Hujan di Tengah El Niño

Hujan kembali turun di Tomohon ketika El Niño justru menguat. Apakah ini pertanda musim hujan telah tiba, atau sekadar hujan lokal? Di antara data iklim dan pengalaman warga, langit ternyata tidak sesederhana yang kita kira.

Hujan turun di sejumlah wilayah Kota Tomohon seperti Taratara dan Woloan di tengah El Niño yang menguat.
Hujan kembali membasahi sejumlah wilayah Kota Tomohon, termasuk Taratara dan Woloan. Di tengah El Niño yang menguat, hujan lokal menunjukkan bahwa cuaca di satu tempat tidak selalu mencerminkan kondisi iklim dalam skala yang lebih luas. Gambar hanya ilustrasi yang dibuat berkolaborasi dengan AI.

Ketika Tomohon Kembali Basah, Sementara Data Iklim Masih Berbicara Tentang Kekeringan

Beberapa hari terakhir, langit Tomohon seperti sedang mengirim kabar yang berbeda.

Hujan turun.

Tidak selalu lama. Tidak selalu deras. Tidak pula merata ke seluruh wilayah.

Tetapi cukup untuk membuat orang menyambutnya dengan antusias.

Setelah berbulan-bulan masyarakat akrab dengan cerita tentang El Niño, kekeringan, tanah yang menunggu air, kebun yang membutuhkan kelembapan, dan kebakaran hutan serta lahan di sejumlah tempat di Sulawesi Utara, hujan yang turun di Tomohon terasa lebih dari sekadar perubahan cuaca.

Ada rasa lega di sana.

Orang kembali mendengar air jatuh di atap rumah.

Tanah kembali basah.

Debu mereda.

Pepohonan mendapat sedikit kesegaran.

Dan mungkin, untuk sesaat, orang berpikir:

Mungkinkah musim hujan sudah datang?

Pertanyaan itu wajar.

Tetapi ilmu atmosfer meminta kita sedikit menahan kesimpulan.

Sebab pada saat masyarakat Tomohon menyambut hujan, lembaga-lembaga meteorologi justru masih menunjukkan bahwa El Niño 2026 sedang berada pada intensitas sangat kuat dan musim hujan 2026/2027 di sebagian besar Indonesia diperkirakan datang lebih lambat.

Maka hujan yang kita rasakan hari ini bukanlah bantahan terhadap El Niño.

Ia justru mengajarkan sesuatu yang lebih menarik:

cuaca yang kita alami di satu tempat tidak selalu identik dengan kecenderungan iklim dalam skala yang lebih luas.

Sebuah Hujan Tidak Bisa Membatalkan Sebuah Musim

Ada kebiasaan sederhana dalam cara manusia membaca cuaca.

Jika hujan turun, kita mengatakan musim hujan sudah tiba.

Jika panas berlangsung beberapa hari, kita menyebut kemarau.

Cara berpikir seperti itu dapat dimengerti karena manusia memang mengalami cuaca dari hari ke hari. Tetapi klimatologi bekerja dengan rentang waktu yang lebih panjang.

Satu hari hujan adalah peristiwa cuaca.

Serangkaian pola hujan dalam periode yang panjang merupakan bagian dari iklim.

Perbedaan ini penting ketika kita berbicara tentang El Niño.

El Niño bukan sebuah "saklar" yang mematikan hujan di seluruh Indonesia. Ia merupakan bagian dari variabilitas iklim global yang mengubah sirkulasi atmosfer dan distribusi panas serta uap air, sehingga memengaruhi kemungkinan terjadinya hujan di berbagai wilayah.

Karena itu, El Niño dapat sedang menguat, sementara Tomohon tetap diguyur hujan.

Tidak ada kontradiksi di sana.

Apa Sebenarnya yang Sedang Terjadi di Pasifik?

Secara sederhana, El Niño berkaitan dengan pemanasan anomali suhu muka laut di kawasan tengah hingga timur Pasifik tropis dan perubahan sirkulasi atmosfer yang menyertainya.

Salah satu mekanisme pentingnya adalah perubahan Walker circulation.

Dalam kondisi El Niño, pusat konveksi dan gerakan udara naik cenderung bergeser ke arah Pasifik tengah dan timur. Sebaliknya, wilayah Indonesia mengalami kecenderungan subsiden atau gerakan udara turun dan perubahan angin permukaan yang mengurangi suplai kelembapan dalam skala regional.

Itulah salah satu alasan El Niño sering berkaitan dengan berkurangnya curah hujan di Indonesia.

Penelitian Harry Hendon yang menganalisis data Indonesia periode 1951–1997 menunjukkan hubungan kuat antara ENSO dan anomali curah hujan Indonesia terutama pada musim kemarau. Kondisi kekeringan biasanya muncul ketika El Niño berlangsung, sementara pada inti musim hujan hubungan antara ENSO dan hujan menjadi jauh lebih lemah serta pola hujan lebih tidak seragam.

Penelitian lain mengenai variabilitas hujan Indonesia dan ENSO/IOD juga menemukan bahwa pengaruh ENSO dan IOD terhadap hujan paling dominan pada musim kering.

Artinya, El Niño memang penting. Tetapi ia bukan satu-satunya aktor di langit Indonesia.

Ada Langit Global, Ada Langit Lokal

Di sinilah hujan Tomohon menjadi menarik.

Di atas Samudra Pasifik bekerja sistem iklim berskala ribuan kilometer.

Tetapi di atas Tomohon, pada hari tertentu, atmosfer dapat membentuk sistem awan pada skala yang jauh lebih kecil.

Pemanasan permukaan.

Kelembapan.

Pergerakan udara.

Konvergensi.

Ketidakstabilan atmosfer.

Dan topografi.

Semua dapat berinteraksi.

Tomohon sendiri berada di wilayah pegunungan.

Bentang alam seperti ini dapat memengaruhi gerakan udara dan pembentukan awan. Udara lembap yang terdorong naik oleh relief permukaan dapat mengalami pendinginan, kondensasi, kemudian berkembang menjadi awan konvektif.

Jika kondisi atmosfer mendukung, hujan pun turun. Tidak perlu menunggu seluruh Sulawesi Utara menjadi basah.

Satu kawasan bisa memperoleh hujan sementara kawasan lain tetap kering. Itulah sebabnya istilah hujan lokal penting. Namun, secara ilmiah kita tetap harus berhati-hati.

Tanpa menganalisis data radar, satelit, curah hujan stasiun, angin, kelembapan, dan struktur atmosfer pada waktu kejadian, kita tidak bisa mengatakan bahwa hujan Tomohon beberapa hari terakhir pasti disebabkan oleh topografi atau konveksi lokal tertentu.

Yang dapat dikatakan adalah:

mekanisme lokal semacam itu sangat mungkin bekerja di atas pengaruh iklim berskala besar.

Sulawesi Memang Tidak Memiliki Satu Pola Hujan

Ada temuan akademis yang sangat relevan untuk memahami keadaan ini.

Penelitian BMKG mengenai respons curah hujan Sulawesi terhadap El Niño menunjukkan bahwa Pulau Sulawesi memiliki tiga pola hujan utama: monsunal, ekuatorial, dan lokal.

Dengan kata lain, sejak awal Sulawesi memang bukan wilayah yang dapat dipahami hanya dengan satu pola hujan sederhana.

Penelitian tersebut juga memperlihatkan bahwa respons Sulawesi terhadap El Niño tidak seragam.

Ini penting.

Sebab ketika kita mengatakan:

"El Niño membuat Sulawesi kering."

Kalimat itu terlalu sederhana.

Yang lebih tepat:

El Niño meningkatkan kecenderungan pengurangan hujan pada periode dan wilayah tertentu, tetapi respons aktual curah hujan tetap dipengaruhi oleh musim, pola atmosfer regional, laut, dan karakter geografis setempat.

Penelitian lain yang menggunakan data stasiun di Sulawesi juga menunjukkan adanya hubungan ENSO dengan curah hujan, kelembapan relatif, dan suhu muka laut di wilayah tersebut.

Jadi hujan di Tomohon bukan sesuatu yang aneh hanya karena El Niño sedang kuat.

BMKG Mengatakan Dua Hal yang Tampaknya Bertentangan

Padahal sebenarnya tidak.

Pada 22 September 2026, BMKG menyatakan El Niño berada pada intensitas sangat kuat. BMKG juga memperkirakan awal musim hujan 2026/2027 di 529 Zona Musim atau 61,08 persen wilayah Indonesia akan mengalami kemunduran dibandingkan rata-rata klimatologis.

Kemudian pada pembaruan 28 September untuk periode 29 September–5 Oktober, BMKG memberikan gambaran yang lebih menarik.

Di satu sisi, kondisi kering masih dominan di berbagai wilayah Indonesia.

Di sisi lain, BMKG secara eksplisit menyebut aktivitas konvektif masih berkembang dan dapat memicu hujan lokal dengan intensitas tinggi. Bahkan dalam periode 25–27 September, sejumlah wilayah Indonesia mencatat hujan sangat lebat hingga ekstrem.

Ini adalah kunci untuk memahami Tomohon.

Kondisi iklim regional dapat kering, tetapi cuaca lokal tetap mampu menghasilkan hujan.

Bukan hanya mampu.

Kadang hujan lokal itu dapat turun sangat deras.

Hujan Lokal Bukan Berarti El Niño Melemah

Ini kesimpulan yang juga perlu dijaga.

Jika Tomohon mendapat hujan beberapa kali, kita tidak bisa langsung mengatakan El Niño melemah.

BMKG pada akhir September masih mencatat indeks Niño 3.4 sebesar +2,63 dan nilai SOI -20,4, sementara nilai rata-rata mingguan DMI sekitar +0,935. BMKG menilai kondisi atmosfer tersebut masih konsisten dengan pengaruh El Niño sangat kuat dan IOD positif yang mengurangi suplai uap air ke sebagian wilayah Indonesia.

Dengan kata lain:

hujan lokal tidak otomatis mengubah status iklim regional.

Sebaliknya, hujan lokal juga tidak boleh diabaikan hanya karena statistik mengatakan kondisi sedang kering.

Keduanya harus dibaca bersama.

Ada Pemain Lain: Indian Ocean Dipole

El Niño juga tidak bekerja sendirian.

Ada Indian Ocean Dipole (IOD).

Dalam fase positif IOD, pola suhu muka laut di Samudra Hindia dapat mengurangi suplai kelembapan menuju Indonesia bagian tertentu.

Penelitian akademis mengenai variabilitas hujan Indonesia menunjukkan ENSO dan IOD sama-sama menjadi mode iklim penting yang memengaruhi curah hujan Indonesia, terutama pada musim kering.

BMKG saat ini juga memperhitungkan kombinasi El Niño sangat kuat dan IOD positif dalam menjelaskan kecenderungan mundurnya musim hujan 2026/2027. Namun, bahkan dua fenomena berskala besar itu tidak mampu menghapus seluruh dinamika lokal.

Atmosfer tidak pernah bekerja dengan satu variabel.

Ia lebih mirip orkestra.

El Niño memainkan satu bagian.

IOD memainkan bagian lain.

Monsun masuk dari arah berbeda.

Suhu laut lokal ikut memberi pengaruh.

Topografi mengubah aliran udara.

Konveksi membentuk awan.

Dan akhirnya, di sebuah tempat kecil bernama Tomohon, hujan turun.

Hujan yang Jatuh di Tomohon Tidak Tahu Bahwa El Niño Sedang Kuat

Ada sisi manusiawi dari semua perdebatan ilmiah ini.

Ketika hujan turun, orang tidak sedang memikirkan indeks Niño 3.4.

Mereka tidak sedang menghitung Southern Oscillation Index.

Mereka tidak sedang membuka peta anomali suhu muka laut Pasifik.

Mereka hanya mendengar air.

Dan mungkin tersenyum.

Bagi seseorang yang kebunnya kering, hujan adalah kabar baik.

Bagi seseorang yang khawatir tentang air bersih, hujan adalah sedikit harapan.

Bagi seseorang yang melihat hutan terbakar, hujan mungkin terasa seperti pertolongan.

Di sinilah ilmu pengetahuan dan pengalaman manusia bertemu.

Data mengatakan:

risiko kekeringan belum selesai.

Langit mengatakan:

hari ini hujan.

Keduanya benar.

Tetapi Jangan Tertipu oleh Tanah yang Basah

Tanah basah bukan selalu tanda kekeringan telah berakhir.

Satu episode hujan dapat membasahi permukaan tanah, tetapi belum tentu mengisi kembali cadangan air yang lebih dalam.

Begitu pula vegetasi yang mengalami tekanan kekeringan membutuhkan waktu untuk pulih.

Apalagi hutan yang terbakar.

BMKG sendiri pada akhir September masih mengingatkan masyarakat agar menghemat air dan meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan. Pada saat yang sama, masyarakat juga diminta mewaspadai hujan lokal yang dapat disertai petir dan angin kencang.

Ini mungkin terdengar paradoks.

Kita bisa membutuhkan air dan sekaligus harus waspada terhadap hujan.

Tetapi begitulah kondisi atmosfer yang kompleks.

Hujan Setelah Kemarau Juga Punya Wajah Lain

Ada bahaya lain yang sering terlupakan.

Setelah periode kering, orang cenderung melihat hujan sebagai sesuatu yang sepenuhnya baik. Padahal hujan yang turun sangat deras dalam waktu singkat dapat menimbulkan persoalan berbeda.

Genangan.

Longsor.

Pohon tumbang.

Aliran permukaan.

Erosi.

BMKG dalam prakiraan sepekan terakhir juga mengingatkan bahwa hujan lokal dengan intensitas sedang hingga lebat masih dapat terjadi meskipun kondisi kering tetap dominan.

Jadi, persoalannya bukan memilih antara:

kemarau atau hujan.

Persoalannya adalah memahami variabilitas.

Kapan hujan datang.

Berapa banyak.

Berapa lama.

Di mana.

Dengan kondisi tanah seperti apa.

Dan dalam konteks atmosfer yang bagaimana.

Yang Menarik Justru Bukan Hujannya

Bagi saya, bagian paling menarik dari hujan Tomohon beberapa hari terakhir bukanlah apakah hujan itu "membuktikan" El Niño salah.

Tidak.

Yang menarik adalah bagaimana satu kejadian kecil dapat memperlihatkan kompleksitas sistem iklim.

Di satu sisi ada El Niño yang sangat kuat.

Ada IOD positif.

Ada kecenderungan musim hujan mundur.

Ada wilayah Indonesia yang mengalami hari tanpa hujan panjang.

Ada risiko karhutla.

Tetapi pada saat yang sama, ada wilayah lain yang mendapat hujan.

Bahkan ada wilayah yang dapat mengalami hujan lebat.

BMKG mencatat pola tersebut dalam pembaruan akhirnya September: kondisi kering dominan di sejumlah wilayah, tetapi aktivitas konvektif tetap menghasilkan hujan lokal.

Dengan demikian, hujan Tomohon bukan anomali yang membatalkan El Niño.

Ia adalah bagian dari variabilitas cuaca yang berlangsung di dalam sebuah latar belakang iklim yang lebih luas.

Masyarakat Tidak Perlu Memilih Antara Pengalaman dan Data

Ada kecenderungan mempertentangkan keduanya.

"Di sini hujan, berarti berita kekeringan berlebihan."

Atau sebaliknya:

"BMKG bilang El Niño, berarti hujan ini tidak penting."

Keduanya keliru.

Pengalaman masyarakat penting karena menunjukkan apa yang benar-benar terjadi di lapangan.

Data meteorologi penting karena menempatkan pengalaman itu dalam konteks yang lebih luas.

Seorang warga Tomohon yang mengatakan, "Hari ini hujan," sedang menyampaikan fakta cuaca.

Seorang klimatolog yang mengatakan, "El Niño sangat kuat dan awal musim hujan cenderung mundur," juga sedang menyampaikan fakta.

Tidak perlu mempertentangkan keduanya.

Yang perlu dilakukan adalah menghubungkan keduanya.

Kita Sedang Belajar Hidup Dengan Ketidakpastian

Mungkin ini pelajaran yang lebih besar.

Perubahan iklim dan variabilitas iklim membuat manusia semakin membutuhkan kemampuan membaca ketidakpastian.

Tidak semua prediksi berarti apa yang akan terjadi di setiap tempat.

Tidak setiap hujan berarti musim telah berubah.

Tidak setiap panas berarti hujan tidak akan turun.

Dan tidak setiap kebakaran dapat dijelaskan hanya dengan satu fenomena iklim.

Ilmu atmosfer bukan ramalan dukun yang mengatakan besok pasti begini.

Ia bekerja dengan probabilitas, pola, data, dan tingkat ketidakpastian.

Karena itu, informasi cuaca dan iklim seharusnya tidak dibaca sebagai vonis.

Ia adalah alat untuk mengambil keputusan yang lebih baik.

Hujan yang Membuat Orang Kembali Menengadah

Mungkin itulah mengapa hujan Tomohon terasa istimewa. 

Bukan karena ia membuktikan sesuatu.

Bukan karena ia membatalkan El Niño.

Tetapi karena setelah begitu banyak pembicaraan tentang kekeringan, satu suara sederhana kembali terdengar:

air jatuh dari langit.

Dan orang-orang menengadah.

Ada rasa syukur.

Ada rasa lega.

Tetapi semestinya ada pula rasa ingin tahu.

Apa yang menyebabkan hujan ini?

Apakah ia akan berulang?

Apakah wilayah lain juga mendapatkannya?

Apakah kelembapan mulai meningkat?

Apakah pola atmosfer berubah?

Apakah musim hujan benar-benar sedang mendekat?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak bisa dijawab hanya dengan melihat halaman rumah.

Kita membutuhkan data.

Jangan Buru-Buru Mengatakan Musim Hujan Sudah Tiba

Sebab data terbaru belum memberi dasar untuk kesimpulan sesederhana itu.

BMKG masih memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia mengalami awal musim hujan lebih lambat dari rata-rata klimatologis. Bahkan untuk Oktober 2026, BMKG memprediksi 49,92 persen wilayah Indonesia berada pada kategori curah hujan bulanan rendah, 0–100 milimeter.

Artinya, hujan yang turun di Tomohon patut disambut. 

Tetapi belum layak dijadikan bukti bahwa musim hujan telah menetap.

Untuk mengatakan musim telah berubah, kita membutuhkan pola.

Bukan satu kejadian.

Bukan dua.

Bukan bahkan beberapa hari.

Kita perlu melihat bagaimana hujan berkembang dari waktu ke waktu.

Dan Mungkin Itu Pesan Paling Penting dari Hujan Hari ini

Ada masa ketika manusia mengira alam dapat dibaca dengan cara sederhana.

Kemarau berarti tidak hujan.

Musim hujan berarti hujan.

El Niño berarti kekeringan.

Tetapi atmosfer menunjukkan bahwa dunia jauh lebih rumit.

El Niño dapat menguat.

IOD dapat positif.

Musim hujan dapat terlambat.

Namun Tomohon tetap dapat diguyur hujan.

Dan mungkin justru di situlah kita harus berhenti mencari jawaban yang terlalu sederhana.

Hujan yang turun di Tomohon tidak membatalkan El Niño.

El Niño juga tidak membatalkan hujan Tomohon.

Keduanya dapat benar pada saat yang sama.

Sebab langit yang kita lihat dari halaman rumah hanyalah bagian kecil dari sistem atmosfer yang jauh lebih besar.

Dan satu kota yang basah tidak berarti seluruh negeri telah basah.

Sebaliknya, sebuah prediksi kekeringan tidak berarti setiap halaman rumah harus tetap kering.

Ketika Hujan Datang, Jangan Hanya Bersyukur

Bersyukurlah.

Tetapi juga belajarlah membaca.

Baca langit.

Baca tanah.

Baca hutan.

Baca sungai.

Dan, terutama, baca data.

Karena mungkin hujan yang turun hari ini hanyalah hujan lokal.

Mungkin ia bagian dari dinamika konvektif.

Mungkin topografi ikut memainkan peran.

Mungkin ada gangguan atmosfer regional yang membantu membentuk awan.

Dan mungkin semua itu berlangsung bersamaan dengan El Niño yang sangat kuat di Pasifik.

Kita belum perlu memaksakan satu jawaban.

Justru ilmu pengetahuan mengajarkan kita untuk berhati-hati ketika bukti belum cukup.

Yang sudah dapat dikatakan adalah bahwa hujan lokal tetap mungkin terjadi di tengah kondisi El Niño yang kuat, dan BMKG sendiri pada akhir September mengingatkan bahwa kondisi kering yang dominan tidak menghilangkan peluang hujan lokal yang signifikan.

Maka ketika hujan berikutnya turun di Tomohon, mungkin kita bisa melihatnya dengan cara sedikit berbeda.

Bukan hanya sebagai air.

Tetapi sebagai sebuah pesan dari atmosfer:

bahwa alam tidak pernah sesederhana satu angka, satu indeks, atau satu ramalan.

Dan barangkali, setelah semua cerita tentang kekeringan, El Niño, kebakaran dan mata air, inilah yang perlu kita pelajari:

bukan sekadar bagaimana menunggu hujan, tetapi bagaimana memahami hujan ketika ia akhirnya datang.

Sumber dan rujukan

Data dan informasi terkini

BMKG, El Niño Sangat Kuat sedang Terjadi, Musim Hujan 2026/2027 Diprediksi Datang Lebih Lambat, 22 September 2026.

BMKG, Prakiraan Cuaca Indonesia Sepekan Periode 29 September–5 Oktober 2026: Di Tengah Kondisi Kering, Potensi Hujan Signifikan Masih Ada, pembaruan 28 September 2026.

BMKG, Prediksi Curah Hujan Kumulatif Bulanan Deterministik – Oktober 2026.

WMO, WMO El Niño/La Niña Update dan informasi perkembangan ENSO 2026.

NOAA Climate Prediction Center, informasi diagnostik dan prediksi ENSO 2026–2027.

Kajian akademis

Hendon, H. H. (2003). Indonesian Rainfall Variability: Impacts of ENSO and Local Air–Sea Interaction. Journal of Climate, 16, 1775–1790. Kajian ini penting untuk memahami hubungan ENSO dengan variabilitas hujan Indonesia serta mengapa pengaruh ENSO lebih kuat pada musim kering dibandingkan inti musim hujan.

Hidayat, R. & Ando, K. (2014). Variabilitas Curah Hujan Indonesia dan Hubungannya dengan ENSO/IOD: Estimasi Menggunakan Data JRA-25/JCDAS. Agromet, 28(1), 1–8.

Prasetyo, B. & Pusparini, N. Respons Curah Hujan Sulawesi terhadap El Niño Modoki. Jurnal Meteorologi dan Geofisika, 20(1). Kajian ini relevan karena membahas secara khusus respons curah hujan Sulawesi dan keberadaan pola hujan monsunal, ekuatorial, serta lokal.

Riama, N. F. Pengaruh ENSO Terhadap Curah Hujan dan Kelembapan Relatif serta Suhu Permukaan Laut di Sulawesi. Buletin GAW Bariri. Penelitian menggunakan data pengamatan sejumlah stasiun BMKG, termasuk Manado, untuk melihat hubungan ENSO dengan parameter cuaca di Sulawesi.

Minobe, S. et al. Relations between Interannual Variability of Regional-Scale Indonesian Precipitation and Large-Scale Climate Modes during 1960–2007. Journal of Climate. Kajian ini menunjukkan bahwa respons curah hujan Indonesia terhadap El Niño, El Niño Modoki, dan IOD berbeda menurut wilayah dan musim.

Catatan metodologis: tulisan ini tidak menyatakan bahwa hujan yang turun di Tomohon pada 28–29 September 2026 pasti disebabkan oleh konveksi lokal, topografi, atau satu fenomena atmosfer tertentu. Untuk atribusi kejadian spesifik diperlukan data observasi lokal—misalnya data stasiun hujan, radar cuaca, citra satelit, angin, kelembapan dan struktur atmosfer pada waktu kejadian. Yang dapat disimpulkan dari data yang tersedia adalah bahwa hujan lokal memang dapat terjadi di tengah kondisi regional yang dipengaruhi El Niño sangat kuat, dan hal tersebut konsisten dengan penjelasan BMKG serta literatur ilmiah tentang variabilitas hujan Indonesia.

Foto Donny Turang

Donny Turang

Jurnalis Utama bersertifikat Dewan Pers/AJI Indonesia. Menulis cerita yang layak untuk diceritakan.

Komentar