Redaksi yang Menolak Diam — Cerita Bersambung
Sebuah tulisan membutuhkan dua minggu untuk selesai. Ada wawancara, perjalanan, dokumen, dan malam-malam yang habis di depan layar. Tetapi setelah diterbitkan, hanya 132 orang yang membacanya.
Di ruang redaksi, angka itu menjadi awal sebuah percakapan yang lebih besar: ketika kualitas sebuah tulisan mulai diukur melalui jumlah klik, siapa sebenarnya yang menentukan apakah sebuah berita layak dibaca?
![]() |
| Di tengah riuhnya algoritma dan perebutan perhatian, jurnalisme tetap dimulai dari seseorang yang memilih untuk menulis dan bercerita. Gambar hanya ilustrasi yang dibuat berkolaborasi dengan AI. |
Bagian I
Seratus Tiga Puluh Dua Pembaca
Hujan turun setelah pukul sebelas malam.
Bukan hujan besar. Hanya gerimis yang membuat kaca jendela ruang redaksi terlihat seperti layar televisi yang kehilangan sinyal.
Di luar, kota sudah hampir tidur.
Lampu toko satu per satu padam. Jalan yang biasanya penuh kendaraan mulai menyisakan suara sepeda motor sesekali. Dari warung di seberang kantor, terdengar bunyi sendok beradu dengan gelas.
Di dalam ruang redaksi, tiga orang masih terjaga.
Teddy duduk di depan komputer.
Enly berdiri di dekat jendela.
Dan Donald, programmer yang entah mengapa selalu datang ke ruang redaksi ketika semua orang sudah pulang, sedang membongkar sesuatu di laptopnya.
"Berapa pembacanya?" tanya Enly.
Teddy melihat layar.
"Seratus tiga puluh dua."
"Seratus tiga puluh dua?" tanya Enly, dengan raut muka yang memancarkan rasa tidak percaya.
"Sejak tadi sore."
Enly diam.
"Berapa pengikut kita?"
"Dua puluh tujuh ribu."
"Dan yang membaca seratus tiga puluh dua."
"Kurang lebih."
Enly tersenyum kecil.
"Hebat."
Teddy mengangkat kepala.
"Hebat bagaimana?"
"Artinya kita berhasil membuat dua puluh enam ribu delapan ratus enam puluh delapan orang tidak membaca."
Donald tertawa.
Teddy tidak.
"Jangan bercanda, Bu."
"Aku tidak bercanda."
Enly mengambil kursi lalu duduk di samping Teddy.
Di layar komputer terpampang sebuah laporan panjang.
Tulisan itu membahas sesuatu yang penting. Teddy menghabiskan hampir dua minggu untuk membuatnya.
Ada dokumen.
Ada wawancara.
Ada perjalanan.
Ada narasumber yang awalnya menolak bicara.
Ada satu malam ketika Teddy tidur di kursi karena mengejar tenggat.
Dan sekarang tulisan itu mendapat seratus tiga puluh dua pembaca.
Di bawahnya ada tulisan lain.
Judulnya lebih pendek.
Isinya tidak terlalu penting.
Tetapi foto seseorang sedang menangis.
Tulisan itu dibagikan ribuan kali.
Teddy menggeser layar.
"Ini yang saya tidak mengerti."
"Apa?"
"Kita sudah melakukan semuanya."
Enly menatapnya.
"Semuanya?"
"Judul sudah diperbaiki. Foto bagus. SEO sudah. Kecepatan situs juga sudah diperbaiki."
Donald menyela dari belakang.
"Server juga tidak batuk lagi."
Teddy menoleh.
"Kau jangan ikut."
"Aku cuma mengingatkan. Server kita sehat. Yang sakit mungkin yang lain."
Enly tertawa.
"Yang sakit siapa?"
Donald menutup laptop.
"Perasaan kita."
Hening sejenak menyergap. Kemudian Enly memecah keheningan dengan berkata pelan.
"Bukan itu."
"Apa?"
"Yang kita hadapi bukan soal apakah tulisan kita bagus atau tidak."
"Terus?"
Enly menunjuk layar.
"Kita sedang berhadapan dengan sesuatu yang tidak pernah membaca tulisan kita."
Teddy menatapnya.
"Algoritma?"
Enly tersenyum tipis.
"Jangan terlalu cepat memberi nama."
Teddy kembali melihat grafik. Garis itu bergerak pelan.
Naik sedikit.
Turun.
Naik lagi.
Kemudian datar.
Ia sudah hafal bentuk grafik itu. Beberapa bulan terakhir, hidupnya seperti grafik tersebut.
Naik sedikit.
Turun.
Naik lagi.
Datar.
Dulu, ketika Teddy masih bekerja dengan buku catatan dan telepon genggam sederhana, keberhasilan sebuah tulisan tidak datang dalam bentuk grafik yang bergerak setiap beberapa menit.
Ia datang jauh lebih lambat.
Seorang pembaca menelepon.
Surat pembaca masuk.
Seseorang memotong artikel dari koran dan menyimpannya.
Atau, paling sederhana, seorang narasumber mengatakan bahwa tulisan itu membuat persoalannya akhirnya diperhatikan.
Ukuran keberhasilannya tidak selalu bisa dihitung.
Era digital mengubah semuanya. Kini sebuah tulisan meninggalkan jejak angka hampir seketika setelah diterbitkan.
Berapa kali dibuka.
Dari mana pembaca datang.
Berapa lama mereka bertahan.
Berapa orang yang keluar setelah beberapa detik.
Berapa kali tulisan dibagikan.
Berapa banyak yang kembali.
Angka-angka itu berguna.
Tidak ada yang salah dengan mengukurnya. Masalah muncul ketika alat ukur perlahan berubah menjadi tujuan.
Teddy mulai mengenali gejalanya pada dirinya sendiri. Ia tidak lagi hanya bertanya apakah sebuah tulisan penting.
Ia mulai bertanya apakah tulisan itu akan dibaca. Perbedaannya tampak kecil. Padahal keduanya membawa pertanyaan yang berbeda.
Pertanyaan pertama adalah pertanyaan jurnalistik.
Pertanyaan kedua adalah pertanyaan distribusi.
Dan ketika keduanya bercampur, sebuah ruang redaksi bisa mulai kehilangan orientasi.
"Teddy."
Ia menoleh.
Enly masih berdiri di belakangnya.
"Ya?"
"Kamu sadar sesuatu?"
"Apa?"
"Kamu sekarang lebih sering melihat dashboard daripada melihat berita."
Teddy tersenyum hambar.
"Itu bagian dari pekerjaan."
"Sejak kapan?"
Teddy tidak menjawab.
Donald kembali membuka laptop.
"Sejak media menemukan bahwa pembaca bisa dihitung."
Enly menatap Donald.
"Dan sejak manusia menemukan bahwa sesuatu yang bisa dihitung terasa lebih mudah dikendalikan."
Kalimat itu membuat Teddy terdiam.
Sebab ada benarnya. Angka memberikan perasaan seolah-olah dunia bisa dijelaskan.
Tulisan yang dibaca 10.000 orang terlihat berhasil.
Tulisan yang dibaca 100 orang terlihat gagal.
Padahal angka tersebut hanya menjelaskan berapa banyak orang yang datang, bukan apa yang mereka dapatkan setelah datang.
Sebuah laporan investigasi yang dibaca 500 orang tidak otomatis kurang bernilai daripada tulisan ringan yang dibaca 500.000 orang.
Keduanya mungkin memang melayani kebutuhan yang berbeda.
Yang satu mungkin membuka persoalan yang sebelumnya tersembunyi.
Yang lain mungkin sekadar menghibur.
Keduanya sah sebagai produk media, tetapi jumlah pembaca tidak dengan sendirinya menjadi ukuran kualitas jurnalistik.
Di situlah persoalannya menjadi rumit.
Media memang membutuhkan pembaca. Tanpa pembaca, berita kehilangan daya jangkaunya. Tanpa distribusi, kerja jurnalistik bisa berhenti sebagai dokumen yang hanya dibaca oleh orang-orang di ruang redaksi sendiri.
Karena itu, traffic bukan musuh. Traffic adalah informasi. Yang perlu dipertanyakan adalah ketika traffic mulai menjadi hakim.
"Masalahnya, kita memang perlu pembaca," kata Teddy.
"Tentu," jawab Enly.
"Media tanpa pembaca?"
"Percuma."
"Jadi angka itu penting."
"Ya."
"Kalau begitu kenapa kita membicarakannya seperti penyakit?"
Enly menarik kursi.
"Duduk."
"Aku sudah duduk."
"Kalau begitu dengarkan."
Enly mengambil spidol. Berjalan ke papan tulis. Menulis satu kata.
PERHATIAN
Kemudian ia menulis kata lain di bawahnya.
BERITA
Teddy membaca.
"Berita."
"Ya."
"Perhatian."
"Ya."
"Apa hubungannya?"
Enly menarik garis di antara keduanya.
"Ini yang akan kita bicarakan."
Donald berdiri.
"Sebentar."
Ia mengambil spidol dari tangan Enly. Di bawah dua kata tadi, ia menulis:
PLATFORM
Kemudian:
DATA
Dan terakhir:
UANG
Teddy memandang papan tulis.
"Ini sudah seperti kuliah."
"Memang."
"Bisa pakai kopi?"
Enly menggeleng.
"Aku tidak minum kopi."
Donald tertawa.
"Itu sebabnya kau masih waras."
"Belum tentu."
Teddy berdiri.
"Jadi apa masalahnya?"
Donald menunjuk papan.
"Masalahnya, kita selama ini berpikir bahwa media membuat berita."
"Memang."
"Tapi berita bukan lagi satu-satunya barang yang diperebutkan."
"Perhatian?"
"Ya."
Ia menunjuk kata itu.
"Perhatian manusia."
Di sinilah persoalan media digital mulai berubah bentuk.
Pada masa ketika distribusi berita terutama bergantung pada koran, radio, atau televisi, ruang redaksi memang menentukan sebagian besar apa yang masuk ke hadapan pembaca atau penonton.
Di internet, situasinya lebih rumit.
Sebuah media bisa membuat berita yang sama, dengan kualitas yang sama, tetapi tingkat keterlihatannya dapat berbeda tergantung dari jalur distribusinya.
Satu tulisan mungkin muncul di halaman pertama pencarian. Tulisan lain tenggelam di halaman yang tidak pernah dibuka orang.
Satu tautan mungkin beredar luas di media sosial. Tautan lain berhenti di halaman website.
Artinya, antara membuat berita dan membuat berita ditemukan terdapat sebuah lapisan baru.
Lapisan itulah yang semakin banyak diisi oleh sistem rekomendasi, mesin pencari, media sosial, notifikasi, dan berbagai mekanisme otomatis yang menentukan apa yang muncul lebih dahulu di hadapan pengguna.
Mesin tersebut tidak membaca seperti manusia.
Ia tidak duduk di kursi redaksi.
Ia tidak mewawancarai narasumber.
Ia tidak mengalami perjalanan dua minggu seperti Teddy.
Ia tidak tahu berapa malam yang dihabiskan seorang wartawan untuk memeriksa dokumen.
Ia bekerja berdasarkan sinyal.
Klik.
Interaksi.
Relevansi.
Riwayat perilaku.
Popularitas.
Berbagai indikator lain yang dirancang untuk memprediksi apa yang kemungkinan akan menarik perhatian pengguna.
Dan di situlah sebuah paradoks muncul.
Tulisan yang paling penting belum tentu menjadi tulisan yang paling terlihat.
Sebaliknya, sesuatu yang paling mudah mengundang perhatian bisa mendapatkan distribusi jauh lebih besar.
Bukan karena mesin membenci jurnalisme.
Bukan pula karena mesin memahami bahwa sebuah berita buruk.
Mesin hanya bekerja dengan logika yang berbeda. Ia tidak terutama bertanya:
"Apakah informasi ini penting bagi masyarakat?"
Ia lebih dekat kepada pertanyaan:
"Apakah pengguna kemungkinan akan berinteraksi dengan ini?"*
Perbedaan antara dua pertanyaan itu kecil di atas kertas. Tetapi sangat besar bagi ruang redaksi.
"Dan perhatian manusia terbatas," kata Donald.
Teddy mengangguk.
"Semua orang ingin mendapatkannya."
"Media."
"Platform."
"Pengiklan."
"Politisi."
"Influencer."
"Semua."
Enly duduk diam.
Donald melanjutkan:
"Masalahnya, ketika semua orang ingin perhatian pada saat yang sama, maka sesuatu yang paling keras sering kali terdengar lebih dulu."
Teddy melihat kembali artikel yang hanya dibaca 132 orang.
"Jadi?"
Enly menjawab.
"Jadi mungkin masalah kita bukan karena tulisanmu tidak bagus."
"Melainkan?"
Enly menunjuk layar.
"Karena tulisanmu tidak cukup keras."
Teddy tertawa pendek.
"Lalu kita harus berteriak?"
Enly menatapnya.
"Pertanyaannya justru itu."
Ia berhenti.
"Apakah sebuah media harus berteriak supaya didengar?"
Tidak ada yang langsung menjawab.
Di luar, suara motor lewat. Kemudian hilang.
Teddy menatap kembali angka 132. Kali ini ia melihatnya dengan cara berbeda. Angka itu tidak lagi sekadar menunjukkan jumlah pembaca.
Ia menunjukkan jarak. Jarak antara sebuah karya jurnalistik dan orang-orang yang mungkin membutuhkannya. Dan jarak itu tidak selalu bisa diselesaikan dengan menulis lebih baik.
Kadang persoalannya berada pada distribusi.
Kadang pada judul.
Kadang pada waktu publikasi.
Kadang pada platform yang digunakan.
Kadang pada kebiasaan pembaca.
Kadang pada sistem yang menentukan apa yang muncul di layar.
Karena itu, seorang wartawan digital akhirnya menghadapi dua pekerjaan sekaligus.
Pekerjaan pertama tetap sama:
menemukan sesuatu yang layak diberitakan dan mengerjakannya dengan benar.
Pekerjaan kedua jauh lebih baru:
memastikan cerita itu memiliki kesempatan untuk ditemukan.
Keduanya tidak boleh saling menggantikan. Jika distribusi diabaikan, jurnalisme bisa menjadi sunyi. Jika distribusi menjadi satu-satunya pertimbangan, jurnalisme bisa kehilangan alasan mengapa ia dibuat.
Jam dinding menunjukkan 00.17.
Hujan mulai reda. Tetapi percakapan masih berlanjut.
Teddy menatap angka 132 sekali lagi.
Bukan sebagai kegagalan.
Bukan pula sebagai keberhasilan.
Melainkan sebagai pertanyaan.
Siapa yang menentukan apa yang dilihat manusia?
Ia belum tahu jawabannya. Namun malam itu, untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa pekerjaan jurnalistik mereka bukan hanya berhadapan dengan berita.
Ada sesuatu yang lebih besar di luar sana. Sesuatu yang tidak pernah membaca satu pun kalimat. Tetapi bisa menentukan apakah kalimat itu akan sampai kepada pembaca.
Donald menutup laptop.
"Besok kita bicara soal itu."
Teddy mengangguk.
"Soal algoritma?"
Enly berdiri.
"Bukan."
"Apa?"
Enly mematikan lampu di atas papan tulis.
"Soal mesin yang tidak pernah membaca."
Mereka meninggalkan ruangan.
Di layar komputer Teddy, angka 132 masih menyala. Tetapi kali ini ia tidak menutup layar karena kecewa. Ia menutupnya karena sudah mendapatkan pertanyaan yang lebih penting daripada angka itu sendiri. (Bersambung)

Komentar
Posting Komentar