Kampung yang Menunggu — Bagian 4

Edy menemukan sesuatu yang lebih ganjil dari sekadar janji yang tak kunjung ditepati. Nomor proyek dan anggarannya sama, tetapi lokasi pekerjaannya berbeda. Bersama warga, ia mulai menelusuri jejak sebuah jalan yang ternyata bisa berpindah tempat—setidaknya di atas kertas.
Edy dan warga menelusuri dokumen proyek jalan yang mencatat nomor, anggaran, dan lokasi berbeda.
Edy bersama warga menemukan kejanggalan dalam dokumen proyek: nomor dan anggaran tercatat sama, tetapi lokasi pekerjaan berbeda. Gambar hanya ilustrasi yang dibuat berkolaborasi dengan teknologi AI.

Nama di Balik Angka

Ada satu hal yang baru dipahami Edy setelah membaca dokumen itu berulang-ulang:

Angka tidak pernah merasa bersalah.

Angka tidak pernah malu.

Angka tidak pernah harus menjelaskan mengapa sebuah jalan yang masih berlubang bisa disebut selesai.

Yang bisa dipersoalkan hanyalah orang-orang di belakang angka itu.

Pagi-pagi sekali, sebelum matahari benar-benar naik, Edy sudah berada di depan kantor yang disebut dalam pesan anonim malam sebelumnya.

Ia tidak langsung masuk.

Dari seberang jalan ia berdiri beberapa menit, memperhatikan orang-orang yang datang.

Pegawai dengan tas di tangan.

Orang yang membawa map.

Seorang ibu yang menggandeng anak.

Dua laki-laki yang membawa gulungan gambar.

Seorang kontraktor—setidaknya dari penampilannya—yang turun dari mobil sambil menelepon.

Kantor itu terlihat biasa saja.

Temboknya dicat warna krem.

Beberapa pot bunga diletakkan di depan pintu.

Papan nama berdiri di halaman.

Tidak ada yang tampak mencurigakan.

Tidak ada suara orang berteriak.

Tidak ada orang berlari membawa karung uang seperti dalam film-film murahan.

Hanya kantor.

Dan justru itu yang membuat Edy sedikit gugup. Sebab kebanyakan keputusan yang mengubah kehidupan orang tidak dibuat di tempat yang tampak menyeramkan.

Ia dibuat di ruangan ber-AC.

Di atas meja.

Di balik komputer.

Dengan tinta hitam.

Dan tanda tangan.

Edy menarik napas.

Kemudian masuk.

“Cari siapa?”

Seorang petugas di meja depan mengangkat wajah.

“Saya mau melihat dokumen pekerjaan jalan menuju pasar.”

“Dokumen apa?”

“Usulan dan pelaksanaannya.”

Petugas itu menatap Edy beberapa detik.

“Dari siapa?”

“Warga.”

“Warga yang mana?”

Edy hampir tersenyum.

Pertanyaan itu sederhana. Tetapi ia tahu ada sesuatu yang terselip di baliknya.

Ia membuka buku hitam.

“Warga kampung.”

“Namanya?”

“Banyak.”

Petugas itu menghela napas.

“Begini saja. Kalau mau minta dokumen, harus jelas.”

“Baik.”

Edy mengeluarkan secarik kertas.

Di atasnya sudah ia tulis:

Nama kegiatan: Perbaikan Jalan Menuju Pasar.

Lokasi: Kampung.

Tahun: 2021.

Petugas itu membaca. Kemudian menatap Edy.

“Kau dapat informasi ini dari mana?”

Edy tidak langsung menjawab.

“Dari dokumen.”

“Dokumen apa?”

“Dokumen yang menunjukkan pekerjaan itu sudah selesai.”

Kali ini petugas tersebut tidak menjawab.

Ia berdiri.

“Sebentar.”

Ia masuk ke ruangan di belakang.

Pintu ditutup.

Edy menunggu.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Lima belas menit.

Ia melihat jam.

Kemudian menulis sesuatu di buku.

08.17 — permintaan dokumen disampaikan.

Ia menambahkan:

08.32 — masih menunggu.

Tidak lama kemudian petugas tadi keluar.

“Dokumennya tidak di sini.”

“Di mana?”

“Arsip.”

“Bisa saya lihat?”

“Harus ada izin.”

“Dari siapa?”

“Pejabat yang berwenang.”

Edy mengangguk.

“Siapa pejabatnya?”

Petugas itu menyebut sebuah nama.

Edy mencatat.

Ia tidak bertanya lagi.

Ketika hendak keluar, petugas itu memanggil.

“Bung.”

Edy menoleh.

“Kenapa?”

Petugas itu melihat sekeliling. Suaranya diturunkan.

“Kalau mau mencari dokumen itu, jangan hanya cari berdasarkan nama jalannya.”

Edy mengernyit.

“Maksudnya?”

“Cari berdasarkan nomor kegiatannya.”

“Kenapa?”

Petugas itu diam sebentar.

“Karena nama kegiatan bisa berubah.”

Edy menatapnya.

“Nomornya?”

Petugas itu tidak menjawab.

Ia hanya berkata:

“Kalau kau dapat nomor kegiatannya, lebih mudah.”

Kemudian ia kembali ke mejanya.

Edy keluar.

Di halaman kantor, ia berhenti. Kalimat itu terus berputar di kepalanya.

Nama kegiatan bisa berubah.

Ia membuka buku.

Menulis kalimat tersebut.

Kemudian memberi garis bawah dua kali.

Siang harinya, Edy menemui Pak Steven.

Mereka duduk di warung kopi kecil dekat pusat kota.

Pak Steven datang membawa map.

“Kau sudah ke kantor?”

“Sudah.”

“Dapat?”

“Belum.”

Pak Steven tersenyum.

“Berarti kau mulai belajar.”

“Belajar apa?”

“Bahwa mencari dokumen pemerintah tidak sama dengan mencari buku di perpustakaan.”

Edy tertawa.

“Ada yang lebih menarik.”

“Apa?”

“Nama kegiatan bisa berubah.”

Pak Steven berhenti mengaduk kopi.

“Dari siapa kau dengar?”

“Petugas di kantor.”

Pak Steven diam.

Ia membuka map. Mengeluarkan beberapa surat lama.

“Coba lihat ini.”

Edy mengambil satu.

Surat permohonan perbaikan jalan.

Ia membaca.

Kemudian mengambil surat berikutnya.

Berbeda tahun.

Berbeda nomor.

Tetapi lokasi sama.

“Ini yang pertama.”

Pak Steven menunjuk.

“Jalan menuju pasar.”

“Ya.”

“Yang kedua?”

“Peningkatan akses jalan lingkungan.”

“Ketiga?”

“Peningkatan jalan permukiman.”

Edy memandang Pak Steven.

“Lokasinya?”

“Sama.”

“Berarti jalan yang sama?”

Pak Steven mengangguk.

“Sepertinya.”

Edy kembali membaca. Ada sesuatu yang terasa janggal.

“Kalau nama kegiatannya berbeda, bagaimana kita tahu itu pekerjaan yang sama?”

Pak Steven tersenyum tipis.

“Itulah sebabnya saya bilang, kita harus belajar bahasa mereka.”

Edy membalik halaman.

Di sudut surat ada nomor kegiatan. Nomor yang selama ini tidak pernah ia perhatikan.

Ia mengambil pulpen.

Menyalinnya.

“Ini nomor yang tadi dikatakan petugas.”

Pak Steven mendekat.

Mereka saling pandang. Untuk beberapa detik tidak ada yang bicara.

Kemudian Edy berkata:

“Pak.”

“Ya?”

“Kalau nomor ini kita telusuri…”

“Ya?”

“Kita mungkin bisa tahu semuanya.”

Pak Steven mengangguk.

“Atau justru menemukan sesuatu yang membuat kita berharap tidak pernah mencarinya.”

Sore menjelang ketika mereka kembali ke rumah Oma Corry.

Ibu Nona sudah datang.

Om Ventje membawa pisang goreng.

Oma Corry sedang membersihkan meja.

Edy langsung mengeluarkan dokumen.

“Kita punya nomor.”

“Nomor apa?” tanya Ibu Nona.

“Nomor kegiatan.”

Om Ventje mengerutkan kening.

“Nomor bisa memperbaiki jalan?”

“Tidak.”

“Kalau begitu untuk apa?”

Edy tersenyum.

“Untuk mencari tahu siapa yang seharusnya memperbaikinya.”

Mereka mulai menyusun dokumen.

Satu per satu.

Tahun 2019.

Surat-surat lama yang sebelumnya tampak seperti tumpukan kertas tidak berguna, perlahan berubah menjadi semacam peta.

Ada nomor.

Ada tanggal.

Ada nama.

Ada nilai anggaran.

Ada keterangan.

Ada perubahan nama kegiatan.

Dan ada satu hal yang membuat Edy semakin serius.

Nomor kegiatan yang sama muncul pada dua dokumen berbeda.

“Tunggu.”

Ia mengambil dua lembar.

“Ini tahun berbeda.”

Pak Steven mendekat.

“Ya.”

“Nomornya hampir sama.”

“Hampir?”

“Lihat bagian belakang.”

Pak Steven memeriksa.

Kemudian mengambil kaca pembesar kecil dari tasnya.

“Bukan hampir.”

“Apa?”

“Ini nomor yang sama.”

Ruangan mendadak hening.

Ibu Nona berdiri.

“Bagaimana mungkin?”

Edy membaca kedua dokumen itu sekali lagi.

Satu mencatat kegiatan pada satu tahun.

Dokumen lain mencatat kegiatan pada tahun berbeda.

Namun nomor kegiatannya sama.

Om Ventje memecah keheningan.

“Berarti salah ketik?”

“Mungkin.”

“Kalau begitu selesai.”

Edy menatapnya.

“Belum tentu.”

“Kenapa?”

“Karena nilai anggarannya juga sama.”

Om Ventje tidak tertawa lagi.

Ibu Nona duduk perlahan.

“Berapa?”

Edy menyebut angka.

Tidak ada yang bersuara.

Oma Corry memandang mereka.

“Besar?”

Edy mengangguk.

“Cukup besar untuk membuat jalan itu jauh lebih baik dari sekarang.”

Oma Corry menatap jalan di depan rumah.

Kemudian kembali kepada Edy.

“Dan di mana uang itu sekarang?”

Edy menggeleng.

“Belum tahu.”

“Kalau begitu cari.”

Kalimat Oma Corry sederhana. Tetapi kali ini tidak ada seorang pun yang tertawa.

Malam itu mereka membagi tugas.

Pak Steven akan mencari surat-surat lama.

Ibu Nona akan mencari foto kondisi jalan dari tahun-tahun sebelumnya.

Om Ventje akan bertanya kepada beberapa warga yang pernah melihat pekerjaan dilakukan.

Edy akan menelusuri dokumen.

Mereka tidak menyebutnya penyelidikan.

Belum.

Kata itu terasa terlalu besar.

Mereka hanya ingin tahu.

Itu saja.

Setidaknya untuk sementara.

Namun rasa ingin tahu, jika sudah menyentuh uang publik, sering kali tidak mau berhenti pada satu pertanyaan.

Dua hari kemudian, Edy mendapat telepon.

Nomor tidak dikenal.

“Edy?”

“Ya.”

“Jangan tanya siapa saya.”

Edy langsung berdiri dari kursinya.

“Kenapa?”

“Kau masih mencari jalan itu?”

“Ya.”

“Berhenti mencari berdasarkan nama.”

Edy diam.

“Cari laporan pertanggungjawabannya.”

“Di mana?”

“Di kantor.”

“Nomornya saya punya.”

“Bagus.”

“Siapa Anda?”

Tidak ada jawaban.

“Pak?”

Sambungan terputus.

Edy menatap layar ponsel.

Ia menelepon kembali.

Nomor tidak aktif.

Ia menyimpan nomor itu.

Kemudian membuka buku hitam.

Menulis:

Petunjuk baru: Laporan Pertanggungjawaban.

Ia berhenti.

Lalu menambahkan:

Ada orang di dalam yang tahu.

Keesokan harinya Edy kembali ke kantor.

Kali ini ia tidak meminta dokumen kegiatan.

Ia meminta sesuatu yang berbeda.

“Laporan pertanggungjawaban pekerjaan jalan tersebut.”

Petugas di meja depan memandangnya.

“Untuk apa?”

“Untuk memastikan pekerjaan benar-benar selesai.”

“Sudah saya bilang sebelumnya…”

“Saya tahu.”

Edy mengeluarkan kertas.

“Ini nomor kegiatannya.”

Petugas itu membaca.

Wajahnya berubah.

Hanya sedikit.

Tetapi Edy melihat.

“Sebentar.”

Petugas itu masuk ke ruangan belakang.

Kali ini ia lebih lama.

Lima belas menit.

Dua puluh menit.

Kemudian seorang laki-laki keluar.

Usianya sekitar lima puluh tahun.

Kemeja putih.

Celana hitam.

Tidak memakai tanda pengenal.

“Saudara Edy?”

“Ya.”

“Saudara mencari dokumen kegiatan?”

“Ya.”

“Untuk apa?”

“Saya warga.”

“Warga punya kepentingan apa?”

Edy menatapnya.

“Jalan itu dibangun menggunakan uang masyarakat.”

Laki-laki itu tersenyum tipis.

“Semua pembangunan menggunakan uang masyarakat.”

“Karena itu kami ingin tahu.”

“Dokumennya bukan untuk dibaca sembarang orang.”

“Saya tidak meminta yang bukan hak saya.”

“Lalu?”

“Saya meminta informasi.”

Laki-laki itu memandang Edy beberapa saat.

Kemudian berkata:

“Pekerjaan itu sudah selesai.”

Edy mengangguk.

“Itu yang ingin kami pastikan.”

“Sudah ada laporan.”

“Boleh kami lihat?”

“Tidak bisa.”

“Kenapa?”

“Prosedurnya begitu.”

Edy membuka buku.

Menulis.

Laki-laki itu memperhatikan.

“Saudara mencatat?”

“Iya.”

“Untuk apa?”

“Supaya tidak lupa.”

Laki-laki itu tersenyum.

“Saudara terlalu serius.”

Edy menutup buku.

“Mungkin.”

Ia berdiri.

“Terima kasih.”

Saat hendak keluar, laki-laki itu berkata:

“Kalau saya jadi saudara, saya tidak akan terlalu jauh mencampuri urusan seperti ini.”

Edy berhenti.

“Kenapa?”

“Karena urusan pemerintahan itu rumit.”

Edy mengangguk.

“Justru karena rumit, kami ingin memahaminya.”

Ia keluar.

Di luar kantor, ia baru sadar telapak tangannya berkeringat.

Malamnya, Edy menceritakan semuanya kepada Oma Corry.

“Dia bilang jangan terlalu jauh.”

Oma Corry diam.

“Menurut Oma?”

“Dia takut.”

“Takut kepada saya?”

“Bukan.”

“Lalu?”

“Takut kepada apa yang mungkin kau temukan.”

Edy terdiam.

Oma Corry menuang kopi.

“Sekarang kau mengerti kenapa orang kampung biasanya berhenti bertanya?”

Edy mengangguk.

“Karena capek.”

“Bukan cuma itu.”

“Takut?”

Oma mengangguk.

“Orang kecil sering kali bukan tidak berani.”

Ia menyerahkan kopi kepada Edy.

“Mereka hanya tahu bahwa mereka tidak punya banyak pilihan.”

Edy memandang gelas.

“Kita punya pilihan?”

Oma tersenyum.

“Sekarang kau sudah punya buku.”

Edy tertawa kecil.

“Buku bisa melawan orang kantor?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Buku bisa membuat kita tidak mudah dibohongi.”

Edy diam.

Oma melanjutkan:

“Dan kadang-kadang, itu sudah cukup untuk membuat orang yang biasa berbohong menjadi gelisah.”

Seminggu berlalu.

Belum ada dokumen laporan pertanggungjawaban yang mereka dapatkan.

Namun mereka menemukan sesuatu yang lain.

Ibu Nona membawa foto.

Foto lama.

Foto yang ia ambil menggunakan ponsel ketika jalan itu pernah diperbaiki.

“Ini,” katanya.

Edy melihat.

Jalan yang sama. Tetapi ada sesuatu yang aneh.

Pekerjaan yang terlihat dalam foto hanya sekitar seratus meter. Padahal dokumen yang mereka pegang mencantumkan volume pekerjaan jauh lebih panjang.

“Siapa yang mengambil foto ini?” tanya Edy.

“Saya.”

“Tahun?”

“2021.”

Edy melihat tanggal di foto.

Cocok.

“Dan setelah ini?”

“Tidak ada lagi.”

“Tidak ada pekerjaan berikutnya?”

Ibu Nona menggeleng.

“Tidak pernah.”

Pak Steven mengambil dokumen.

Membandingkan.

“Kalau laporan menyatakan selesai…”

Edy menyelesaikan kalimatnya.

“Seharusnya seluruh volume pekerjaan selesai.”

Mereka saling pandang.

Untuk pertama kalinya, mereka tidak lagi hanya memiliki perasaan bahwa ada sesuatu yang salah.

Mereka mulai memiliki bukti yang bisa diperiksa.

Namun bukti itu belum cukup.

Mereka membutuhkan satu hal lagi.

Laporan pertanggungjawaban.

Malam berikutnya, sebuah amplop kembali muncul.

Tidak ada nama pengirim.

Tidak ada alamat.

Hanya diselipkan di bawah pintu rumah Oma Corry.

Edy membukanya.

Di dalamnya ada tiga lembar fotokopi.

Lembar pertama adalah laporan kegiatan.

Lembar kedua adalah berita acara penyelesaian.

Lembar ketiga adalah foto.

Edy melihat foto itu.

Kemudian wajahnya berubah.

“Kenapa?” tanya Pak Steven.

Edy tidak menjawab.

Ia menyerahkan foto itu.

Pak Steven melihat.

Ibu Nona mendekat.

Om Ventje ikut melihat.

Foto itu memperlihatkan sebuah jalan yang baru selesai dikerjakan.

Aspalnya tampak mulus.

Ada beberapa orang berdiri di sana.

Ada papan proyek.

Ada sebuah kendaraan.

Dan di sudut kanan foto, tampak seseorang yang mereka kenal.

Judas.

Ibu Nona menutup mulut.

“Dia?”

Pak Steven mengangguk pelan.

“Tapi…”

“Apa?”

Pak Steven menunjuk latar belakang.

“Ini bukan jalan kita.”

Mereka semua terdiam.

Edy mengambil dokumen pertama.

Membaca lokasi.

Membaca nomor kegiatan.

Kemudian melihat foto lagi.

Nomornya sama.

Nilai anggarannya sama.

Statusnya selesai.

Tetapi jalan dalam foto itu bukan jalan menuju pasar.

Edy berdiri.

Kursinya bergeser keras.

“Jadi…”

Ia tidak menyelesaikan kalimat.

Oma Corry mengambil foto itu.

Ia menatapnya lama.

Kemudian berkata:

“Sekarang kita tahu satu hal.”

“Apa, Oma?”

“Jalan itu memang selesai.”

Edy menatapnya.

“Di mana?”

Oma Corry mengangkat foto.

“Di tempat lain.”

Ruangan kembali sunyi.

Di luar, suara motor melewati jalan kampung.

Pelan.

Kemudian hilang di tikungan.

Edy mengambil buku hitam.

Untuk pertama kalinya, ia tidak menulis nama jalan.

Ia menulis nomor kegiatan.

Kemudian di bawahnya:

ANGGARAN SAMA.

NOMOR SAMA.

LAPORAN SAMA.

LOKASI BERBEDA.

Ia berhenti.

Kemudian menambahkan satu kalimat:

SIAPA YANG MEMINDAHKAN JALAN DI ATAS KERTAS?

Belum selesai menulis, ponselnya bergetar.

Satu pesan masuk.

Nomor yang sama.

Kali ini hanya ada satu kalimat:

Kalau kau sudah melihat fotonya, besok jangan datang sendirian.

Edy menatap layar.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

Ia menunjukkan pesan itu kepada Oma.

Oma tidak tampak terkejut.

Ia justru berdiri dan mengambil kunci rumah.

“Besok kita datang bersama.”

“Ke mana?”

Oma menatapnya.

“Ke tempat jalan itu benar-benar selesai.”

Edy mengernyit.

“Untuk apa?”

Oma Corry memasukkan kunci ke dalam tas.

“Untuk melihat siapa yang menikmati jalan yang dibayar oleh kampung kita.”

Edy tidak berkata apa-apa.

Malam itu Buku Utang Janji tetap terbuka di atas meja.

Di halaman yang sama, di bawah semua nama dan angka, ada satu ruang kosong.

Ruang untuk satu nama yang belum mereka ketahui.

Nama orang yang memindahkan kenyataan.

Dan untuk pertama kalinya, Edy sadar:

Mereka mungkin tidak lagi sedang menagih janji.

Mereka sedang mendekati sesuatu yang jauh lebih besar.

Sesuatu yang selama ini bersembunyi di balik angka, tanda tangan, foto, dan kata selesai. (Bersambung)

Sebelumnya:

Foto Donny Turang
PENULIS

Donny Turang

Jurnalis Utama bersertifikat Dewan Pers/AJI Indonesia. Menulis cerita yang layak untuk diceritakan.

Komentar