Dialektika Akal Sehat: Dari Tebing, Ruang Kelas, hingga Lingkar Istana

Selama bertahun-tahun Rocky Gerung berdiri di luar pagar kekuasaan, menguliti logika para penguasa dengan filsafat dan “akal sehat”. Kini ia justru masuk ke Istana sebagai Wantimpres. Apakah seorang pengkritik bisa tetap tajam setelah duduk di kursi kekuasaan?

Karikatur Rocky Gerung di antara tebing, ruang kelas, alam bebas, dan Istana Negara.
Rocky Gerung dalam perjalanan dari ruang filsafat, tebing alam bebas, dan panggung kritik menuju lingkar kekuasaan. Kini, sebagai Wantimpres, prinsip dan akal sehatnya memasuki medan yang berbeda. Gambar hanya ilustrasi yang dibuat berkolaborasi dengan teknologi AI.

Rocky Gerung tumbuh dari filsafat, kebebasan berpikir, demokrasi, dan kecintaannya pada alam bebas. Selama bertahun-tahun ia berbicara dari luar pagar kekuasaan. Kini, pada usia 67 tahun, ia justru melangkah masuk ke dalamnya.

Ada tempat-tempat di mana seseorang tidak bisa berbohong kepada dirinya sendiri.

Tebing adalah salah satunya.

Di dinding batu yang tegak, tubuh tidak bisa diselamatkan oleh retorika. Tidak ada tepuk tangan penonton. Tidak ada kamera televisi. Tidak ada mikrofon untuk memperpanjang kalimat. Yang ada hanya tubuh, batu, gravitasi, dan keputusan tentang pijakan berikutnya.

Satu kesalahan bisa membuat seseorang jatuh.

Bagi Rocky Gerung, alam bebas bukan sekadar tempat mencari adrenalin. Di sanalah, barangkali, terdapat bentuk kejujuran yang berbeda: kejujuran yang tidak membutuhkan penjelasan.

Puluhan tahun kemudian, prinsip semacam itu menjadi bagian dari citra publik Rocky—seorang filsuf, akademisi, aktivis demokrasi, dan intelektual publik yang terbiasa berdiri di tempat yang berseberangan dengan kekuasaan.

Ia dikenal karena kalimat-kalimatnya yang tajam. Karena kebiasaannya membongkar argumen hingga ke tulang-belulang logikanya. Karena kata-kata seperti akal sehat, etika, kebebasan berpikir, dan kritik terhadap kekuasaan begitu lekat dengan namanya.

Tetapi sejarah seseorang tidak pernah sesederhana citra yang dibangun televisi.

Pada Jumat, 2 Oktober 2026, Rocky Gerung berdiri di Istana Negara.

Bukan sebagai pengkritik yang datang dari luar.

Ia dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), bersama jajaran tokoh lain. Pelantikan itu sekaligus membawa Rocky ke sebuah ruang yang selama bertahun-tahun menjadi objek kritiknya: ruang kekuasaan.

Di situlah sebuah babak baru dimulai.

Bukan karena Rocky tiba-tiba menjadi orang lain.

Justru karena pertanyaan yang lebih menarik kini muncul:

Apa yang terjadi ketika seorang pengkritik kekuasaan memilih masuk ke dalam kekuasaan?

Dari Manado, Sebelum Kata-Kata Menjadi Senjata

Rocky Gerung lahir di Manado, Sulawesi Utara, pada 20 Januari 1959.

Sulawesi Utara bukan sekadar latar geografis dalam perjalanan hidupnya. Ada tradisi percakapan yang panjang di sana—ruang sosial yang memungkinkan perbedaan pendapat hidup berdampingan, meski tidak selalu tanpa benturan.

Rocky kemudian membawa kebiasaan itu ke Jakarta.

Ia mulai kuliah di Universitas Indonesia pada 1979. Perjalanannya di kampus tidak lurus. Ia pernah berada di bidang yang berbeda sebelum akhirnya menemukan rumah intelektualnya di Ilmu Filsafat.

Pada 1986, ia menyelesaikan pendidikan filsafat di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI. Setelah itu, ia kembali ke kampus sebagai dosen tidak tetap dan mengajar selama bertahun-tahun. Berbagai sumber mencatat keterlibatannya dalam pengajaran filsafat politik, teori keadilan, metodologi penelitian dan bidang-bidang filsafat lainnya.

Ada sesuatu yang menarik dari perjalanan tersebut.

Rocky tidak dibentuk oleh satu disiplin yang membatasi dunia pada satu kotak.

Filsafat justru mengajarinya untuk mempertanyakan kotak itu.

Apa yang disebut benar?

Siapa yang berhak menyebut sesuatu benar?

Apa dasar sebuah keputusan politik?

Kapan kekuasaan berubah menjadi kesewenang-wenangan?

Dan, mungkin yang paling penting: apa yang terjadi ketika manusia berhenti berpikir sendiri dan hanya menerima apa yang dikatakan oleh kekuasaan?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang kemudian menjadi bagian dari identitas intelektualnya.

Ia tidak membangun dirinya terutama melalui jabatan.

Ia membangunnya melalui pertanyaan.

Ruang Kelas yang Lebih Luas Daripada Kampus

Ada masa ketika nama Rocky Gerung lebih banyak dikenal di lingkungan akademik dibanding ruang televisi.

Ia mengajar.

Menulis.

Meneliti.

Berdiskusi.

Terlibat dalam pendidikan demokrasi.

Kemudian ruangnya melebar.

Rocky tercatat terlibat dalam Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D) dan dalam lingkungan yang mendorong gagasan tentang demokrasi, kebebasan sipil, dan kehidupan publik. Ia juga tercatat sebagai salah satu pendiri SETARA Institute, organisasi yang bekerja pada isu pluralisme, kemanusiaan, demokrasi, dan hak asasi manusia.

Di titik ini, filsafatnya tidak lagi berhenti sebagai urusan buku.

Ia bersentuhan dengan kehidupan orang banyak.

Kesetaraan bukan lagi sekadar konsep.

Demokrasi bukan hanya prosedur memilih pemimpin.

Kebebasan bukan sekadar hak berbicara.

Semua itu akhirnya menyangkut manusia konkret: seseorang yang ingin beribadah tanpa takut, warga yang ingin menyampaikan pendapat tanpa dibungkam, kelompok minoritas yang ingin diperlakukan setara, dan masyarakat yang ingin kebijakan negara tidak hanya menguntungkan mereka yang memiliki akses kepada kekuasaan.

Di sinilah Rocky menemukan salah satu medan panjang perjalanannya: membawa filsafat keluar dari ruang kuliah dan masuk ke ruang publik.

Ketika Alam Mengajarkan Batas

Ada sisi Rocky yang sering tenggelam di antara perdebatan politik: kecintaannya pada alam bebas.

Di sana ia bukan komentator.

Bukan pengamat politik.

Bukan filsuf di depan kamera.

Ia hanya seorang manusia yang berhadapan dengan batu.

Bagi seorang pemanjat tebing, alam tidak mengenal gelar akademik. Ia tidak peduli berapa banyak buku yang sudah dibaca seseorang atau berapa banyak orang yang mengenal namanya.

Batu hanya menawarkan satu hukum: pijakan harus benar.

Barangkali dari situlah hubungan Rocky dengan isu lingkungan mendapatkan tempat yang khas dalam pemikirannya.

Lingkungan bukan hanya persoalan pohon yang ditebang atau hutan yang hilang. Ia berkaitan dengan cara manusia memahami batas.

Bahwa pembangunan tidak boleh hanya dihitung dari beton yang berdiri.

Bahwa kemajuan tidak selalu identik dengan eksploitasi.

Bahwa alam bukan sekadar bahan mentah yang menunggu diubah menjadi keuntungan.

Dalam cara pandang seperti itu, lingkungan bertemu dengan etika.

Dan etika pada akhirnya kembali kepada pertanyaan sederhana:

Apa yang boleh dilakukan manusia hanya karena manusia memiliki kekuasaan untuk melakukannya?

Pertanyaan tersebut terdengar filosofis.

Tetapi konsekuensinya sangat nyata.

Sebuah hutan yang hilang adalah kenyataan.

Sungai yang tercemar adalah kenyataan.

Gunung yang dikeruk adalah kenyataan.

Dan masyarakat yang kehilangan ruang hidup karena keputusan yang dibuat tanpa mempertimbangkan mereka juga merupakan kenyataan.

Alam, dalam pengertian ini, menjadi semacam ruang kelas kedua bagi Rocky.

Jika kampus mengajarinya cara berpikir, tebing mengajarinya tentang batas.

Dari “di luar” Menuju “di dalam”

Selama bertahun-tahun, Rocky dikenal publik sebagai suara yang berada di luar kekuasaan.

Ia mengkritik pemerintah.

Membongkar argumen pejabat.

Mengomentari kebijakan.

Menyentil elite politik.

Kadang dengan bahasa akademis, kadang dengan kalimat yang sengaja dibuat sederhana dan provokatif.

Ia menjadi salah satu figur intelektual publik yang kehadirannya hampir selalu memancing reaksi.

Bagi sebagian orang, ketajaman itu adalah daya tarik.

Bagi sebagian lainnya, cara bicaranya menimbulkan kontroversi.

Tetapi apa pun penilaian publik terhadap gaya Rocky, satu hal jelas: selama bertahun-tahun ia membangun posisi sebagai orang yang nyaman berdiri di luar pagar kekuasaan.

Karena itu, pelantikan 2 Oktober 2026 menjadi semacam pembalikan arah.

Rocky kini berada di dalam.

Ia duduk di sebuah lembaga yang memang dibentuk untuk memberikan pertimbangan kepada Presiden.

Dan ia sendiri menyadari paradoks tersebut.

Setelah pelantikan, Rocky mengatakan bahwa kedudukan Wantimpres bersifat etis, bukan teknis. Menurutnya, fungsi itu antara lain melihat ekses sebuah kebijakan dan memberikan pertimbangan mengenai arah kebijakan agar tetap sesuai dengan visi dan janji Presiden.

Kalimat tersebut penting.

Sebab Rocky tidak menggambarkan perpindahan itu sebagai perubahan identitas.

Ia justru menggambarkannya sebagai perpindahan posisi.

Dari luar ke dalam.

Bukan dari kritis menjadi tidak kritis.

Sebuah Eksperimen Tentang Prinsip

Di sinilah cerita Rocky menjadi lebih menarik daripada sekadar berita pelantikan. Sebab jabatan baru itu menghadirkan ujian yang berbeda.

Selama berada di luar kekuasaan, seseorang memiliki ruang yang relatif luas untuk mengkritik. Tetapi ketika masuk ke dalam institusi kekuasaan, situasinya berubah.

Ada tanggung jawab.

Ada struktur.

Ada kepentingan yang bertabrakan.

Ada keputusan yang tidak selalu hitam-putih.

Ada informasi yang mungkin tidak tersedia bagi publik.

Dan ada konsekuensi dari setiap nasihat yang diberikan.

Dengan demikian, pertanyaan terhadap Rocky bukan semata-mata:

Mengapa ia masuk ke Istana?

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Apa yang akan ia lakukan setelah berada di dalamnya?

Apakah prinsip yang selama ini ia bicarakan akan tetap menjadi prinsip ketika berhadapan dengan meja kekuasaan?

Apakah kritik masih dapat disampaikan ketika orang yang dikritik kini adalah bagian dari lingkungan kerjanya sendiri?

Apakah akal sehat tetap bisa berdiri ketika berhadapan dengan kepentingan politik?

Dan, mungkin yang paling sulit:

Bisakah seseorang berada dekat dengan kekuasaan tanpa kehilangan jarak intelektual terhadapnya?

Tidak ada jawaban yang bisa diberikan pada hari pelantikan.

Jawabannya harus ditunggu dari tindakan.

Demokrasi Bukan Hanya Tentang Siapa yang Berkuasa

Perjalanan Rocky Gerung pada akhirnya dapat dibaca lebih luas daripada sekadar perjalanan seorang pengamat politik menuju Istana.

Ia adalah perjalanan tentang posisi manusia terhadap kekuasaan.

Demokrasi tidak hanya membutuhkan pemerintah. 

Ia membutuhkan masyarakat yang mampu bertanya.

Tidak hanya membutuhkan pemilu.

Ia membutuhkan kebebasan berpikir.

Tidak hanya membutuhkan lembaga negara.

Ia membutuhkan orang-orang yang bersedia mengatakan bahwa sesuatu mungkin keliru, bahkan ketika kesalahan itu dilakukan oleh pihak yang sedang berkuasa.

Di sinilah gagasan kesetaraan menjadi penting.

Kesetaraan bukan berarti semua orang harus berpikir sama.

Justru sebaliknya.

Kesetaraan mensyaratkan bahwa setiap manusia memiliki hak untuk berpikir, berbicara, berbeda, dan diperlakukan sebagai warga negara yang memiliki martabat.

Demokrasi tanpa perbedaan pendapat hanya akan menjadi seremoni.

Kekuasaan tanpa kritik mudah berubah menjadi ruang yang hanya memantulkan dirinya sendiri.

Dan masyarakat tanpa keberanian untuk bertanya akan menjadi penonton.

Mungkin karena itu, perjalanan Rocky tidak cukup dibaca dari posisi politiknya.

Lebih menarik melihat bagaimana ia membawa gagasan tentang manusia ke dalam politik.

Bahwa di balik setiap kebijakan ada manusia.

Di balik angka pembangunan ada masyarakat.

Di balik keputusan ekonomi ada lingkungan.

Dan di balik kekuasaan selalu ada pertanyaan tentang batas.

Dari Tebing ke Istana

Ada ironi kecil dalam perjalanan itu.

Dulu, Rocky menghadapi dinding batu.

Sekarang ia menghadapi dinding lain.

Yang satu terbuat dari batu.

Yang lain terbuat dari institusi.

Tebing menuntut ketepatan pijakan.

Istana menuntut ketepatan sikap.

Di tebing, seseorang bisa jatuh karena salah menempatkan tangan.

Dalam kekuasaan, seseorang bisa kehilangan jarak kritis karena terlalu nyaman dengan tempatnya berpijak.

Keduanya membutuhkan keseimbangan.

Dan mungkin di situlah metafora pemanjat tebing menemukan maknanya.

Bukan bahwa Rocky selalu benar.

Bukan pula bahwa kritiknya selalu harus diterima.

Melainkan bahwa seseorang yang terbiasa mencari pijakan di permukaan batu kini harus mencari pijakan baru di medan yang jauh lebih rumit: kekuasaan.

Di sana tidak ada garis vertikal yang sederhana.

Ada kepentingan.

Ada kompromi.

Ada batas.

Ada manusia.

Ada konsekuensi.

Dan ada prinsip yang diuji bukan oleh kata-kata, melainkan oleh keputusan.

Ketika Pengkritik Masuk ke Ruang yang Selama Ini Dikritiknya

Pada akhirnya, perjalanan Rocky Gerung mungkin tidak sedang berbicara tentang kemenangan seseorang memasuki Istana.

Juga bukan tentang kekalahan seorang pengkritik karena akhirnya menerima jabatan.

Terlalu dini untuk menyimpulkan keduanya.

Yang terjadi sekarang hanyalah sebuah babak baru.

Seorang filsuf yang tumbuh dari ruang kelas.

Seorang aktivis yang pernah berbicara tentang demokrasi dan kesetaraan.

Seorang manusia yang menemukan keheningan di alam bebas.

Seorang intelektual publik yang bertahun-tahun berdiri di luar pagar kekuasaan.

Kini berdiri di dalam.

Ia membawa serta seluruh sejarah itu.

Filsafatnya.

Pertanyaan-pertanyaannya.

Kritiknya.

Kecintaannya pada alam.

Dan keyakinannya bahwa kekuasaan membutuhkan pertimbangan etis.

Pada 2 Oktober 2026, Rocky memang menandatangani berita acara pelantikan di Istana Negara.

Tetapi barangkali tanda tangan itu bukan akhir dari perjalanan.

Justru awal dari ujian yang lebih sulit.

Sebab mengkritik kekuasaan dari luar membutuhkan keberanian.

Namun mempertahankan kejernihan berpikir ketika sudah berada di dekat kekuasaan membutuhkan sesuatu yang lain: jarak, disiplin, dan kesetiaan pada prinsip.

Seperti seorang pemanjat tebing yang tahu bahwa tidak setiap pijakan harus diinjak.

Dan tidak setiap pegangan harus dipercaya.

Kini Rocky berada di dinding yang berbeda.

Kita akan melihat, apakah ia mampu tetap memanjat tanpa kehilangan kompas.

Sebab pada akhirnya, persoalannya bukan lagi apakah Rocky Gerung bisa sampai ke Istana.

Ia sudah sampai.

Pertanyaan yang jauh lebih menarik adalah:

ketika seorang pengkritik akhirnya berada di dalam lingkar kekuasaan, seberapa kuat ia masih mampu mendengar suara dari luar?

Itulah cerita yang belum selesai.

Foto Donny Turang
PENULIS

Donny Turang

Jurnalis Utama bersertifikat Dewan Pers/AJI Indonesia. Menulis cerita yang layak untuk diceritakan.

Komentar