Tentang curah hujan.
Tentang kemungkinan musim kering.
Oma Lin tidak mematikan televisi. Ia hanya duduk mendengarkan.
Riko duduk di sampingnya.
“Sekarang Oma mengerti El Niño?”
Oma Lin tertawa kecil.
“Tidak semuanya.”
“Terus kenapa dengar?”
“Supaya tahu kapan harus bersiap.”
Riko mengangguk.
Televisi terus berbicara.
Di luar, air menetes dari daun.
Satu.
Dua.
Tiga.
Tidak ada yang tahu seperti apa musim berikutnya.
Tidak ada yang bisa menjamin bahwa kemarau panjang tidak akan kembali.
Tidak ada yang bisa menjanjikan bahwa El Niño berikutnya akan lebih lemah atau lebih kuat.
Tetapi kampung itu telah belajar sesuatu yang mungkin jauh lebih penting daripada mengetahui nama sebuah fenomena iklim.
Mereka belajar bahwa bencana alam tidak selalu menjadi bencana dengan cara yang sama.
Ada wilayah yang lebih siap.
Ada wilayah yang lebih rapuh.
Ada tanah yang masih menyimpan air.
Ada tanah yang sudah kehilangan kemampuan menyimpannya.
Ada hutan yang menjadi pelindung.
Ada bukit yang telah dibuka terlalu banyak.
Ada masyarakat yang memiliki cadangan.
Ada masyarakat yang hanya memiliki harapan.
Dan harapan, betapapun pentingnya, tidak cukup jika tidak ditemani persiapan.
Malam itu Riko tidur lebih cepat. Sebelum masuk kamar, ia bertanya,
“Oma.”
“Hm?”
“Besok kita ke mata air lagi?”
Oma Lin tersenyum.
“Untuk apa?”
“Mendengar dia bernyanyi.”
Oma Lin mengusap kepala cucunya.
“Boleh.”
Riko masuk kamar.
Oma Lin tetap berdiri di depan pintu. Ia menatap bukit yang gelap. Di sana pohon-pohon muda berdiri dalam diam.
Mungkin suatu hari nanti pohon-pohon itu akan menjadi besar.
Mungkin anak-anak yang sekarang menanamnya akan menjadi tua.
Mungkin Riko akan membawa anaknya sendiri ke Mata Air Watu.
Dan mungkin, ketika itu terjadi, air masih mengalir di antara batu. Bukan karena alam pernah berjanji akan selalu memberikannya. Tetapi karena manusia akhirnya belajar bahwa sesuatu yang berharga tidak cukup hanya digunakan.
Ia harus dijaga.
Oma Lin menutup pintu. Di kejauhan, suara mata air terdengar samar.
Tidak keras.
Tidak istimewa bagi telinga orang yang terbiasa mendengarnya.
Tetapi malam itu, bagi kampung yang baru saja hampir kehilangannya, suara itu seperti sebuah lagu.
Lagu tentang hujan.
Tentang tanah.
Tentang hutan.
Tentang kesalahan manusia.
Dan tentang kesempatan kedua. Sebab kadang-kadang alam tidak perlu berteriak untuk memperingatkan manusia.
Ia cukup berhenti memberi.
Dan ketika manusia akhirnya sadar, sering kali yang paling menyakitkan bukan kehilangan sesuatu yang sudah tidak ada.
Melainkan menyadari bahwa sebenarnya mereka sendiri yang perlahan-lahan membuatnya pergi.

Komentar
Posting Komentar