Redaksi yang Menolak Diam—Bagian 2

Pagi berikutnya, Teddy menemukan tiga grafik di layar komputer Donald. Bentuknya berbeda, angka-angkanya berbeda, tetapi ketiganya melakukan hal yang sama: menentukan apa yang lebih dulu sampai kepada manusia. Mereka menyebut semuanya “algoritma”, seolah-olah hanya ada satu mesin besar di luar sana. Padahal tidak. Ada banyak mesin, dengan kepentingan yang berbeda. Dan media harus belajar hidup di antara mesin-mesin itu tanpa membiarkan salah satunya menjadi pemimpin redaksi.

Jurnalis menjelaskan cara kerja algoritma dan distribusi berita di depan whiteboard dalam ruang redaksi digital.
Di ruang redaksi, berita tidak hanya berhadapan dengan pembaca. Ada mesin distribusi, data, dan algoritma yang ikut menentukan cerita mana yang sampai ke hadapan manusia. Gambar hanya ilustrasi yang dibuat berkolaborasi dengan teknologi AI.

Bagian II

Mesin yang Tidak Pernah Membaca

Jam 08.07.

Teddy datang paling pagi.

Itu bukan kebiasaannya.

Biasanya ia datang setelah membeli sarapan, membaca dua atau tiga berita dari ponsel, lalu menghabiskan sepuluh menit pertama di kantor dengan mencoba mengingat mengapa ia memilih pekerjaan yang membuat orang harus bangun pagi untuk memikirkan masalah orang lain.

Pagi itu berbeda.

Ia masih memikirkan angka 132. Bukan karena angka itu berubah. Justru karena tidak berubah.

Ia duduk di kursinya dan menyalakan komputer.

Dashboard terbuka.

Tidak ada kenaikan.

Teddy menatap angka itu beberapa detik.

Kemudian menutupnya.

"Bagus."

Suara Donald terdengar dari belakang.

Teddy menoleh.

"Apanya?"

"Kamu menutup dashboard."

"Aku cuma tidak mau melihat."

"Kadang itu bentuk kesehatan mental."

Teddy tertawa kecil.

Donald meletakkan tiga lembar kertas di atas meja.

"Semalam kau bertanya tentang mesin yang tidak pernah membaca."

"Ya."

"Ini jawabannya."

Teddy melihat kertas-kertas itu. Masing-masing berisi grafik.

Bentuknya berbeda.

Warna berbeda.

Sumbu berbeda.

Tetapi semuanya menunjukkan pergerakan sesuatu.

Teddy mengernyit.

"Ini apa?"

"Distribusi."

"Algoritma?"

Donald menggeleng.

"Jangan mulai dari situ."

"Kenapa?"

"Karena itu kesalahan pertama kita."

Donald menarik kursi.

"Kita terlalu sering menyebut 'algoritma' seolah-olah ada satu makhluk besar bernama Algoritma yang tinggal di bawah tanah, bangun setiap pagi, membuka laptop, lalu memutuskan berita mana yang boleh dibaca manusia."

Teddy tersenyum.

"Memangnya bukan begitu?"

"Kalau begitu hidup kita lebih sederhana."

Enly masuk dari pintu. Ia membawa map tipis dan sebotol air.

"Apa yang sederhana?"

Donald menunjuk tiga lembar kertas.

"Kita sedang menjelaskan kepada Teddy bahwa algoritma bukan satu benda."

Enly meletakkan map.

"Bagus."

Ia duduk.

"Karena banyak orang masih membayangkan algoritma seperti satu penjaga pintu."

"Padahal?"

"Padahal pintunya banyak."

Donald berdiri dan mengambil spidol.

Di papan tulis ia menulis:

GOOGLE

Di bawahnya:

META

Lalu:

TIKTOK

Teddy memandang tiga nama itu.

"Jadi tiga algoritma?"

"Lebih rumit."

"Berarti?"

"Tidak ada satu algoritma tunggal bahkan di dalam satu perusahaan."

Donald membuat beberapa garis di bawah ketiga nama itu.

"Yang kita sebut algoritma sebenarnya adalah istilah payung. Ada sistem pencarian, sistem rekomendasi, sistem pemeringkatan, sistem moderasi, sistem iklan, sistem personalisasi, dan berbagai model lain yang bekerja pada titik berbeda."

Teddy menyandarkan tubuh.

"Jadi ketika kita bilang 'algoritma Google tidak suka tulisan kita', itu tidak sepenuhnya tepat?"

"Belum tentu tepat."

"Dan ketika kita bilang 'Facebook menurunkan jangkauan berita'?"

"Harus dijelaskan sistem yang mana, perubahan apa, konteks apa."

Enly mengangguk.

"Ini penting."

Ia membuka map.

"Karena kalau kita menyederhanakan semuanya menjadi 'algoritma jahat', kita sebenarnya sedang menghindari persoalan."

Teddy melihat mereka bergantian.

"Persoalannya apa?"

"Tujuan."

Donald menulis kata itu besar-besar.

TUJUAN

"Setiap sistem distribusi dibangun untuk mencapai tujuan tertentu."

"Misalnya?"

"Mesin pencari ingin membantu pengguna menemukan informasi yang dianggap relevan."

"Dan platform sosial?"

"Menjaga pengguna tetap berada di dalam ekosistemnya adalah salah satu kepentingan bisnis yang sangat masuk akal."

"Jadi mereka tidak peduli pada berita?"

Donald berhenti menulis.

"Jangan membuat kesimpulan terlalu cepat."

Ia menoleh.

"Platform tidak harus membenci berita untuk membuat berita tertentu sulit mendapatkan distribusi."

Kalimat itu membuat Teddy diam.

Donald melanjutkan.

"Ini perbedaan yang penting. Kita sering mencari niat jahat di balik sistem. Padahal sistem tidak perlu punya niat jahat untuk menghasilkan konsekuensi yang buruk bagi kita."

Enly mengangguk.

"Kalau sebuah platform dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna, maka konten yang membuat pengguna bertahan lebih lama punya keuntungan struktural."

"Termasuk berita?"

"Termasuk berita."

"Kalau berita membuat orang keluar dari platform?"

"Pertanyaan yang lebih menarik."

Teddy menatap papan.

"Jadi masalahnya bukan apakah platform suka atau tidak suka jurnalisme."

"Benar."

"Masalahnya apakah model distribusinya cocok dengan kebutuhan jurnalisme."

Donald tersenyum.

"Nah."

"Dan mungkin tidak selalu cocok."

"Persis."

Teddy bangkit.

Ia mengambil spidol dari tangan Donald.

Menulis:

JURNALISME

Di bawahnya:

PLATFORM

Kemudian sebuah tanda tanya besar.

"Kalau begitu," katanya, "apa yang terjadi kalau tujuan keduanya berbeda?"

Enly menjawab.

"Negosiasi."

"Seperti?"

"Media ingin pembaca membaca sampai selesai."

"Platform?"

"Ingin pengguna terus berada di dalam ekosistemnya."

"Media ingin pembaca membuka website."

"Platform bisa saja lebih menyukai pengguna tetap berada di platform."

"Media ingin berita yang penting ditemukan."

"Platform harus menentukan apa yang dianggap relevan bagi masing-masing pengguna."

Teddy mengangguk pelan.

"Berarti tidak ada meja perundingan."

"Benar."

"Tidak ada redaktur platform yang bisa kita telepon."

Donald tertawa.

"Kalau ada, saya mau nomornya."

Enly tersenyum.

"Dan itulah yang membuat hubungan ini aneh."

Ia mengambil spidol.

"Selama puluhan tahun, redaksi terbiasa menjadi penjaga gerbang."

Ia menulis:

GATEKEEPER

"Redaktur memilih."

Kemudian:

"Berita masuk."

"Berita keluar."

"Halaman depan menentukan apa yang dilihat pembaca."

Ia membuat garis.

"Internet mengubah struktur itu."

Di bawahnya ia menulis:

GATEWAY

"Media masih membuat berita. Tetapi pembaca sering tidak datang langsung."

Mereka datang melalui pencarian.

Melalui media sosial.

Melalui rekomendasi.

Melalui notifikasi.

Melalui tautan dari orang lain.

Melalui agregator.

Melalui berbagai pintu yang tidak dikendalikan ruang redaksi.

"Jadi?"

Enly menatap Teddy.

"Media tidak lagi sepenuhnya menguasai pintu menuju pembacanya."

Kalimat itu membuat Teddy teringat sesuatu. Beberapa tahun lalu, ia pernah bekerja di sebuah kantor yang setiap pagi menerima koran.

Redaktur akan datang lebih awal.

Halaman depan dibentangkan.

Berita utama dipilih.

Foto dipasang.

Judul disusun.

Ketika koran selesai dicetak, keputusan itu sudah final.

Pembaca menerima paket yang sudah selesai.

Ia mungkin setuju.

Mungkin tidak.

Tetapi redaksi tahu satu hal:

mereka memiliki ruang untuk menentukan urutan perhatian.

Di internet, urutan itu menjadi cair.

Berita yang diterbitkan pukul delapan bisa menghilang pukul sembilan.

Tulisan yang semula tidak dianggap penting bisa tiba-tiba menyebar.

Artikel yang dikerjakan selama seminggu bisa tenggelam dalam beberapa jam.

Bukan karena nilainya berubah. Tetapi karena lingkungan distribusinya berubah.

Dan di situlah muncul salah satu kegelisahan terbesar dalam jurnalisme digital:

kualitas sebuah berita dan keterlihatannya tidak selalu bergerak bersama.

Sebuah berita dapat benar tetapi tidak terlihat.

Dapat penting tetapi tidak populer.

Dapat mendalam tetapi tidak segera menarik perhatian.

Sebaliknya, sebuah berita bisa sangat terlihat justru karena ia sederhana, emosional, kontroversial, atau mudah dikonsumsi.

Ini bukan berarti berita populer selalu buruk. 

Dan bukan berarti berita yang sedikit dibaca selalu bagus.

Persoalannya jauh lebih sederhana sekaligus lebih sulit:

jumlah perhatian tidak sama dengan nilai jurnalistik.

Tetapi media membutuhkan perhatian untuk bertahan.

Di situlah konflik dimulai.

"Kalau begitu kita salah?" tanya Teddy.

Enly menoleh.

"Salah apa?"

"Karena ingin pembaca."

"Jangan."

"Karena mengejar traffic?"

"Jangan juga."

"Terus?"

"Yang harus kita curigai bukan traffic."

Enly berhenti sebentar.

"Yang harus kita curigai adalah ketika traffic mulai menentukan apa yang kita anggap penting."

Donald mengangguk.

"Data bisa memberi tahu kita apa yang terjadi."

"Misalnya?"

"Artikel A dibaca sepuluh ribu orang."

"Artikel B seribu."

"Artikel C hanya seratus."

"Terus?"

"Data memberitahu kita perbedaannya."

"Apakah data memberitahu kenapa?"

"Belum tentu."

"Apakah data memberitahu apa yang seharusnya kita lakukan?"

"Juga tidak."

Teddy terdiam.

Donald melanjutkan.

"Ini perbedaan antara sinyal dan keputusan."

Ia menulis dua kata itu.

SINYAL

KEPUTUSAN

"Data adalah sinyal."

"Keputusan tetap kerja manusia."

Enly mengangguk.

"Kalau dashboard mengatakan pembaca menyukai sesuatu, kita boleh bertanya kenapa."

"Dan kalau dashboard mengatakan pembaca tidak menyukainya?"

"Kita juga boleh bertanya kenapa."

"Harus mengikuti?"

"Tidak."

"Harus mengabaikan?"

"Juga tidak."

Enly tersenyum.

"Dashboard bukan redaktur."

Teddy kembali duduk.

Ia membuka artikel yang hanya dibaca 132 orang.

"Kalau begitu, apa yang harus saya lakukan dengan artikel ini?"

Donald melihat layar.

"Pertama, baca lagi."

"Sudah."

"Sebagai pembaca."

Teddy mengernyit.

"Bedanya?"

"Kalau sebagai wartawan, kamu akan sibuk membela kerja kerasmu."

Teddy diam.

"Kalau sebagai pembaca, kamu harus bertanya: kenapa saya mau menghabiskan sepuluh menit untuk ini?"

Pertanyaan itu terasa lebih menyakitkan daripada kritik.

Karena jawabannya tidak bisa ditemukan di dashboard. Ia harus ditemukan di dalam tulisan.

Teddy membaca paragraf pertama.

Kemudian kedua.

Ketiga.

Ia berhenti.

"Pembukanya terlalu panjang."

Enly tersenyum.

"Nah."

"Kenapa kalian tidak bilang dari kemarin?"

"Karena kamu akan marah."

"Aku tidak marah."

"Kalau begitu kamu akan membela diri."

Teddy tertawa.

Donald menunjuk layar.

"Ini juga."

"Apa?"

"Paragraf keenam."

"Kenapa?"

"Informasinya penting, tapi datang terlambat."

Teddy membaca lagi.

Ia mulai mengerti.

Ada sesuatu yang selama ini tidak ia sadari.

Mengoptimalkan distribusi tidak selalu berarti mengorbankan kedalaman.

Ada perbedaan antara menyederhanakan dan mendangkalkan.

Tulisan yang panjang tidak harus lambat.

Tulisan yang mendalam tidak harus membingungkan.

Judul yang menarik tidak harus menipu.

Foto yang kuat tidak harus manipulatif.

SEO tidak harus berarti menulis untuk robot.

Dan memahami algoritma tidak harus berarti menyerahkan penilaian editorial kepada mesin.

Justru sebaliknya.

Semakin baik sebuah redaksi memahami sistem distribusi, semakin penting bagi mereka mengetahui apa yang tidak boleh dikorbankan.

Jam 09.26.

Donald membuka tiga tab.

"Sekarang kita lakukan percobaan."

Teddy mendekat.

"Percobaan apa?"

"Bayangkan tulisanmu masuk ketiga dunia."

Ia membuka tab pertama.

"Di sini, orang sedang mencari jawaban."

Tab kedua.

"Di sini, orang sedang menggulir."

Tab ketiga.

"Di sini, orang sedang mencari sesuatu untuk ditonton."

Teddy mengangguk.

"Beritanya sama."

"Ya."

"Kenapa kemasannya berbeda?"

"Karena konteks pembacanya berbeda."

Enly menyela.

"Ini bagian yang sering disalahpahami."

Ia menunjuk layar.

"Adaptasi format bukan pengkhianatan terhadap jurnalistik."

"Contohnya?"

"Sebuah laporan panjang bisa punya judul yang berbeda untuk halaman website, ringkasan untuk newsletter, potongan data untuk media sosial, dan video pendek yang mengantar orang ke laporan lengkap."

Teddy mengangguk.

"Yang penting?"

"Isi dan faktanya tetap."

"Jadi distribusi bukan musuh."

"Bukan."

"Yang menjadi masalah?"

Enly menatapnya.

"Ketika bentuk distribusi mulai mengubah isi berita."

Kalimat itu tinggal cukup lama di ruangan. Karena semua orang tahu apa artinya.

Jika sebuah redaksi mulai berkata:

"Jangan tulis itu karena tidak akan viral."

Mereka tidak sedang membicarakan distribusi lagi. Mereka sedang memilih realitas berdasarkan kemungkinan reaksi.

Jika mereka berkata:

"Jangan pakai angle itu karena terlalu rumit."

Itu belum tentu salah.

Tetapi jika setiap persoalan yang rumit dibuang karena dianggap tidak ramah algoritma, lama-lama media hanya akan memproduksi hal-hal yang mudah dikonsumsi.

Jika setiap judul harus membuat orang marah, takut, penasaran, atau tersinggung, maka emosi akan menjadi mata uang editorial.

Dan jika setiap keputusan selalu dikembalikan kepada angka, ruang redaksi perlahan berubah menjadi ruang kontrol.

Bukan lagi:

Apa yang penting?

Melainkan:

Apa yang bekerja?

Dua pertanyaan itu terdengar mirip. Tetapi sebenarnya sangat berbeda.

"Donald."

"Ya?"

"Menurutmu algoritma bisa menjadi editor?"

Donald berpikir.

"Secara teknis, sebagian fungsi editorial bisa dilakukan mesin."

"Dan secara jurnalistik?"

"Berbeda."

Ia menutup laptop.

"Mesin bisa memilih berdasarkan pola."

"Manusia?"

"Manusia harus mempertimbangkan konsekuensi."

"Bedanya?"

"Mesin bisa mengetahui bahwa berita tertentu banyak diklik."

Ia menunjuk Teddy.

"Tapi mesin tidak otomatis memahami apakah berita itu penting bagi sebuah komunitas."

Enly menyambung.

"Mesin bisa mengetahui bahwa satu judul menghasilkan lebih banyak klik."

"Tapi?"

"Redaksi harus memutuskan apakah judul itu jujur."

Teddy mengangguk.

"Jadi algoritma bisa membantu memilih."

"Ya."

"Tapi tidak boleh menentukan nilai."

"Persis."

Hujan semalam meninggalkan jalan yang basah. Menjelang siang, kota mulai ramai.

Di warung seberang kantor, televisi sudah menyala. Suara pembawa acara bercampur dengan bunyi kendaraan.

Teddy berdiri di dekat jendela.

"Lucu."

"Apa?" tanya Enly.

"Dulu kita takut kalau redaktur terlalu berkuasa."

Enly tersenyum.

"Sekarang?"

"Sekarang kita takut redaktur tidak cukup berkuasa."

Donald tertawa.

"Lebih tepat."

Teddy menoleh.

"Karena ada sesuatu yang duduk di antara redaksi dan pembaca."

Enly mengangguk.

"Dan sesuatu itu tidak pernah masuk ruang rapat."

"Namun keputusan-keputusannya terasa di ruang rapat."

"Setiap hari."

Teddy melihat papan tulis.

Di sana masih ada lima kata:

PERHATIAN

BERITA

PLATFORM

DATA

UANG

Ia mengambil spidol.

Di bawah semuanya ia menulis satu kata baru:

KEPUTUSAN

Kemudian ia melingkarinya.

"Ini yang kita lupakan."

Enly melihat tulisan itu.

"Ya."

"Algoritma menghasilkan sinyal."

Donald mengangguk.

"Data menghasilkan informasi."

Enly menambahkan.

"Platform menyediakan distribusi."

Teddy menarik garis panjang di bawah semuanya.

"Dan redaksi tetap harus mengambil keputusan."

Tidak ada yang menjawab.

Karena untuk pertama kalinya sejak angka 132 muncul di layar, mereka menemukan sesuatu yang lebih berguna daripada menyalahkan mesin.

Mereka menemukan batas.

Sampai di mana mesin boleh membantu, dan dari titik mana manusia harus mengambil alih?

Jam 11.43.

Teddy kembali ke mejanya.

Ia membuka dokumen artikel. Bukan untuk mengubah isinya agar lebih disukai algoritma. Ia mengubah beberapa hal yang memang perlu diperbaiki.

Pembukaan dipadatkan. Data penting dinaikkan.

Satu paragraf yang terlalu berputar dipotong.

Judul diperiksa lagi. 

Tidak dibuat lebih heboh. Hanya dibuat lebih jelas.

Enly memperhatikan dari jauh.

"Kamu tidak takut traffic-nya turun?"

Teddy tidak menoleh.

"Takut."

"Terus?"

"Aku lebih takut pembaca datang karena janji yang tidak ada di dalam tulisan."

Enly tersenyum.

Donald yang mendengar dari belakang berkata:

"Nah."

Teddy berhenti mengetik.

"Apanya?"

"Kamu sudah mulai belajar."

"Belajar apa?"

Donald mengangkat bahu.

"Bahwa perang algoritma tidak selalu harus dilawan dengan perang."

Ia menutup laptop.

"Kadang kita hanya perlu tahu medan."

Menjelang siang, Teddy memeriksa kembali dashboard.

Angka itu masih 132.

Ia tertawa kecil.

"Belum berubah."

Enly menjawab dari dekat jendela.

"Memangnya harus?"

Teddy melihat layar.

"Entahlah."

"Bagus."

"Bagus bagaimana?"

"Kalau kamu mulai menulis hanya untuk membuat angka bergerak, kita kembali ke awal."

Teddy menutup dashboard.

Kali ini tanpa ragu.

Di papan tulis, lima kata lama masih ada.

PERHATIAN.

BERITA.

PLATFORM.

DATA.

UANG.

Dan di bawahnya:

KEPUTUSAN.

Tetapi ada satu persoalan yang belum mereka sentuh.

Jika perhatian adalah mata uang internet, maka judul adalah salah satu cara paling cepat untuk membelanjakannya.

Dan mereka semua tahu satu hal:

Ada batas yang sangat tipis antara membuat orang ingin membaca dan membuat orang merasa harus mengklik.

Batas itu sering kali hanya terdiri dari dua atau tiga kata. Dan justru di sanalah banyak ruang redaksi mulai kehilangan kendali.

Enly mengambil mapnya.

"Kita bicara judul besok."

Teddy mengangguk.

"Clickbait?"

Enly tersenyum.

"Bukan."

"Apa?"

"Godaan."

Ia berjalan menuju pintu.

"Karena masalahnya bukan pada judul."

Teddy menatapnya.

"Terus?"

Enly berhenti sebentar.

"Pada apa yang bersedia kita korbankan untuk sebuah klik."

Pintu tertutup.

Teddy kembali melihat layar.

Kali ini bukan angka yang membuatnya berpikir. Melainkan satu pertanyaan baru:

Berapa banyak kejujuran yang sanggup ditukar sebuah redaksi dengan perhatian?

Dan pertanyaan itu, ia tahu, jauh lebih berbahaya daripada 132 pembaca. (Bersambung)

Sebelumnya:

Redaksi yang Menolak Diam — Cerita Bersambung

Foto Donny Turang

Donny Turang

Jurnalis Utama bersertifikat Dewan Pers/AJI Indonesia. Menulis cerita yang layak untuk diceritakan.

Komentar