Ketika El Niño Mulai Memukul Kehidupan Sehari-hari

El Niño 2026 bukan lagi sekadar peringatan. Kemarau memanjang mulai menekan ketersediaan air, pertanian, kesehatan, pangan, dan meningkatkan risiko Karhutla di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Sulawesi Utara.

📖 Daftar Isi


    Dampak El Niño berupa kekeringan, lahan pertanian mengering, dan warga membawa air bersih di wilayah pesisir Sulawesi Utara.
    El Niño 2026 mulai terasa dalam kehidupan masyarakat: sumber air menipis, lahan pertanian mengering, dan kebutuhan air bersih menjadi persoalan di sejumlah wilayah. Kondisi ini menunjukkan bahwa El Niño bukan lagi sekadar fenomena di peta cuaca, tetapi telah menyentuh kehidupan sehari-hari. Gambar hanya ilustrasi yang dibuat berkolaborasi dengan teknologi AI.

    Kemarau memanjang, air menipis, pertanian tertekan, risiko Karhutla meningkat, sementara harga pangan dan kesehatan masyarakat ikut menghadapi tekanan.

    Pada Mei lalu, El Niño masih terdengar seperti sebuah peringatan.

    Ia hadir dalam bahasa prakiraan cuaca, angka anomali suhu permukaan laut, grafik ENSO, dan istilah-istilah meteorologi yang bagi sebagian orang terasa jauh dari kehidupan sehari-hari.

    Kini, beberapa bulan kemudian, El Niño tidak lagi sekadar angka di layar.

    Ia mulai terasa dari keran yang airnya mengecil.

    Dari tanah pertanian yang mengeras.

    Dari tanaman yang tidak sempat dipanen.

    Dari petani yang mulai memikirkan varietas apa yang masih sanggup hidup ketika hujan tak kunjung datang.

    Dan, di beberapa tempat, dari asap kebakaran hutan dan lahan yang membuat udara tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang gratis.

    Pada pertengahan September 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat El Niño berada pada kategori sangat kuat. Nilai anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 mencapai +2,76°C pada Dasarian I September, sedangkan indeks ENSO rata-rata tiga bulan Juli–September mencapai 2,6. BMKG memperkirakan fenomena ini masih bertahan hingga awal 2027.

    Dengan kata lain, cerita yang sebelumnya berupa peringatan kini sudah memasuki babak dampak.

    Dan babak ini belum selesai.

    Kemarau yang Memanjang

    BMKG sejak pertengahan tahun telah mengingatkan bahwa musim kemarau 2026 berpotensi lebih kering dan lebih panjang.

    Pada akhir Juli, BMKG memperkirakan El Niño dapat bertahan hingga setidaknya awal kuartal pertama 2027, dengan puncak intensitas melebihi kategori kuat. Kondisi itu diperburuk oleh kemungkinan IOD positif yang turut mendukung kondisi atmosfer lebih kering.

    Memasuki September, tanda-tandanya semakin jelas.

    Sekitar 81 persen Zona Musim di Indonesia telah memasuki musim kemarau. Pada awal September, BMKG mencatat 1.637 titik mengalami Hari Tanpa Hujan dalam kategori ekstrem—lebih dari 60 hari berturut-turut tanpa hujan.

    Angka tersebut mungkin terdengar abstrak.

    Tetapi bagi masyarakat yang bergantung pada mata air, sumur, sungai kecil, embung atau hujan untuk mengisi kebutuhan sehari-hari, enam puluh hari tanpa hujan bukanlah statistik.

    Itu adalah waktu yang panjang untuk menunggu air.

    Di Sulawesi Utara, Air Mulai Menjadi Persoalan

    Sulawesi Utara tidak berada di luar cerita ini.

    BMKG memperkirakan puncak musim kemarau di Sulawesi Utara berlangsung pada Agustus–September 2026. Beberapa wilayah bahkan mengalami hari tanpa hujan yang cukup panjang. Pada Juli, BMKG mencatat HTH terpanjang 35 hari di Dumoga Timur, Bolaang Mongondow, dan 34 hari di Motoling, Minahasa Selatan.

    Pada September, peringatan kekeringan masih berlaku di sejumlah wilayah Sulut. Dan dampaknya mulai terlihat dalam kehidupan sehari-hari.

    Di Pulau Bunaken, misalnya, warga dilaporkan menghadapi persoalan air bersih selama sekitar tiga bulan. Sumber-sumber air yang selama ini menjadi tumpuan perlahan mengering akibat kemarau panjang yang dipengaruhi El Niño.

    Di tempat seperti itu, perubahan iklim tidak perlu dijelaskan dengan grafik.

    Cukup buka keran.

    Kalau air tidak keluar, semua orang mengerti.

    Persoalan air juga menjadi perhatian di Sitaro. Pemerintah daerah setempat memantau sumber mata air Danau Kapeta dan fasilitas Sistem Penyediaan Air Minum sebagai bagian dari antisipasi dampak El Niño terhadap ketersediaan air bersih.

    Ini menunjukkan satu hal penting: persoalan El Niño tidak berhenti pada “akan turun hujan atau tidak”.

    Pertanyaan yang lebih penting adalah:

    Berapa lama cadangan air yang kita punya mampu bertahan?

    Ketika Sawah dan Ladang Ikut Menghitung Hari

    Sektor pertanian adalah salah satu tempat pertama di mana kekeringan mengubah angka menjadi kerugian nyata.

    Tanaman membutuhkan air pada waktu yang tepat. Bukan sekadar air dalam jumlah banyak. Karena itu, perubahan kalender hujan dapat mengubah seluruh perencanaan petani.

    Di Sulawesi Utara, Dinas Pertanian menyiapkan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan. Pemerintah daerah juga mendorong pemetaan wilayah rawan, pengelolaan air, percepatan tanam, pengaturan pola tanam, serta penggunaan varietas yang sesuai dengan kondisi lahan.

    Padi gogo, misalnya, menjadi salah satu alternatif karena dapat tumbuh pada lahan kering tanpa membutuhkan genangan seperti padi sawah.

    Ini bukan sekadar persoalan mengganti jenis tanaman.

    Ini adalah penyesuaian terhadap kenyataan bahwa kalender alam tidak selalu lagi berjalan seperti kalender yang kita tempel di dinding.

    Dan ketika produksi pertanian terganggu, persoalannya segera bergerak ke meja makan.

    Dari Ladang ke Pasar

    El Niño memiliki cara yang cukup sederhana untuk masuk ke rumah tangga: melalui harga.

    Ketika produksi menurun, pasokan dapat berkurang. Ketika biaya produksi dan distribusi meningkat, harga dapat ikut terdorong.

    Pada skala global, JPMorgan memperingatkan bahwa El Niño yang sangat kuat, jika berlangsung bersamaan dengan guncangan energi, dapat memperbesar tekanan inflasi pangan pada 2027. Reuters melaporkan kajian JPMorgan memperkirakan Super El Niño sendiri berpotensi menambah hingga sekitar 0,7 poin persentase pada inflasi pangan global. Jika digabungkan dengan lonjakan harga energi, dampaknya dapat mencapai sekitar 1,3–1,5 poin persentase.

    Yang perlu digarisbawahi: angka tersebut merupakan proyeksi, bukan kepastian.

    Harga pangan tidak ditentukan El Niño seorang diri.

    Ada harga energi, biaya pupuk, logistik, kebijakan perdagangan, produksi domestik, stok pangan, nilai tukar, hingga keputusan pemerintah yang ikut bermain.

    Tetapi justru di situlah persoalannya.

    El Niño dapat menjadi satu tekanan tambahan pada sistem pangan yang memang sudah memiliki banyak variabel. Bagi rumah tangga berpendapatan rendah, kenaikan harga pangan bukan sekadar angka inflasi.

    Ia berarti mengurangi jumlah lauk.

    Mengurangi frekuensi membeli buah.

    Menunda kebutuhan lain.

    Atau memilih antara membayar tagihan dan membeli kebutuhan dapur.

    Ketika Asap Mengubah Persoalan Iklim Menjadi Persoalan Kesehatan

    Ada sisi lain yang tidak kalah serius: udara.

    Pada September, BMKG menyebut kondisi atmosfer yang relatif kering masih mendominasi dan periode tersebut merupakan fase kritis pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Pemantauan BMKG menunjukkan titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi masih tersebar di sejumlah wilayah Indonesia.

    Pada 13 September, misalnya, BMKG mencatat konsentrasi hotspot tinggi di Kalimantan, Papua dan Maluku, Sulawesi, serta Sumatra. Kondisi kering membuat kebakaran, terutama pada lahan gambut, dapat bertahan lebih lama dan lebih sulit dipadamkan.

    Di sinilah rantai dampaknya menjadi panjang:

    El Niño → kemarau lebih kering → vegetasi mengering → risiko kebakaran meningkat → asap → kualitas udara menurun → kesehatan masyarakat terdampak.

    Karena itu, berbicara tentang El Niño sebenarnya bukan hanya berbicara tentang meteorologi.

    Ia juga berbicara tentang kesehatan masyarakat.

    Tentang anak-anak yang harus mengurangi aktivitas di luar rumah.

    Tentang pekerja lapangan yang tetap harus bekerja ketika udara buruk.

    Tentang fasilitas kesehatan yang harus bersiap menghadapi peningkatan gangguan pernapasan.

    Dan tentang kelompok masyarakat yang memiliki pilihan paling sedikit untuk menghindari dampak.

    Tidak Semua Sektor Dirugikan dengan Cara yang Sama

    Ada hal menarik dalam fenomena ini.

    El Niño bukan mesin yang hanya menghasilkan kerugian dengan bentuk yang seragam. Dampaknya berbeda menurut wilayah, komoditas, dan sektor.

    Cuaca yang lebih kering, misalnya, dapat menjadi peluang bagi produksi garam karena proses penguapan berlangsung lebih baik.

    Energi surya juga dapat memperoleh keuntungan dari meningkatnya paparan matahari, meski manfaat tersebut perlu dilihat bersama dengan persoalan lain dalam sistem energi.

    Di laut, perubahan pola angin, arus dan suhu permukaan dapat memengaruhi produktivitas perikanan tangkap di wilayah tertentu. Namun, hal itu tidak otomatis berarti seluruh nelayan memperoleh keuntungan. Perikanan tangkap dan budidaya memiliki kerentanan yang berbeda.

    Artinya, tidak tepat jika El Niño hanya dibaca dengan kalimat:

    “Semua sektor akan rugi.”

    Yang lebih tepat adalah:

    El Niño mendistribusikan risiko secara tidak merata.

    Ada sektor yang terpukul.

    Ada sektor yang mungkin memperoleh peluang.

    Dan ada sektor yang hasil akhirnya sangat bergantung pada lokasi serta kemampuan beradaptasi.

    Energi: Ketika Air Berkurang, Listrik Ikut Diperhitungkan

    Salah satu dampak yang sering luput dari pembicaraan tentang kemarau adalah energi.

    Pembangkit listrik tenaga air bergantung pada ketersediaan air. Ketika debit sungai dan waduk menurun, produksi pembangkit hidro dapat ikut tertekan.

    Dalam situasi tertentu, pembangkit lain harus menutup kekurangan tersebut.

    Sementara itu, kondisi langit yang lebih cerah dapat memberikan peluang bagi pembangkit listrik tenaga surya.

    Sekali lagi, alam tidak sedang memilih pihak. Ia hanya mengubah kondisi dasar yang kemudian memaksa manusia menyesuaikan sistem yang sudah dibangun.

    Karena itu, El Niño seharusnya tidak hanya dibaca sebagai urusan Badan Meteorologi.

    Ia adalah persoalan lintas sektor.

    Air terkait dengan pertanian.

    Pertanian terkait dengan pangan.

    Pangan terkait dengan inflasi.

    Energi terkait dengan biaya produksi.

    Kebakaran terkait dengan kesehatan.

    Dan semuanya akhirnya kembali kepada masyarakat.

    Persoalan Sebenarnya Bukan Hanya El Niño

    Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.

    Menyalahkan semua persoalan kepada El Niño akan terlalu mudah.

    Jika harga pangan naik, jangan otomatis mengatakan El Niño penyebab tunggal.

    Jika air berkurang, jangan berhenti pada kalimat “karena kemarau”.

    Jika terjadi Karhutla, jangan pula menganggap api sebagai konsekuensi alam yang tidak dapat dicegah.

    El Niño menciptakan atau memperbesar kondisi risiko.

    Tetapi besarnya kerugian ditentukan pula oleh bagaimana manusia mengelola risiko tersebut.

    Apakah sumber air sudah dipetakan?

    Apakah jaringan distribusi air siap menghadapi penurunan debit?

    Apakah petani memperoleh informasi prakiraan yang bisa digunakan untuk menentukan kalender tanam?

    Apakah embung dan irigasi berfungsi?

    Apakah hotspot dipantau sebelum menjadi kebakaran besar?

    Apakah stok pangan cukup?

    Apakah pemerintah daerah memiliki data yang sama ketika mengambil keputusan?

    Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang menentukan apakah sebuah daerah hanya menjadi korban cuaca atau mampu mengurangi dampaknya.

    Sulut dan Ujian Ketahanan Daerah

    Sulawesi Utara kini memiliki sejumlah pekerjaan rumah.

    Pertama, air.

    Ketersediaan air bersih harus menjadi indikator yang dipantau secara rutin, bukan baru menjadi perhatian ketika warga mulai mengantre.

    Kedua, pangan.

    Pemetaan lahan yang mengalami tekanan kekeringan perlu dihubungkan dengan keputusan mengenai varietas, pola tanam, irigasi dan distribusi.

    Ketiga, kesehatan.

    Wilayah yang menghadapi kekeringan dan potensi kebakaran perlu memiliki sistem komunikasi risiko yang mudah dipahami masyarakat.

    Keempat, kebakaran.

    Pencegahan harus bergerak lebih cepat daripada api.

    Kelima, data.

    Data cuaca, Hari Tanpa Hujan, ketersediaan air, pertanian, harga pangan dan hotspot seharusnya tidak berjalan sendiri-sendiri di meja masing-masing instansi.

    Sebab bencana di lapangan juga tidak datang dengan membawa surat tugas.

    Ia datang sekaligus.

    Kita Tidak Bisa Memerintah Hujan

    Manusia tidak memiliki tombol untuk memerintah awan datang pada pukul dua siang.

    Kita juga tidak bisa bernegosiasi dengan suhu permukaan laut di Pasifik.

    Tetapi kita dapat mempersiapkan sumber air.

    Kita dapat mengubah kalender tanam.

    Kita dapat memilih varietas yang lebih tahan kering.

    Kita dapat memperbaiki irigasi.

    Kita dapat memantau titik panas.

    Kita dapat mencegah pembakaran lahan.

    Kita dapat memastikan masyarakat mengetahui kapan harus menghemat air dan kapan harus menghindari aktivitas luar ruangan.

    Dan kita dapat menggunakan data sebelum masalah berubah menjadi krisis.

    Itulah mungkin pelajaran paling penting dari El Niño 2026.

    Fenomena iklim memang berada di luar kendali manusia. Tetapi besar kecilnya kerusakan tidak seluruhnya ditentukan oleh iklim.

    Ada bagian yang ditentukan oleh kesiapan.

    Ada bagian yang ditentukan oleh kebijakan.

    Dan ada bagian yang ditentukan oleh seberapa cepat kita berhenti menganggap peringatan sebagai sesuatu yang hanya perlu dibaca—lalu dilupakan.

    El Niño mungkin akan bertahan hingga awal 2027.

    Tetapi yang seharusnya tidak bertahan selama itu adalah kebiasaan menunggu sampai keadaan menjadi buruk sebelum bertindak.

    Karena ketika air sudah habis, tanaman sudah mati, harga sudah naik, dan asap sudah memenuhi udara, pilihan yang tersedia biasanya jauh lebih sedikit.

    Dan jauh lebih mahal. ***

    Sumber utama
    BMKG— Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian I September 2026 (Sumber utama untuk status El Niño terbaru: anomali Nino 3.4 +2,76°C, indeks ENSO JAS 2,6, yang menunjukkan El Niño sangat kuat.) BMKG—Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian I September 2026 BMKG—Dampak El Niño Masih Perlu Diwaspadai, BMKG Perkuat Dukungan Pengendalian Karhutla Terbit 7 September 2026. Digunakan untuk bagian tentang kondisi kering, fase kritis Karhutla, dan hotspot. BMKG—Dampak El Niño Masih Perlu Diwaspadai BMKG—Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian III Agustus 2026 (Digunakan sebagai data perkembangan El Niño sebelumnya, termasuk indeks ENSO dan kondisi atmosfer pada akhir Agustus.) BMKG—Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian III Agustus 2026
    Sumber Sulawesi Utara
    ANTARA News—Delapan kabupaten dan kota di Sulut siaga kekeringan (Terbit 5 Agustus 2026. Ini sumber yang mendukung bagian bahwa delapan kabupaten/kota di Sulawesi Utara pernah berada dalam status Siaga Kekeringan Meteorologis pada periode tersebut.) ANTARA—Delapan kabupaten dan kota di Sulut siaga kekeringan ANTARA News—Sumur asin, air bersih datang dari laut Terbit 9 September 2026. (Ini sumber untuk bagian Pulau Bunaken yang mengalami persoalan air bersih selama sekitar tiga bulan akibat kemarau panjang.) ANTARA—Sumur asin, air bersih datang dari laut ANTARA News—Dinas Pertanian Sulut siapkan tanaman tahan kekeringan (Sumber pendukung untuk bagian mengenai adaptasi pertanian, varietas tahan kekeringan, pola tanam, dan pengelolaan air.)
    Sumber ekonomi dan inflasi
    Reuters — JPMorgan warns 'super' El Niño and oil shock could prop up global inflation (Terbit 24 Juli 2026. Sumber untuk proyeksi JPMorgan mengenai potensi tambahan inflasi pangan global sekitar 0,7 poin persentase akibat Super El Niño dan 1,3–1,5 poin bila digabungkan dengan guncangan energi. Reuters juga mencatat dampak yang lebih besar pada emerging markets, termasuk Indonesia.) Reuters — JPMorgan warns 'super' El Niño and oil shock could prop up global inflation Reuters — Emerging markets stare at inflation risks as powerful El Niño looms (Terbit 27 Juli 2026. Digunakan sebagai konteks dampak El Niño terhadap pangan, energi, pupuk, inflasi, dan emerging markets.) Reuters — Emerging markets stare at inflation risks as powerful El Niño looms
    Referensi tambahan
    Kompas.id—laporan perkembangan El Niño dan potensi intensitasnya. BBC Indonesia—laporan mengenai Super El Niño dan dampaknya. ANTARA News—perkembangan El Niño hingga kuartal I 2027. CNBC Indonesia—rekam jejak El Niño dan dampaknya terhadap Indonesia. Bisnis.com—dampak El Niño terhadap padi, sawit, garam dan PLTS. Katadata—sektor yang berpotensi memperoleh dampak positif dari El Niño. Kompas.com—konteks kerentanan Indonesia terhadap dampak Super El Niño. Kementerian Kesehatan RI—data kesehatan dan gangguan pernapasan terkait Karhutla. BMKG Stasiun Klimatologi Sulawesi Utara—data kekeringan, HTH, curah hujan dan prakiraan dasarian Sulut.

    Foto Donny Turang
    PENULIS

    Donny Turang

    Jurnalis Utama bersertifikat Dewan Pers/AJI Indonesia. Menulis cerita yang layak untuk diceritakan.

    Komentar