Tomohon yang Mengalir

Tomohon ternyata memiliki banyak sungai, jembatan, dan danau yang membentuk lanskap serta kehidupan masyarakat. Sebagian masih mengalir, sebagian mulai menghilang.

Jembatan Giniringan dan Sungai Giniringan yang menjadi batas antara Kelurahan Kamasi dan Talete, Kecamatan Tomohon Tengah.
Jembatan Giniringan dan Sungai Giniringan yang menjadi batas antara Kelurahan Kamasi dan Talete, Kecamatan Tomohon Tengah. (foto: dorang)

Sungai, Jembatan, dan Danau yang Perlahan Dilupakan

Ada kota yang dibaca melalui gedung-gedungnya.

Ada yang dibaca melalui jalan rayanya.

Tomohon barangkali bisa dibaca dengan cara lain: melalui air.

Sungai-sungainya pernah menjadi urat yang membelah lanskap. Jembatan-jembatan menjadi titik tempat manusia menyeberang dari satu sisi kehidupan ke sisi lainnya. Danau-danau menjadi cekungan yang menyimpan air sekaligus cerita.

Tetapi kota berubah.

Sungai yang dahulu lebih deras kini sebagian mengecil. Ada yang tinggal sebagai aliran kecil. Ada yang sulit dikenali. Bahkan ada yang mulai hilang.

Mungkin karena itu, mencatat nama-nama sungai, jembatan dan danau Tomohon bukan sekadar pekerjaan mengumpulkan data.

Ini adalah usaha sederhana untuk mengingat sebuah kota sebelum sebagian lanskapnya benar-benar berubah menjadi kenangan.

Sungai yang Mengalir di Antara Kota

Di kawasan pusat kota, dan sekitarnya, sejumlah sungai yang teridentifikasi antara lain Ranowangko, Sineleyan, Giniringan, Ranoneperet, Malangen, Kinupit, Muung, Panumuran, Pinati, Kiaaruyan, Kelang 1, Kelang 2, Lembuyan, Tatou, Meras dan Ranowatu.

Nama-nama itu membentuk semacam peta air yang jarang terlihat apabila Tomohon hanya dipandang dari jalan raya.

Di Tomohon Utara, terdapat Sungai Malalayang dengan anak sungai Pasahapen dan Taingkere. Selain itu terdapat Sungai Sapa-Tinoor dan Sungai Sario.

Di Tomohon Selatan, terdapat Sungai Sapa, Nimanga, Ranoiandang dan Ranoesem, termasuk anak sungai Nimanga.

Tetapi ada ironi yang menyertai daftar tersebut.

Semakin banyak nama yang kita sebut, semakin terasa bahwa tidak semua sungai itu berada dalam kondisi seperti yang mungkin dibayangkan dari sebuah kota pegunungan yang memiliki banyak sumber air.

Sungai-sungai itu semakin mengecil.

Sebagian bahkan mulai hilang.

Beberapa masih bertahan sebagai sumber pengairan persawahan. Di antaranya Sungai Muung, Ranowangko, Sapa, Ranowatu, Meras, Ranoesem dan Maanar.

Di sana terlihat fungsi air yang paling tua sekaligus paling sederhana: air untuk menumbuhkan makanan.

Sebelum air dibicarakan dalam konteks air bersih, drainase, konservasi atau tata ruang, masyarakat telah mengenalnya melalui sawah.

Air berarti kehidupan.

Jembatan-Jembatan yang Mengikuti Aliran

Di mana ada sungai, biasanya ada kebutuhan untuk menyeberang.

Jembatan kemudian menjadi bagian dari lanskap.

Di pusat kota terdapat Jembatan Sineleyan, Giniringan, Kolongan, Matani, Panunuran dan Ranowangko.

Di Tomohon Utara, jembatan-jembatan itu tersebar di beberapa wilayah.

Tinoor memiliki Jembatan Sapa dan Mahtalunten.

Kinilow memiliki Jembatan Ranopaso.

Di Kakaskasen terdapat jembatan yang terkait dengan Kelang 1, Kelang 2 dan Lembuyan.

Di Tomohon Selatan terdapat Jembatan Sapa Sarongsong di Sarongsong. Di Lahendong ada Jembatan Boyong dan Airmerah.

Pinaras memiliki Jembatan Pinaras.

Pangolombian memiliki Jembatan Pangolombian dan Jembatan Tondangow.

Kemudian kita bergerak ke Tomohon Barat.

Di Taratara terdapat Jembatan Meras 1, Meras 2, Ranowatu, Makalesung, Ranowangko dan Kukusu.

Di Tomohon Timur, terdapat Jembatan Rurukan 1 dan Rurukan 2.

Jika nama-nama tersebut dibaca satu per satu, ia terdengar seperti daftar biasa.

Tetapi apabila dibayangkan sebagai sebuah peta, muncul gambaran berbeda.

Jembatan-jembatan itu memperlihatkan bagaimana manusia bernegosiasi dengan bentang alam.

Sungai tidak dihentikan agar manusia bisa lewat.

Manusialah yang membangun jalan untuk melintasinya.

Danau yang Bukan Sekadar Genangan Air

Tomohon juga mempunyai danau dengan cerita yang berbeda-beda.

Danau Linow di Lahendong adalah salah satu yang paling dikenal. Luasnya diperkirakan sekitar satu kilometer persegi.

Jauh sebelum kawasan itu menjadi tujuan wisata, Danau Linow juga dikenal dalam ingatan masyarakat karena ikan Komo dan Sayok.

Di Pangolombian terdapat Danau Pangolombian dengan luas sekitar 1,5 hektare. Danau ini memiliki riwayat yang berbeda: ia merupakan danau waduk setelah Rano ne Koropit dibendung.

Di lereng Gunung Tampusu terdapat Danau Tampusu, yang juga disebut Danau Linow Oki. Di kawasan ini terdapat dua danau yang dikenal sebagai Linow Atas dan Linow Bawah.

Di lereng Gunung Masarang juga terdapat Danau Masarang yang disebut pula Danau Linow.

Sementara di Lahendong, pada masa lalu terdapat lokasi yang dikenal sebagai Ranokulo atau Ranokelang.

Nama-nama tersebut menunjukkan bahwa bentang air Tomohon tidak tunggal.

Ada danau alami yang dikenal karena karakter geologisnya. Ada waduk. Ada danau di lereng gunung. Ada lokasi yang hidup dalam ingatan lama masyarakat melalui nama yang mungkin kini semakin jarang digunakan.

Dari Telaga Menjadi Danau

Di Talete ada Sineleyan.

Dulu kawasan ini lebih dikenal sebagai telaga. Sekarang lebih lazim disebut danau.

Perubahan nama mungkin tidak tampak penting.

Namun dalam sejarah sebuah tempat, perubahan istilah sering kali mengikuti perubahan cara manusia melihat ruang.

Di kawasan Danau Sineleyan juga terdapat mata air yang dikelola PDAM Tomohon sebagai sumber air bersih yang disuplai kepada masyarakat.

Di sini hubungan antara alam dan kota terlihat lebih jelas.

Air yang keluar dari tanah tidak berhenti sebagai bagian dari bentang alam. Ia masuk ke dalam sistem pelayanan publik dan akhirnya masuk ke rumah-rumah warga.

Dari mata air menjadi air bersih.

Dari lanskap menjadi kebutuhan sehari-hari.

Apa yang Terjadi Ketika Sungai Mengecil?

Pertanyaan ini mungkin lebih penting daripada sekadar mengetahui jumlah sungai.

Ketika sungai mengecil, apa yang ikut mengecil?

Debit air, tentu.

Tetapi mungkin juga fungsi ekologisnya.

Fungsi pertaniannya.

Hubungan masyarakat dengannya.

Dan pada akhirnya, ingatan tentang sungai itu sendiri.

Sebuah sungai yang tidak lagi terlihat jelas akan semakin jarang disebut.

Nama yang jarang disebut akan semakin mudah dilupakan.

Dan sesuatu yang dilupakan biasanya tidak lagi dianggap perlu dipertahankan.

Di sinilah persoalannya menjadi lebih besar daripada sekadar nostalgia.

Sungai adalah bagian dari sistem ekologis sebuah kota.

Jembatan adalah bagian dari sejarah hubungan manusia dengan ruang.

Danau adalah bagian dari bentang alam sekaligus cadangan cerita.

Jika satu demi satu menghilang tanpa pernah dicatat, kota kehilangan sebagian arsip alamiahnya.

Mungkin Kita Perlu Membuat Peta Ingatan

Tomohon memiliki banyak nama air.

Ranowangko.

Sineleyan.

Giniringan.

Muung.

Meras.

Ranowatu.

Sapa.

Nimanga.

Ranoesem.

Malalayang.

Pasahapen.

Taingkere.

Sario.

Dan masih banyak lainnya.

Sebagian nama mungkin masih akrab bagi warga di sekitarnya. Sebagian mungkin hanya diketahui generasi yang lebih tua. Sebagian mungkin memerlukan penelusuran lebih lanjut untuk memastikan lokasi, aliran, batas dan sejarah penamaannya.

Begitu pula dengan jembatan.

Sineleyan, Giniringan, Kolongan, Matani, Ranowangko, Ranopaso, Sapa Sarongsong, Boyong, Airmerah, Pinaras, Pangolombian, Tondangow, Meras, Ranowatu, Makalesung, Kukusu, Rurukan dan lainnya.

Semuanya adalah titik-titik kecil yang sebenarnya dapat membentuk sebuah peta besar.

Peta tentang bagaimana Tomohon hidup bersama air.

Barangkali sudah waktunya peta itu dibuat.

Bukan hanya peta geografis, tetapi juga peta ingatan.

Di mana sungai pernah mengalir.

Di mana jembatan pernah menjadi jalan utama orang kampung.

Di mana telaga pernah menjadi tempat yang dikenal dengan namanya sendiri.

Di mana sawah masih menerima air dari sungai.

Dan di mana sebuah aliran kini tinggal nama.

Sebab kota tidak hanya kehilangan sesuatu ketika sebuah bangunan tua diruntuhkan.

Kota juga kehilangan sesuatu ketika sebuah sungai menghilang tanpa ada yang mencatatnya.

Tomohon boleh terus tumbuh.

Jalan boleh diperlebar.

Bangunan boleh bertambah.

Kawasan permukiman boleh berubah.

Tetapi di antara semua itu, ada sesuatu yang seharusnya tidak ikut hilang: ingatan bahwa kota ini pernah dibentuk oleh air.

Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika seseorang bertanya seperti apa Tomohon pada masa lalu, kita tidak hanya bisa menjawab dengan nama gedung, jalan, pasar atau tokoh.

Kita bisa menunjuk sebuah peta.

Lalu berkata:

Di sini dulu sungai mengalir.

Di sana orang menyeberang.

Dan di tempat itu, air pernah menjadi bagian penting dari kehidupan kota.

Catatan: Identifikasi sungai, jembatan dan danau dalam tulisan ini merupakan catatan awal dan belum dimaksudkan sebagai inventaris resmi yang lengkap. Masih mungkin terdapat sungai, anak sungai, mata air, telaga, danau, maupun jembatan lain yang belum tercatat, termasuk variasi nama lokal untuk objek yang sama. Beberapa nama dan ejaan juga masih memerlukan verifikasi lapangan dan penelusuran sumber sejarah lokal.

Foto Donny Turang
PENULIS

Donny Turang

Jurnalis Utama bersertifikat Dewan Pers/AJI Indonesia. Menulis cerita yang layak untuk diceritakan.

Komentar