Kekeringan di Tanah Kami
Kekeringan mengubah segalanya: kebun mengering, harga pangan naik, sumur menipis, dan kebakaran mengancam. Di tengah penantian hujan, warga belajar bahwa harapan harus berjalan bersama persiapan dan kepedulian menjaga alam.
Matahari sudah naik cukup tinggi, jam di dinding rumah Om Nus menunjukkan pukul 09.30.
Biasanya, pada jam seperti itu, ia sudah berada di kebun—sepatu boot biasanya sudah penuh tanah, topi lusuh menutupi kepala, dan tangannya sibuk memeriksa tanaman satu per satu.
Tetapi pagi itu ia masih duduk di teras. Bukan karena sedang sakit, tapi sedang menunggu.
Entah menunggu apa.
Matanya menatap langit yang biru bersih. Terlalu bersih, sampai-sampai warna biru itu terasa seperti sebuah ejekan.
Tidak ada awan.
Tidak ada tanda-tanda hujan.
Sudah dua bulan lebih langit seperti itu.
Matahari datang setiap pagi, membakar tanah, daun, rumput, dan harapan para petani yang menggantungkan hidup pada musim.
Di dalam rumah, di sudut ruang tamu, sebuah radio tua menyala dengan suara pelan. Suaranya sesekali berdesis, tetapi masih cukup jelas untuk menangkap berita tentang cuaca.
“...fenomena El Niño menyebabkan musim kemarau menjadi lebih panjang dan kering di sejumlah wilayah...”
Om Nus mengambil secarik kardus dari meja lalu mengipaskannya ke wajah.
“El Niño,” gumamnya.
Ia tersenyum tipis.
“Dulu kalau kemarau panjang, kita bilang saja musim panas. Sekarang musim panas sudah punya nama bule.”
Radio terus mengeluarkan suara pelan.
Om Nus mendengarkan.
Ia memang tidak terlalu memahami istilah-istilah ilmiah. Suhu permukaan laut, anomali iklim, tekanan udara, pola angin, curah hujan.
Terlalu banyak istilah untuk seorang petani yang setiap hari hanya ingin tahu satu hal sederhana:
Besok hujan atau tidak?
Tetapi belakangan ia mulai akrab dengan satu nama.
Nama yang setiap pagi masuk ke rumahnya lewat radio tua.
Nama yang kemudian terasa semakin dekat ketika kebunnya mulai kehilangan warna.
Kebun Om Nus berada sekitar tiga kilometer dari rumah.
Siang itu Osep, anaknya, baru saja pulang dari sana.
Ia meletakkan topi di atas kursi, kemudian membuka sepatu boot. Tidak ada lumpur yang menempel di sana.
Hanya debu.
Debu yang jatuh ke lantai seperti tepung.
Om Nus melihatnya.
“Tidak ada air?”
Osep menggeleng.
“Di kebun?”
“Di mana-mana.”
Ia mengambil segelas air dan meminumnya hampir sampai habis.
Om Nus memperhatikannya.
“Tanaman milu bagaimana?”
Osep diam sebentar.
“Milu banyak yang mati.”
“Yang lain?”
“Yang lain tinggal menunggu.”
“Menunggu apa?”
Osep menatap ayahnya.
“Hujan.”
Kalimat itu sederhana. Tetapi pagi itu terdengar seperti laporan tentang seseorang yang sedang menunggu pertolongan.
Om Nus bangkit perlahan.
“Coba cerita.”
Osep duduk.
“Tadi ada penyuluh pertanian datang. Katanya kondisi ini berkaitan dengan El Niño.”
“Yang di radio itu?”
“Iya.”
“Bagaimana bisa laut di tempat jauh bikin kebun kita kering?”
Osep menggaruk kepalanya.
“Katanya karena suhu permukaan laut di Pasifik berubah. Perubahan itu memengaruhi pola angin dan pembentukan awan. Daerah yang biasanya mendapat hujan bisa mengalami hujan lebih sedikit.”
Om Nus mengerutkan kening.
“Jadi laut yang jauh itu yang bikin tanah kita pecah?”
“Bukan sesederhana itu, Ayah.”
“Terus?”
“Begini. El Niño itu fenomena iklim alami yang terjadi ketika suhu permukaan laut di bagian tengah dan timur Pasifik tropis menghangat dari kondisi normal. Perubahan itu kemudian memengaruhi pola atmosfer. Di Indonesia, salah satu dampaknya bisa berupa berkurangnya curah hujan dan musim kering yang lebih panjang.”
Om Nus diam.
Ia menatap halaman rumah.
“Jadi kita tidak salah?”
Osep menggeleng.
“Bukan soal salah atau tidak salah. El Niño memang fenomena alam.”
Om Nus mengangguk pelan.
“Tapi yang susah tetap kita.”
Osep tidak menjawab.
Karena itulah kenyataannya.
Beberapa hari kemudian, kekeringan mulai terasa bukan hanya di kebun.
Ia masuk ke dapur.
Masuk ke pasar.
Masuk ke warung.
Masuk ke dompet orang-orang.
Di sebuah kios kecil di pinggir jalan, Ci Lin sedang menyusun sayuran.
Cabai, tomat, daun bawang, bawang merah, dan beberapa sayuran lain terlihat jauh lebih sedikit dibandingkan biasanya.
Enny, seorang ibu muda, datang membawa uang belanja.
“Ci, rica berapa?”
Ci Lin menyebutkan harga.
Enny langsung mengangkat alis.
“Naik lagi?”
Ci Lin tersenyum kecil.
“Naik.”
“Kenapa semua naik?”
“Karena barangnya kurang.”
“Kurang?”
“Petani juga susah dapat air. Kalau tanamannya gagal, yang masuk pasar sedikit. Kalau barang sedikit, harga naik.”
Enny menghitung uang di tangannya.
Ia mengambil cabai lebih sedikit.
“Kalau begini, rica tinggal cerita saja.”
Ci Lin tertawa.
“Jangan begitu. Nanti anak-anakmu protes.”
Mereka tertawa sebentar. Tetapi tawa itu cepat hilang. Karena mereka sama-sama tahu, masalahnya tidak lucu.
Kekeringan memang bermula dari langit.
Tetapi akibatnya turun ke meja makan.
Turun ke harga pangan.
Turun ke penghasilan petani.
Turun ke kantong ibu-ibu yang setiap hari harus mengatur uang belanja.
“Dulu kita tidak tahu apa-apa soal El Niño,” kata Enny.
“Sekarang?”
“Sekarang tahu namanya. Tapi yang kami rasakan bukan namanya.”
Ci Lin berhenti menyusun sayuran.
“Lalu apa?”
Enny mengangkat kantong belanja yang hanya berisi beberapa jenis bahan makanan.
“Akibatnya.”
Ci Lin terdiam.
Kalimat itu sederhana. Namun benar.
Orang tidak makan istilah ilmiah.
Orang makan nasi.
Dan ketika sawah, kebun, dan ladang gagal menghasilkan, istilah apa pun namanya, perut tetap akan bertanya.
Sore harinya, warga berkumpul di balai pertemuan.
Oni, Pak Seklur, berdiri di depan. Di tangannya ada selembar fotokopi dari kantor kecamatan.
Ia membacakan informasi dari BMKG mengenai kondisi cuaca dan ancaman kekeringan.
“Karena musim kering lebih panjang dan kondisi lebih kering dari biasanya, kita harus menghemat air. Jangan membakar lahan sembarangan. Jangan membuang puntung rokok sembarangan. Hati-hati dengan kompor, kabel listrik, dan sumber api lainnya.”
Rey, pemuda kampung yang sejak tadi duduk di belakang, mengangkat tangan.
“Pak.”
“Iya?”
“Kalau memang El Niño itu fenomena alam, kenapa kita yang harus repot?”
Beberapa orang tertawa kecil. Oni ikut tersenyum. Tetapi kemudian ia menjawab serius.
“Karena kita hidup di dalam alam.”
Rey mengerutkan kening.
“Maksudnya?”
“Kita memang tidak bisa mengatur suhu laut Pasifik. Kita juga tidak bisa menyuruh awan datang sesuai keinginan kita. Tapi kita bisa mengurangi kerentanan kita.”
“Caranya?”
“Menjaga sumber air. Menjaga hutan. Tidak membakar lahan sembarangan. Tidak menebang pohon tanpa memikirkan akibatnya. Menampung air hujan ketika musim hujan. Membuat cadangan air. Dan bersiap sebelum musim kering datang.”
Seorang warga menyela.
“Kalau hujan tidak turun, bagaimana pohon bisa hidup?”
“Justru itu.”
Oni meletakkan kertasnya.
“Pohon bukan cuma untuk membuat kampung terlihat hijau. Hutan dan vegetasi membantu menjaga tanah, menyimpan air, dan mengurangi limpasan air ketika hujan turun. Kalau daerah resapan rusak, ketika hujan datang air cepat mengalir pergi. Ketika kemarau datang, kita kebingungan mencari air.”
Ruangan mendadak lebih sunyi.
Oni melanjutkan.
“Dan masalah kita tidak berhenti pada El Niño.”
Rey menatapnya.
“Ada lagi?”
“Ada. Perubahan iklim.”
Beberapa orang saling pandang.
Oni menarik napas.
“El Niño adalah fenomena alam yang terjadi secara berkala. Tetapi dunia juga sedang menghadapi pemanasan global akibat meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca. Pemanasan global dapat memengaruhi pola cuaca dan membuat berbagai kejadian ekstrem menjadi lebih berisiko. Jadi kita jangan berpikir semua kekeringan atau semua cuaca buruk hanya karena satu nama.”
Om Nus yang duduk di samping pintu mengangguk perlahan.
Ia mulai mengerti. Selama ini ia mengira alam hanya sedang marah. Ternyata persoalannya jauh lebih rumit.
Ada laut.
Ada atmosfer.
Ada pola angin.
Ada perubahan iklim.
Dan ada manusia. Manusia yang selama puluhan tahun mengambil dari alam seolah-olah alam tidak pernah punya batas.
Menjelang sore, seseorang berteriak dari jalan utama.
“Api!”
Orang-orang yang sedang berada di rumah langsung keluar.
Asap tipis terlihat di kejauhan. Beberapa menit kemudian, asap itu berubah menjadi kepulan hitam.
“Di kebun!”
Warga berlari.
Rey mengambil ember.
Osep membawa jeriken.
Anak-anak muda lainnya mencari selang dan alat apa saja yang bisa digunakan. Tetapi mereka segera menemukan masalah yang lebih besar.
Air.
Sumur-sumur sudah dangkal. Beberapa hampir kering.
Air PDAM pun tidak selalu mengalir. Kalau pun mengalir, airnya kecil.
“Airnya di mana?” teriak seseorang.
“Di sumur belakang!”
“Sudah tinggal sedikit!”
Mereka tetap berlari. Api menjalar cepat. Rumput yang biasanya hijau kini kering seperti jerami. Daun-daun jatuh. Ranting-ranting menjadi bahan bakar. Satu percikan kecil cukup untuk membuat api berpindah.
Rey berhenti sejenak, menatap lereng yang mulai merah.
“Dulu kalau kemarau, rumput masih ada sedikit lembab.”
Ia mengusap wajahnya.
“Sekarang dari akar sampai daun kering semua.”
Osep berteriak.
“Jangan berdiri! Ambil air!”
Rey kembali berlari. Tetapi di tengah kepanikan itu, satu hal mulai terasa jelas. Kekeringan bukan hanya membuat manusia haus. Ia membuat alam kehilangan pertahanannya.
Ketika tanah kehilangan kelembapan, tumbuhan mengering.
Ketika tumbuhan mengering, kebakaran lebih mudah terjadi.
Ketika hutan dan tutupan lahan rusak, kemampuan tanah menyimpan air juga terganggu. Dan ketika musim hujan kembali datang setelah kemarau panjang, masalah belum tentu selesai.
Tanah yang rusak bisa lebih mudah tererosi. Air hujan bisa mengalir deras di permukaan. Longsor dapat mengancam daerah tertentu. Banjir bisa datang setelah manusia berbulan-bulan memohon hujan.
Alam kadang memang seperti itu.
Terlalu banyak air bisa menjadi bencana. Terlalu sedikit air juga bisa menjadi bencana. Yang membuatnya semakin rumit adalah ketika manusia merusak kemampuan alam untuk menyeimbangkan keduanya.
Malam itu kampung terasa berbeda.
Tidak ada suara anak-anak bermain.
Tidak ada orang duduk santai di warung.
Semua berkumpul di balai pertemuan.
Bukan untuk rapat.
Bukan untuk membicarakan harga sayuran.
Bukan untuk membicarakan kebun.
Malam itu mereka berdoa.
Pendeta didampingi Penatua dan Diaken, berdiri di depan.
Suaranya pelan.
“Alam yang kita tempati bukan milik kita sepenuhnya.”
Ia berhenti.
“Anak-anak kita juga akan hidup di sini.”
Tidak ada yang bergerak.
“Karena itu, kita bukan hanya meminta hujan. Kita juga harus belajar menjaga air ketika hujan datang. Kita bukan hanya meminta tanah subur. Kita juga harus menjaga tanah agar tidak rusak.”
Om Nus duduk di barisan belakang.
Tangannya terlipat. Matanya terpejam.
Ia tidak meminta hujan deras. Ia hanya meminta hujan yang cukup.
Cukup untuk membasahi tanah.
Cukup untuk menyelamatkan tanaman yang masih hidup.
Cukup untuk mengisi sumur.
Cukup untuk memadamkan api.
Cukup untuk membuat orang-orang di kampung itu bisa tidur tanpa takut rumah mereka terbakar.
Dan, entah mengapa, malam itu Om Nus teringat pada kebun yang diolahnya berpuluh-puluh tahun.
Ia teringat pohon-pohon yang pernah ditebang.
Ia teringat hutan yang dulu lebih lebat.
Ia teringat mata air yang dulu mengalir lebih deras.
Dulu mereka menganggap semua itu biasa.
Air selalu ada.
Pohon selalu ada.
Hujan selalu datang.
Tanah selalu bisa ditanami.
Mungkin kesalahan terbesar manusia adalah mengira sesuatu akan selalu ada hanya karena selama ini memang selalu ada.
Pagi berikutnya, langit masih biru.
Tidak ada hujan.
Osep berdiri di tengah kebun. Ia mengambil segenggam tanah. Tanah itu hancur di tangannya. Bukan lagi gumpalan tanah yang lembut dan menyimpan kelembapan.
Hanya debu.
Ia memandang tanaman jagung yang tinggal beberapa batang. Kemudian ia berkata pelan,
“Kalau begini terus, panen gagal.”
Om Nus yang berdiri beberapa meter di belakangnya mengangguk.
“Ya.”
“Harusnya dari dulu kita siapkan tempat penampungan air.”
“Ya.”
“Buat sumur kalau memungkinkan.”
“Ya.”
“Jangan cuma berharap hujan.”
Om Nus menatap anaknya.
“Kita memang harus berharap.”
Osep menoleh.
“Tapi?”
“Harapan juga harus ditemani persiapan.”
Mereka berdua terdiam.
Di kejauhan, beberapa warga sedang membuat sekat bakar di sekitar area yang kemarin terbakar. Yang lain membersihkan saluran air.
Beberapa orang mulai membicarakan penampungan air hujan.
Tidak banyak.
Tidak besar.
Tetapi mereka mulai. Karena mereka akhirnya memahami sesuatu. Manusia memang tidak bisa mengendalikan El Niño.
Tidak bisa mengatur suhu laut Pasifik.
Tidak bisa memanggil awan dengan teriakan.
Tetapi manusia bisa memilih bagaimana menghadapi akibatnya. Dan lebih jauh dari itu, manusia juga bisa memilih bagaimana memperlakukan lingkungan sebelum bencana datang.
Hari-hari berlalu.
Hujan belum turun.
Tetapi kampung itu tidak lagi hanya menunggu.
Mereka mulai membuat cadangan air.
Mereka membersihkan sumber air yang masih tersisa.
Mereka membuat sekat untuk mencegah kebakaran meluas.
Orang-orang tua mengingatkan anak-anak agar tidak bermain api.
Para pemuda membuat jadwal ronda.
Petani mulai membicarakan cara menyimpan air hujan ketika musim hujan kembali.
Ci Lin masih menjual sayuran dengan harga yang naik-turun.
Enny masih menghitung uang belanja lebih hati-hati.
Osep masih pergi ke kebun.
Dan Om Nus?
Ia masih duduk di teras setiap pagi. Radio tua tetap menjadi temannya. Suatu pagi, penyiar radio kembali menyebut nama itu.
“El Niño.”
Om Nus tersenyum kecil.
“Datang lagi kau.”
Ia menatap langit. Kali ini ia tidak lagi melihat langit biru sebagai musuh.
Ia melihatnya sebagai pengingat. Bahwa manusia hidup di bawah sesuatu yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri.
Laut yang tidak terlihat dari kampung mereka bisa memengaruhi hujan. Hujan yang berkurang bisa memengaruhi tanaman.
Tanaman yang gagal bisa memengaruhi harga pangan. Harga pangan bisa memengaruhi dapur.
Kekeringan bisa memicu kebakaran.
Kerusakan hutan bisa memperburuk persoalan air.
Dan semua itu akhirnya kembali kepada manusia.
Saling terhubung. Seperti sebuah lingkaran yang sering tidak terlihat sampai bencana datang.
Om Nus mengambil segelas air. Ia meminumnya pelan-pelan. Kemudian ia melihat sisa air di dalam gelas.
Sedikit.
Ia teringat sumur.
Ia teringat kebun.
Ia teringat cucu-cucunya yang kelak akan hidup di tanah yang sama.
Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa menjaga alam bukan lagi urusan orang-orang di kantor, ilmuwan, atau pemerintah.
Itu urusan setiap orang yang masih membutuhkan air untuk minum.
Setiap orang yang masih membutuhkan tanah untuk menanam.
Setiap orang yang masih membutuhkan udara untuk bernapas.
Dan setiap anak yang suatu hari nanti akan bertanya:
“Kakek, dulu waktu kalian masih muda, hujan masih sering turun, kan?”
Om Nus menunduk.
Pertanyaan itu belum pernah ditanyakan. Tetapi entah mengapa, ia sudah merasa takut mendengarnya.
Ia tidak ingin menjawab:
“Dulu iya.”
Ia ingin bisa berkata:
“Masih.”
Karena itu, ketika langit masih menahan hujannya, kampung itu terus bergerak.
Mereka tahu, hujan mungkin belum turun besok.
Mungkin lusa.
Mungkin minggu depan.
Mereka tidak tahu. Tetapi mereka tahu satu hal:
Mereka tidak boleh hanya menunggu. Sebab alam bukan mesin yang bisa terus diperas lalu diharapkan tetap bekerja seperti semula.
Ada batas yang tidak terlihat.
Ada keseimbangan yang sering baru disadari ketika sudah terganggu.
Dan mungkin, di balik kekeringan yang panjang itu, ada sebuah pelajaran yang lebih besar daripada sekadar tentang El Niño. Bahwa manusia tidak pernah benar-benar berdiri di luar alam. Manusia adalah bagian dari alam itu sendiri.
Ketika laut berubah, kita merasakannya.
Ketika hutan hilang, kita merasakannya.
Ketika tanah kehilangan air, kita merasakannya.
Ketika udara semakin panas, kita merasakannya.
Dan ketika alam kehilangan keseimbangannya, pada akhirnya manusialah yang harus belajar kembali bagaimana hidup di dalamnya.
Om Nus kembali duduk di teras.
Radio tua masih berbunyi.
Langit masih biru.
Tanah masih kering.
Tetapi pagi itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak hanya menunggu hujan.
Ia sedang belajar menunggu dengan cara yang berbeda:
sambil menjaga apa yang masih tersisa.
Sambil memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki.
Sambil berharap bahwa ketika hujan akhirnya datang, manusia di kampung itu sudah menjadi sedikit lebih bijaksana.
Dan ketika setetes air akhirnya jatuh dari langit, entah mengapa semua orang di kampung itu merasa seperti sedang menerima sesuatu yang jauh lebih besar daripada hujan.
Mereka menerima kesempatan.
Kesempatan untuk memulai kembali.
Kesempatan untuk merawat tanah.
Kesempatan untuk menjaga air.
Kesempatan untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Di bawah langit yang akhirnya mulai dipenuhi awan, Om Nus berdiri. Ia mengulurkan tangannya.
Satu tetes jatuh ke telapak tangannya.
Ia menatapnya lama.
Lalu tersenyum.
“Cukup,” katanya.
Bukan karena hanya satu tetes yang ia inginkan. Tetapi karena ia tahu, setiap hujan besar selalu dimulai dari tetes pertama. Dan mungkin, begitu pula perubahan manusia.
Dimulai dari sesuatu yang kecil.
Dari satu pohon yang tidak ditebang.
Dari satu mata air yang dijaga.
Dari satu api yang tidak dinyalakan sembarangan.
Dari satu ember air yang tidak disia-siakan.
Dari satu kesadaran bahwa bumi ini bukan hanya tempat kita hidup.
Ia adalah tempat anak-anak kita kelak akan mencari kehidupan.
Om Nus menengadah.
Hujan mulai turun sedikit lebih deras.
Di belakangnya, orang-orang keluar dari rumah.
Tidak ada yang berteriak.
Tidak ada yang berlari.
Mereka hanya berdiri.
Membiarkan hujan membasahi wajah.
Membiarkan tanah yang berbulan-bulan retak mulai menghitam.
Membiarkan daun-daun yang layu menerima air.
Dan untuk beberapa saat, seluruh kampung seperti lupa pada harga cabai, kebun yang gagal, sumur yang dangkal, dan api yang kemarin menjalar.
Mereka hanya berdiri di bawah hujan.
Diam.
Terharu.
Sebab setelah sekian lama, mereka akhirnya mengerti:
Hujan bukan sekadar air yang jatuh dari langit.
Bagi orang yang kehilangan air, hujan adalah kehidupan. Dan bagi manusia yang mulai belajar menghargai alam, hujan adalah pengingat—bahwa bumi tidak pernah berjanji akan terus memberi, jika manusia terus mengambil tanpa menjaga.

Komentar
Posting Komentar