Pasar dan Dompet yang Sepi
Di Pasar Beriman Wilken Tomohon, orang tetap datang meski belanja berkurang. Di balik keramaian, pembeli dan pedagang sama-sama sedang menghitung.
![]() |
| Suasana Pasar Beriman Wilken Tomohon beberapa waktu lalu, saat aktivitas perdagangan meningkat menjelang hari perayaan agama. (foto: dok dorang) |
Di Pasar Beriman Wilken Tomohon, keramaian tidak selalu berarti keuntungan. Kadang ia hanya berarti banyak orang datang untuk melihat harga.
Bunyinya khas. Sepeda motor menggeram pelan. Plastik bergesekan. Dari sela-sela lapak, terdengar suara ibu-ibu menawar.
"Kase kurang sadiki, Om."
Pasar Beriman Wilken—yang juga dikenal sebagai Pasar Ekstrem—kadang terlihat ramai, kadang lengang. Payung-payung warna-warni tetap berdiri berdesakan. Ada yang kuning-biru-merah, ada yang merah muda yang mulai pudar dimakan matahari, ada pula yang hijau dengan jahitan tambalan di tepinya.
Di bawah payung-payung itu, sayur ditumpuk, daging digelar, bumbu dapur ditata, dan orang-orang berjalan sambil menghitung.
Menjelang hari raya, pemandangan seperti ini bukan sesuatu yang baru. Tomohon punya kebiasaan lama: orang pulang ke rumah membawa sesuatu untuk keluarga. Sekalipun keadaan ekonomi sedang tidak mudah.
Di lapak sayur, kol ditata rapi. Batang bawang diikat. Rica merah menyala, cantik sekaligus galak.
Dulu, orang mungkin mengambilnya tanpa banyak berpikir. Sekarang, tangan berhenti lebih dulu. Memegang. Menimbang. Bertanya.
"Rica berapa satu liter?"
"Kol ini berapa?"
"Batang bawang berapa?"
Lalu menghitung lagi.
Batang bawang dan berbagai bumbu dapur yang nyaris tak bisa dipisahkan dari masakan Minahasa ikut masuk dalam hitungan. Rica cukup sedikit. Kol tidak perlu sebanyak biasanya. Batang bawang tetap dibeli, tetapi tidak lagi sebanyak yang direncanakan.
Belanja tidak berhenti. Ia hanya mengecil.
Dekat di Kebun, Jauh di Dompet
Ada ironi yang terasa cukup pedas di sini.
Tomohon dikelilingi kebun. Hasil bumi tumbuh tidak terlalu jauh dari tempat ia dijual. Tetapi ketika sampai di pasar, kedekatan itu tidak otomatis membuat harga terasa dekat dengan kemampuan pembeli.
Begitulah hasil bumi bekerja.
Dekat di tanah, bisa terasa jauh di dompet.
Ada satu cara sederhana membaca keadaan ekonomi sebuah kota: datanglah ke pasar dan perhatikan tangan orang. Tangan yang membawa banyak kantong belanja menunjukkan ruang belanja yang lebih longgar.
Sebaliknya, tangan yang hanya membawa satu kantong kecil dengan isi serba secukupnya menunjukkan bahwa sesuatu sedang dihitung diam-diam.
Di pasar, hitungan itu tidak muncul dalam tabel. Ia muncul dalam gerakan tangan.
Pedagang merasakannya lebih dulu.
Seorang pedagang mengatakan pasar belakangan ini terasa sepi dari pembeli. Orang tetap datang, tetapi belanjaannya berkurang. Dagangan tetap harus dijajakan, sementara modal berputar lebih lambat.
Di situlah sebuah ironi sederhana muncul: pasar bisa ramai, tetapi laba tetap sepi.
Itu bukan paradoks.
Itu hanya matematika yang tidak selalu berpihak kepada pedagang.
Di sisi lain, pembeli menghadapi hitungan yang sama dari arah berbeda.
Seorang ibu mengaku biasanya berbelanja lebih banyak. Kini semuanya harus diatur. Mana yang perlu dibeli, mana yang bisa dikurangi, dan mana yang bisa ditunda.
Kata "dikurangi" tampaknya menjadi semakin akrab di pasar. Lebih sering terdengar daripada kata "murah".
Hari Raya Tidak Menunggu Dompet
Yang menarik, hari raya tidak menunggu dompet siap.
Ia datang sesuai waktunya.
Orang tetap harus menyiapkan meja makan, menerima tamu, memasak untuk keluarga, dan membawa sesuatu ketika pulang.
Karena itu pasar tetap memiliki denyutnya.
Di salah satu sudut, seorang anak perempuan bertopi merah muda berjalan pelan di tengah kerumunan sambil memegang seikat bunga. Warna ungu dan merah mudanya terlihat mencolok di antara lorong yang sesak, atap seng, payung-payung pedagang, dan orang-orang yang sibuk dengan urusannya masing-masing.
Ia mungkin tidak tahu harga kol.
Tidak tahu berapa satu liter rica.
Tidak tahu bahwa orang dewasa di sekitarnya sedang menghitung pengeluaran.
Ia hanya tahu bahwa hari raya berarti bunga.
Dan bunga berarti ada sesuatu yang dirayakan.
Barangkali di situlah daya tahan sebuah masyarakat terlihat.
Bukan karena semuanya murah.
Bukan pula karena keadaan selalu baik.
Tetapi karena rasa syukur sering kali tetap mencari jalan, bahkan ketika dompet sedang meminta lebih banyak pertimbangan.
Di Balik Payung
Saya tidak hendak membuat kesimpulan besar tentang inflasi, rantai pasok, atau keadaan ekonomi daerah. Itu wilayah angka, statistik, dan para ahli.
Yang terlihat dari pasar jauh lebih sederhana.
Harga kebutuhan dapur terasa di tangan pembeli.
Daya beli terasa dari jumlah barang yang akhirnya masuk ke kantong.
Pedagang berada di tengah-tengahnya.
Mereka tidak bisa menurunkan harga sesuka hati karena modal juga harus kembali. Tetapi menaikkan harga terlalu tinggi berarti berhadapan dengan pembeli yang bisa memilih lapak sebelah.
Maka semua pihak berhitung.
Petani menghitung hasil.
Pedagang menghitung modal.
Pembeli menghitung isi dompet.
Dan pasar menjadi tempat ketiga hitungan itu bertemu.
Pertanyaannya kemudian sederhana, tetapi tidak ringan:
siapa yang benar-benar melihat hitungan itu?
Pemerintah tentu memiliki data harga dan berbagai indikator ekonomi. Tetapi bagaimana data itu terasa di jalan-jalan pasar? Bagaimana kebijakan diterjemahkan di hadapan ibu-ibu yang masih menawar dengan kalimat:
"Kase kurang akang kwa sadiki."
Di sanalah angka-angka ekonomi mendapatkan wajahnya.
Menjelang Siang
Menjelang siang, payung-payung itu masih berdiri.
Sepeda motor tetap terparkir di atas paving block yang mulai berlumut. Pedagang masih menawarkan barang. Pembeli masih berjalan dari satu lapak ke lapak lain.
Ada yang menawar.
Ada yang akhirnya membeli.
Ada pula yang hanya melihat, lalu berjalan pergi.
Pasar Beriman Wilken tidak akan serta-merta sepi. Ia sudah menjadi bagian dari denyut kehidupan Tomohon.
Tetapi di tengah keramaian itu ada bunyi lain yang lebih halus.
Bukan suara mesin.
Bukan suara pedagang.
Bukan pula suara orang menawar.
Itu bunyi orang menghitung dalam hati.
Berapa uang yang ada.
Berapa kebutuhan yang harus dibawa pulang.
Dan berapa banyak yang harus ditinggalkan di pasar.
Pelan, hampir tidak terdengar.
Tetapi ada di mana-mana.
Pasar mungkin tetap ramai. Namun di balik payung-payung warna-warni itu, banyak dompet sedang belajar bagaimana bertahan.

Komentar
Posting Komentar