Seandainya Waktu Bisa Diputar Mundur

Lahir awal 1970-an. Tahun 1985 adalah bagian dari masa muda yang pernah saya jalani. Kini, dengan bantuan AI, saya mencoba membayangkan kembali wajah dan suasana masa itu—bukan sebagai arsip, melainkan sebagai nostalgia yang tidak pernah benar-benar terjadi.

Ilustrasi AI, seorang pria berkacamata dan berjaket denim duduk santai di lantai dengan latar belakang ruangan bernuansa tahun 1980-an, lengkap dengan pemutar kaset pita tua.
Rekayasa gambar menggunakan teknologi AI yang membayangkan gambar pria pada 1985. Bukan foto dokumentasi asli, melainkan eksperimen visual tentang wajah, gaya, dan suasana masa lalu.

Saya lahir pada awal 1970-an. Jadi, tahun 1985 bukanlah masa yang sepenuhnya asing bagi saya. Saat itu saya masih muda—cukup muda untuk menikmati zaman tanpa internet, tanpa media sosial, dan tanpa ponsel yang selalu menempel di tangan.

Foto yang Anda lihat di atas, tentu saja, bukan foto asli saya pada 1985.

Foto itu adalah hasil rekayasa/generasi gambar menggunakan teknologi AI, berdasarkan foto saya sekarang. AI mencoba membayangkan bagaimana kira-kira penampilan saya pada masa itu: rambut khas 1980-an, jaket denim, kaus bergambar, kacamata, pemutar kaset pita tua, warna film yang sedikit pudar.

Jadi, foto ini bukan bukti bahwa saya benar-benar difoto pada 1985. Itu bagian dari permainan visual yang dibuat AI.

Tetapi menarik juga membayangkan:

Bagaimana wajah saya kalau waktu bisa diputar mundur?

Tahun 1985 adalah zaman ketika sebuah foto masih punya kesabaran.

Kita tidak mengambil 36 foto untuk memilih satu yang paling bagus. Satu jepretan bisa menjadi satu-satunya kesempatan.

Klik.

Selesai.

Kalau hasilnya mata terpejam, ya sudah. Kalau rambut berantakan, ya disimpan juga. Kalau ekspresi wajah aneh, mungkin baru bertahun-tahun kemudian kita tertawa melihatnya.

Tidak ada tombol delete.

Tidak ada filter.

Tidak ada kesempatan memperbaiki wajah sebelum foto dipamerkan kepada dunia.

Dan mungkin justru karena itulah foto-foto lama terasa lebih manusiawi.

Saya lahir pada awal 1970-an, sehingga ketika dunia memasuki 1985, saya sedang berada pada usia ketika banyak hal terasa baru dan menarik. Musik, pakaian, teknologi, pergaulan, dan mimpi tentang masa depan.

Kita belum tahu bahwa benda-benda yang kita anggap canggih saat itu suatu hari akan menjadi barang nostalgia.

Kita juga belum tahu bahwa rambut yang kita banggakan akan suatu hari memutih.

Bahwa tubuh akan berubah.

Bahwa orang-orang yang selalu ada di sekitar kita tidak semuanya akan tetap tinggal.

Dan bahwa suatu hari kita akan melihat kembali masa muda bukan karena benar-benar bisa kembali ke sana, tetapi hanya melalui ingatan, cerita, dan foto.

Ironisnya, sekarang AI bisa melakukan sesuatu yang dulu mustahil.

Ia bisa mengambil wajah saya hari ini, lalu berkata:

“Mari kita bayangkan Anda pada 1985.”

Hasilnya memang bukan kenangan.

Tetapi ia berhasil memunculkan sesuatu yang lebih sulit dibuat oleh teknologi: perasaan sedang menengok masa lalu.

Jadi, kalau foto ini terlihat seperti dokumentasi lama, jangan buru-buru percaya.

Ini bukan arsip. Ini bukan foto asli tahun 1985. Ini adalah rekayasa AI—sebuah nostalgia yang tidak pernah benar-benar terjadi.

Tapi mungkin begitulah cara kita berdamai dengan waktu.

Kita tahu masa lalu tidak bisa dikunjungi.

Maka kita membuat gambarnya.

Lalu duduk sebentar di dalamnya.

Seandainya Anda bisa kembali ke satu hari ketika masih muda, hari apa yang ingin Anda datangi lagi?

Foto Donny Turang
PENULIS

Donny Turang

Jurnalis Utama bersertifikat Dewan Pers/AJI Indonesia. Menulis cerita yang layak untuk diceritakan.

Komentar